Bonus Pola Asuh : Pola Asuh Efektif, Pola Asuh Penuh Cinta
Bonus Pola Asuh : 4 Tipe Pola Asuh Orang Tua
Bonus Pola Asuh : Resep Komunikasi Efektif
Bonus Pola Asuh : Dampak Negatif Ketidaksiapan Orang Tua
Bonus Pola Asuh : 4 Jurus Penangkal Kelemahan Orang Tua
Bonus Pola Asuh : Orang Tua Tunggal Mesti Menghadirkan Sosok Pengganti
Bonus Pola Asuh : Jika Lingkungan Tidak Mendukung
Bonus Pola Asuh : Pola Asuh Tepat Untuk Semua Tipe Anak
Bonus Pola Asuh : Kuis Gaya Komunikasi Orang Tua


JIKA LINGKUNGAN TIDAK MENDUKUNG

Pola asuh yang baik sulit berjalan efektif bila tidak didukung lingkungan. Namun, kelekatan anak-orang tua dapat meminimalkan pengaruh negatif lingkungan.

Pola asuh yang baik tak hanya datang dari orang tua. Lingkungan sekitar, seperti pengasuh, kakek-nenek, kerabat dekat, tetangga, dan juga sekolah, semua harus sejalan. Soalnya, seperti yang diutarakan Dra. Psi. Tisna Chandra, pola asuh yang berbeda satu sama lain akan membuat hasil yang dicapai tidak maksimal, bahkan bisa berantakan.

Beberapa faktor yang dapat membuat pola asuh tidak maksimal datang dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak. Berikut yang djabarkan psikolog dari Spectrum Treatment and Education Center, Bintaro, Banten:

PENGASUH

Pengasuh sebetulnya bisa menjadi "kepanjangan tangan" orang tua yang cukup efektif, tetapi karena misi orang tua dan pengasuh pada dasarnya berbeda yang terjadi justru bisa sebaliknya. Misi orang tua dalam mengasuh adalah mengoptimalkan tumbuh kembang anak, sedangkan pengasuh bisa saja bekerja semata-mata untuk mendapatkan gaji.

Pola asuh menjadi terganggu jika pengasuh menunjukkan
sikap:

* Inkonsistensi

Sikap tidak konsisten terjadi kala pengasuh melakukan penyimpangan terhadap aturan atau disiplin yang sudah diterapkan orang tua. Misalnya, orang tua melarang anak keseringan nonton teve tetapi pengasuh membiarkan hal itu terjadi karena ia sendiri gemar nonton teve. Akhirnya anak ikut-ikutan menyaksikan berbagai tayangan teve dan lupa beristirahat. Ketidakkonsistenan ini akan membuat anak berpikir, kenapa orang tua melarangnya menonton teve sedangkan pengasuh membolehkannya.

Anak pun bisa beranggapan orang tuanya tidak adil karena ia merasa pengasuhnya diizinkan menonton sedangkan dia tidak. "Di usia ini, pola pikir anak cenderung memilih mana yang lebih enak untuknya. Bila nonton teve sepanjang hari merupakan hal yang menyenangkan maka anak akan memilih hal itu meski pada dasarnya dia tahu kalau hal itu dilarang oleh orang tuanya," kata Tisna. Bila dibiarkan, lama-lama anak ketagihan sampai akhirnya hal itu menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Begitu juga dengan aturan lain. Umpamanya, anak harus makan di meja makan, cuci tangan sebelum makan, atau tidak jajan sembarangan. Ketika pengasuh kerap menunjukkan ketidakkonsistenan maka anak cenderung tidak mematuhi pola asuh orang tua yang seharusnya diterapkan.

* Otoritas Kurang

Ada anak yang merasa dirinya lebih berkuasa di rumah dibandingkan orang lain, termasuk pengasuhnya. Bila ia menyadari bahwa pengasuh hanya orang suruhan, tak mustahil dia akan membangkang terhadapnya. