|
ASI
MAKSIMAL BERKAT
POSISI TEPAT
Agar
nyaman, sesuaikan posisi menyusui dengan kondisi ibu.
Banyak
sedikitnya ASI ternyata berhubungan langsung dengan posisi ibu saat
menyusui. Posisi yang tepat akan mendorong keluarnya ASI secara
maksimal. Apa pun teknik bersalinnya, ibu dapat menyusui bayi sesegera
mungkin. Begitu pula jika melahirkan bayi kembar.
*
Persalinan normal/spontan
Ibu
yang melahirkan secara spontan bisa lebih leluasa dalam memilih
posisi menyusui: sambil duduk atau berbaring menyamping pun tak
masalah. Jika posisi duduk yang dipilih, gunakan kursi yang nyaman.
Upayakan telapak kaki menginjak lantai. Gunakan dingklik (bangku
kecil) sebagai pengganjal bila posisi kaki agak menggantung.
*
Persalinan sesar
Football
position adalah posisi menyusui yang disarankan untuk ibu yang melahirkan
melalui persalinan sesar. Pada posisi ini, tubuh bayi digendong
dengan salah satu tangan ibu. Upayakan letak kepala bayi berada
tepat di bawah payudara dan membentuk garis lurus dengan badan bayi.
Posisi ini aman karena bagian bawah perut ibu yang masih nyeri akibat
operasi dapat terlindungi. Posisi ini pun merupakan posisi yang
paling nyaman bagi ibu maupun bayinya.
*
Bayi kembar
Sama
dengan ibu yang melahirkan melalui persalinan sesar, football position
juga tepat untuk bayi kembar. Caranya: kedua tangan ibu memeluk
masing-masing satu kepala bayi, seperti memegang bola. Letakkan
tepat di bawah payudara ibu. Posisi kaki bayi boleh dibiarkan menjuntai
keluar. Untuk memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu
bidang datar yang memiliki ketinggian kurang lebih sepinggang ibu.
Dengan demikian ibu cukup menopang kepala kedua bayi kembarnya saja.
Cara lain adalah dengan meletakkan bantal di atas pangkuan ibu.
(lihat gambar)
JIKA
ASI BERLIMPAH
Untuk
ibu yang beruntung memiliki ASI berlimpah dan alirannya deras, ada
posisi khusus untuk menghindari agar bayi tidak tersedak. Caranya:
ibu tidur telentang lurus sementara bayi diletakkan di atas perut
ibu dalam posisi berbaring lurus dengan kepala menghadap ke payudara.
(lihat gambar)
PERLEKATAN
SAAT MENYUSUI
Selain
posisi, hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah perlekatan
antara bayi dan ibu saat menyusui. Perlekatan ini penting karena
menentukan sedikit-banyaknya ASI yang keluar. Kalau sekadar menempel
ke payudara ibu, maka hanya puting yang diisap oleh bayi. Akibatnya
meski sudah menyedot sekuat tenaga, ASI hanya keluar sedikit mengingat
"gudang" ASI tepat berada di bawah areola. Ibu akan merasa
nyeri dan puting pun biasanya lecet.
Berikut
tahapan untuk mendapat perlekatan yang baik:
-
Temukan posisi senyaman mungkin
Bila
ingin duduk, pilihlah kursi yang tidak terlalu tinggi. Upayakan
telapak kaki menjejak lantai dengan nyaman. Bila ingin berbaring,
perhatikan ketinggian posisi bayi. Usahakan bayi yang mendekatkan
diri ke ibu dan bukan sebaliknya. Ini bermanfaat supaya ibu merasa
nyaman dan tidak cepat lelah. Bila perlu, manfaatkan bantal sebagai
penyangga tubuh bayi.
-
Perhatikan posisi bayi
* Idealnya,
kepala dan tubuh bayi haruslah lurus dan sejajar.
* Posisi
payudara lebih tinggi dari kepala bayi. Jangan sampai kepala bayi
lebih tinggi karena bayi pasti sulit menekuk kepalanya sedemikian
rupa.
* Dagu
bayi harus menempel pada payudara ibu.
* Usahakan
supaya dada bayi menempel ke dada ibu atau perutnya menempel ke
perut ibu.
* Upayakan
semua bagian areola masuk ke dalam mulut bayi. Jika ibu memiliki
areola yang besar, utamakan bagian bawahnya masuk lebih banyak dibanding
bagian atas. Sekilas bibir bayi tampak dower bila perlekatannya
baik dan akan terdengar suara bayi menelan susu (lihat gambar).
Sebaliknya, perlekatan yang salah membuat ASI tidak keluar maksimal.
* Arahkan
puting dan areola ke langit-langit bayi. Gunakan ibu jari dan jari
telunjuk seperti posisi menggunting. Setelah areola masuk seluruhnya
ke mulut bayi, jari tangan boleh dilepas.
* Jangan
khawatir bayi tak dapat bernapas hanya karena mengisap ASI. Karena
kalau tidak bisa bernapas, otomatis bayi akan melepaskan mulutnya
dari payudara si ibu kemudian mencari mekanisme senyaman mungkin.
-
Lamanya waktu menyusui
Tak
perlu khawatir produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi sebab
dengan kuasa Tuhan, kapasitas payudara ibu sudah disesuaikan dengan
kebutuhan. Hanya saja, lamanya waktu menyusui berbeda pada setiap
bayi, bervariasi antara 15-30 menit. Setelah kenyang, otomatis bayi
akan melepaskan isapannya dari payudara ibu. Biarkan saja bayi tertidur
meski baru mengisap ASI dari satu payudara. Saat minta disusui kembali,
lanjutkan dengan payudara yang satunya. Jadi, jangan buru-buru atau
memaksa bayi melepaskan isapannya dari satu payudara hanya agar
ia berganti dengan payudara lainnya.
Utami
Sri Rahayu. Ilustrasi. Dok. NAKITA
Konsultan
ahli:
Dr.
Mulya Rahma Karyanti, SpA.,
Fasilitator Laktasi pada Sentral Laktasi Indonesia
|