Edisi Tematis Persalinan Lancar: Yuk, Siapkan Persalinan Lancar!
Edisi Tematis Persalinan Lancar: Persiapan Fisik
Edisi Tematis Persalinan Lancar: Santapan Berstamina Jelang Persalinan
Edisi Tematis Persalinan Lancar: Kenali Tanda-Tanda Persalinan
Edisi Tematis Persalinan Lancar: Mengejan
Edisi Tematis Persalinan Lancar: Menghadapi Rasa Nyeri
Edisi Tematis Persalinan Lancar: Lebih Percaya Diri Berkat Pendamping
Edisi Tematis Persalinan Lancar: Jika Tak Bisa Spontan
Edisi Tematis Persalinan Lancar: Perawatan Setelah Bersalin
Edisi Tematis Persalinan Lancar: Pemeriksaan Di Awal Kehidupan

 

MENGHADAPI RASA NYERI

Kurangi nyeri dengan teknik-teknik tertentu.

Rasa nyeri saat persalinan merupakan hal yang normal terjadi. Penyebabnya meliputi faktor fisiologis dan psikis.

Faktor fisiologis yang dimaksud adalah kontraksi. Gerakan otot ini menimbulkan rasa nyeri karena saat itu otot-otot rahim memanjang dan kemudian memendek. Leher rahim juga akan menjadi lunak, menipis, dan mendatar, kemudian tertarik. Saat itulah kepala janin menekan mulut rahim dan membukanya. Jadi, kontraksi merupakan bagian dari upaya membuka jalan lahir.

Intensitas rasa nyeri -dari pembukaan satu sampai pembukaan sepuluh- akan bertambah tinggi dan makin sering sebanding dengan kekuatan kontraksi dan tekanan bayi terhadap struktur panggul, diikuti regangan, bahkan perobekan jalan lahir bagian bawah.

Ancar-ancarnya sebagai berikut:

* Dari tak ada pembukaan sampai pada pembukaan 2 cm, rasa sakit yang muncul rata-rata dua kali dalam sepuluh menit. Proses ini bisa berlangsung sekitar 8 jam.

* Rasa sakit pada pembukaan 3 cm sampai selanjutnya rata-rata 3 kali dalam 10 menit. Proses pembukaannya sendiri rata-rata 0,5-1 cm per jam.

* Makin lama, frekuensi nyeri makin sering dan makin bertambah kuat sampai mendekati proses persalinan.

Seperti dikatakan tadi, rasa nyeri juga dipengaruhi faktor psikis. Rasa takut dan cemas yang berlebihan akan memperparah rasa nyeri ini. Itulah mengapa setiap ibu punya versi sendiri-sendiri tentang nyeri saat melahirkan. Penjelasannya, karena ambang batas rangsang nyeri setiap orang berlainan dan subjektif sekali. Ada ibu yang tak merasa sakit kecuali perutnya terasa "kencang-kencang". Sebaliknya, ada yang merasa tak tahan mengalami rasa nyeri sampai menjerit-jerit kesakitan, memaki suster, atau mencengkeram dan memukul suami yang ikut mendampingi.

Beragam respons itu merupakan suatu mekanisme proyeksi dari rasa sakit yang dirasakan. Namun, jika reaksi ibu jadi tidak terkontrol dan tenaganya dilampiaskan pada hal-hal negatif, seperti marah-marah, menjerit-jerit dan lainnya, maka energi ibu akan terbuang percuma. Rasa nyeri yang dirasakan juga bukannya hilang tapi malah menjadi-jadi. Yang justru paling diperlukan saat merasa nyeri adalah ketenangan diri. Apalagi pada prinsipnya, rasa nyeri akan segera berkurang jika proses persalinan dapat berlangsung dengan cepat.

Sebagai informasi, untuk kehamilan pertama biasanya proses persalinan berlangsung 17 jam sampai 24 jam. Secara teori, kehamilan kedua dan seterusnya akan berlangsung lebih cepat. Proses persalinan dapat dipercepat jika ibu mengikuti senam hamil sejak usia kehamilan 28 minggu. Senam hamil ini akan membantu proses persalinan menjadi lebih baik. Dengan demikian, rasa nyeri pun akan segera berlalu.

