|
MASALAH
YANG KERAP DIJUMPAI SAAT MENYUSUI
Beragam
masalah dapat muncul saat ibu menyusui. Namun dengan dukungan keluarga,
yakinlah masalah tersebut dapat teratasi.
1.
STRES
Ibu
yang kurang percaya diri saat menyusui biasanya akan dihantui bayangan
stres. Apalagi bila yang dihadapi adalah anak pertama, dimana masih
ada rasa "takut" untuk memegang, menggendong, maupun menyusui.
Kondisi ini semakin bertambah buruk bila lingkungan keluarga terdekat
seperti suami, orang tua, mertua atau saudara yang tinggal serumah
tidak memberi dukungan. Padahal bayi yang rewel di usia 2 minggu,
4 minggu, 3 bulan dan 6 bulan adalah wajar karena sedang memasuki
masa pertumbuhan yang amat pesat.
Cara
mengatasi:
Dukungan
dari suami dan keluarga untuk menenangkan atau bahkan membantu perawatan
sederhana, seperti mengganti popok, menidurkan, dan sebagainya akan
sangat bermanfaat. Bantuan sekecil apa pun semisal mengangkatkan
bayi ke pangkuan ibu saat akan disusui pasti menumbuhkan rasa percaya
diri ibu. Berikutnya, rasa percaya diri ini berpengaruh langsung
pada kelancaran ASI. Bila ibu percaya diri, produksi ASI-nya dijamin
lebih lancar dan berlimpah.
2.
BINGUNG PUTING
Bayi
yang langsung mengisap susu dari botol, umumnya akan mengalami bingung
puting. Sebab prinsip kerja mengisap botol sangat berbeda dengan
mengisap payudara ibu. Saat mengisap susu botol, bayi tidak perlu
menggerakkan lidahnya karena dotnya sudah berlubang. Sedangkan saat
menyusu pada payudara ibu, bayi harus menggerakkan lidahnya untuk
menekan areola sambil melakukan gerakan mengisap. Jadi, memang butuh
keterampilan tersendiri untuk mengisap ASI langsung dari payudara
ibu.
Cara
mengatasi:
Untuk
mengatasinya ibu harus cermat mengamati tanda-tanda bayi yang mulai
lapar atau haus. Antara lain bibirnya bergerak-gerak ke sana kemari
pertanda gelisah atau langsung menangis. Bila tanda ini mulai terlihat,
ibu dapat segera menyusui bayinya. Jangan panik/cemas bila ia terus
menangis dan belum mau mengisap karena beberapa saat kemudian pastilah
ia akan mencobanya lagi terdorong oleh rasa lapar dan haus. Bila
bayi sudah mulai menyusu lagi, hindari pemberian susu melalui botol
dan dot.
3.
ASI SEDIKIT
Pada
dasarnya produksi ASI sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam
hal ini refleks oksitosin yang membuat ASI lancar mengalir dari
"gudang susu" yang terdapat pada areola. Refleks ini bekerja
sebelum dan saat menyusui. Isapan bayi akan menghasilkan rangsangan
sensorik dari puting yang selanjutnya menghasilkan hormon oksitosin
dalam darah. Pada saat yang sama terjadi pula rangsang sensorik
dari puting yang menghasilkan hormon prolaktin dalam darah. Prolaktin
inilah yang bertugas memberi perintah langsung kepada "pabrik
susu" untuk kembali memproduksi ASI.
Cara
mengatasi:
ASI
akan berkurang bila tidak langsung diisap atau diperah. Jika payudara
tetap penuh akan terbentuk PIF (Prolactin Inhibiting Factor),
yakni zat yang menghentikan pembentukan ASI. Jadi, semakin sering
diisap, maka produksi ASI pun akan semakin berlimpah.
4.
PUTING LECET
Penyebabnya
adalah perlekatan yang salah. Terutama bila areola tidak seluruhnya
masuk ke dalam mulut bayi tapi hanya bagian putingnya. Akibatnya,
puting terasa nyeri dan bila terus dipaksakan untuk menyusui akan
lecet.
Cara
mengatasi:
Oleskan
ASI di puting dan sekitarnya sesaat sebelum menyusui. Efeknya, puting
menjadi tidak kaku sekaligus berfungsi sebagai antibiotik meski
yang paling penting tentunya memperbaiki perlekatan saat menyusui.
5.
MASTITIS/PAYUDARA MERADANG
Bila
ASI tak berhasil diisap dan tetap tertahan dalam payudara, maka
payudara akan meradang. Untuk menguranginya, mau tidak mau ASI harus
dikeluarkan, baik diisap langsung menggunakan alat khusus atau diperah
dengan tangan. Umumnya, bayi tidak mau mengisap payudara yang tengah
mengalami peradangan karena putingnya kaku.
Cara
mengatasi:
Sebagai
langkah awal, cobalah mengompres dengan air hangat, kemudian lakukan
pemijatan. Caranya, topang bagian bawah payudara dengan satu telapak
tangan. Gerakkan jari tangan ke arah puting sambil sesekali lakukan
gerakan memutar. Sedangkan untuk memerah, letakkan posisi ibu jari
dan telunjuk seperti jarum jam di angka 3 dan 9 (lihat hlm. 14-15),
kemudian tekan tegak lurus ke arah dada lalu tarik ke arah luar
sambil menekan puting. Lakukan gerakan ini secara berulang-ulang
dan sesekali pindahkan jari pada posisi angka 6 dan 12 atau 5 dan
11.
6.
PENGGUNAAN ALAT BANTU
Pada
bayi-bayi prematur, refleks isap umumnya belum baik. Refleks ini
baru muncul/berfungsi baik di usia 3234 minggu.
Cara
mengatasi:
Untuk
merangsang kemampuannya mengisap, bantu dengan penggunaan alat khusus.
Alat ini akan menampung ASI yang sudah diperas untuk kemudian dialirkan
melalui selang halus yang ditempelkan pada payudara ibu. Dengan
cara ini bayi akan terangsang untuk mengisap karena ada tetesan
ASI melalui selang tadi. Alat ini kerap dimanfaatkan ibu yang mengadopsi
anak. Dengan alat ini diharapkan bayi akan terangsang mengisap payudara
ibu. Selanjutnya, lewat isapan tersebut produksi oksitosin dan prolaktin
akan terpacu sehingga ibu benar-benar mengeluarkan ASI. Ibu dengan
kondisi semacam ini umumnya akan berhasil memproduksi ASI dalam
jangka waktu 1-6 minggu.
Utami
Sri Rahayu. Foto: Dok. NAKITA
Konsultan
ahli:
Dr.
Mulya Rahma Karyanti, SpA.,
Fasilitator Laktasi pada Sentral Laktasi Indonesia
|