|
PEMBERIAN
ASI PERTAMA
"Aku
pasti bisa!" Itulah yang harus diyakini ibu saat akan menyusui
bayinya.
Proses
menyusui harus sudah dimulai sejak bayi keluar dari rahim ibu. Dengan
begitu, menit-menit pertama setelah persalinan merupakan momen yang
sangat menentukan. Begitu pula hari-hari selama ibu dirawat untuk
pemulihan. Apa saja yang mesti dilakukan dan diperhatikan? Inilah
beberapa di antaranya:
*
BERI SENTUHAN KULIT KE KULIT
Skin
to skin contact dengan ibu begitu bayi lahir (sebelum dibersihkan)
merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Ini penting untuk
mengenalkan keberadaan ibu pada bayinya. Selain itu, sentuhan kulit
ke kulit merangsang refleks bayi untuk mencari puting dan langsung
menyusu pada ibunya. Tindakan ini juga merangsang keluarnya hormon
oksitosin yang berguna mengurangi risiko perdarahan pada ibu sesudah
bersalin. Oksitosin juga turut berperan merangsang keluarnya kolostrum,
yakni zat penting dalam ASI yang kaya protein, antiinfeksi, dan
pembersih usus bayi. Kolostrum biasanya keluar sejak hari pertama
hingga ketujuh seusai melahirkan.
Khusus
untuk bayi yang dilahirkan secara sesar, sentuhan kulit ke kulit
bisa dilakukan dengan cara mendekap bayi di dekat pipi ibu. Dua
jam seusai operasi, bayi bisa langsung disusui.
Sedangkan
untuk bayi dengan berat lahir rendah atau bayi prematur, sentuhan
kulit ke kulit masih bisa dilakukan dengan mendekap bayi di perut.
Konsultasikan hal ini sebelumnya dengan dokter. Sentuhan kulit ke
kulit dan menyusui sesegera mungkin bisa semakin menumbuhsuburkan
rasa cinta ibu pada bayinya.
*
JANGAN BERI CAIRAN LAIN
Beberapa
ibu umumnya tidak langsung bisa menyusui bayinya setelah melahirkan.
Mereka membutuhkan waktu puluhan menit hingga satu jam sampai ASI-nya
keluar. Pada kondisi ini, banyak ibu yang memberi bayinya air putih
atau minuman lain, apalagi jika bayi terlihat sangat kehausan. Ini
sebaiknya jangan dilakukan karena bayi baru lahir membawa cukup
cairan dalam tubuhnya. Bayi mampu bertahan meski tidak diberi cairan
sedikit pun selama 4-6 jam pertama kehidupannya.
Usahakan
untuk tetap bersikap relaks, tenang, dan optimis hingga ASI bisa
keluar dengan lancar. Kerugian pemberian cairan lain selain ASI
adalah bayi jadi enggan mengisap ASI, mengakibatkan diare karena
cairan itu mungkin tercemar, alergi, ataupun mengalami bingung puting.
Pemberian ASI pertama sesegera mungkin bertujuan untuk mengajari/membiasakan
bayi mengisap ASI. Jadi, bukan untuk memberinya asupan makanan awal.
*
UTAMAKAN RAWAT GABUNG
Rawat
gabung merupakan pilihan tepat bagi ibu yang akan menyusui bayinya.
Dengan cara itu, ibu bisa merawat dan memberi ASI kapan pun si kecil
membutuhkan. Ada dua alternatif, ibu dan bayi memiliki ranjang terpisah,
atau keduanya bersama dalam satu ranjang. Pilihan terakhir dilakukan
jika ibu tidak sedang mengidap penyakit parah. Dari segi biaya,
rawat gabung jelas lebih hemat sehingga lebih menguntungkan. Mintalah
metode rawat gabung ini pada pihak rumah sakit atau klinik bersalin.
*
PELAJARI CARA MENYUSUI YANG BENAR
Bagaimana
teknik dan posisi menyusui yang benar bisa ditanyakan pada perawat,
dokter, maupun pendamping persalinan. Ibu bisa berbaring sembari
merangkul bayi atau meletakkan bantal dan selimut sebagai penopang
kepala. Posisikan puting dan areola dengan benar. Pemilihan posisi
bisa memengaruhi lancarnya ASI. Jangan khawatir bila merasakan demam
ringan. Demam ASI ini akan menghilang beberapa jam setelah melahirkan.
Saiful
Imam. Foto: Dok. NAKITA
Narasumber:
dr.
Karel A.L Staa, Sp.A, M.D.,
dari RS. Pondok Indah, Jakarta
|