RUANG BERSALIN NYAMAN, IBU TENANG

Saat ini sudah ada beberapa rumah sakit yang menyediakan ruang bersalin privat. Di sini, ibu diberi fasilitas khusus seperti alunan musik lembut atau televisi. Anda juga bisa terhindar dari mendengar keluh kesah dan jerit kesakitan ibu lain di ruang sebelah yang mengakibatkan stres dan rasa nyeri makin terasa.

Namun, ruang bersalin pribadi seperti ini tidak mutlak kok. Olahnapas, pendampingan keluarga, dan usapan lembut cukup membantu mengurangi rasa nyeri. Kalaupun ibu perlu mendengarkan musik dan mengalihkan perhatian dari rasa nyeri, bawa saja walkman/discman dan bacaan dari rumah.

TEKNIK MENGURANGI RASA NYERI

Rasa nyeri menjelang persalinan dapat dikurangi dengan berbagai cara, antara lain:

· Napas panjang

Saat nyeri timbul, tarik napas panjang lewat hidung. Bisa sambil dihitung hingga hitungan ke-10. Kemudian keluarkan atau tiupkan udara secara perlahan-lahan lewat mulut. Lakukan tiap kali nyeri timbul. Hal yang perlu diperhatikan, jangan mengejan. Kenapa? Karena rasa nyeri yang timbul akan lebih hebat, di sisi lain memang belum waktunya untuk mengejan. Hendaknya perhatikan instruksi tenaga medis saat persalinan. Keseluruhan teknik ini bisa dipelajari dalam kursus senam hamil.

· Dampingi keluarga terdekat

Sasarannya lebih pada mengurangi masalah psikis ibu melahirkan, seperti munculnya kecemasan dan ketakutan berlebih (penjelasan lebih lengkap, lihat artikel "Lebih Percaya Diri Berkat Pendamping". hlm. p)

· Usapan pada perut

Dalam posisi berbaring santai, usap-usaplah bagian perut secara lembut. Akan lebih baik jika pendamping, seperti suami, turut membantu melakukan usapan tersebut. Relaksasi ini merupakan sugesti untuk memberi ketenangan.

· Intrathecal Labor Analgesia (ILA)

Teknik penanggulangan nyeri persalinan ini berkembang pesat di Amerika dan Eropa sejak tahun 1997. Di negara ASEAN seperti Singapura, teknik ini mulai diterapkan tahun 1999, sedangkan di Indonesia baru tahun 2000. Teknik ini diperuntukkan bagi ibu yang tak ingin mengalami rasa nyeri saat melakukan persalinan normal. Namun untuk itu, dokter kandungan harus yakin bahwa persalinan akan berlangsung normal tanpa operasi. Dalam pelaksanaannya, cara ini dilakukan di bawah pengawasan (dokter) anestetis.

ILA dilakukan dengan cara menyuntikkan obat bius (anestetik) ke ruang intratekal tulang belakang atau ruang selaput cairan saraf ibu melalui sela tulang belakang. Biasanya pemberian anestetik dilakukan setelah ibu mengalami pembukaan keempat, di mana kepala janin sudah turun ke dasar panggul. Selain itu, tak ada tanda-tanda infeksi dan kondisi panggul dapat dilewati oleh bayi.

Dengan pemberian obat bius, saraf nyeri akan "terblokir" sehingga rasa nyeri di bagian perut ke bawah akan hilang, sementara motorik ibu tetap tidak terganggu. Dengan kata lain, ibu tetap dapat merasakan gejala peregangan ketika bayi hendak keluar, tapi tak merasakan nyeri. Soal kapan harus mengejan akan diinstruksikan oleh dokter. Dengan teknik ini, rasa nyeri selama persalinan dapat diatasi dengan baik. Keuntungan lain, tak ada efek samping bagi ibu maupun bayi.

Konsultan Ahli: dr. Reino Rambey, Sp.OG., dari RS Haji Jakarta.

Dedeh Kurniasih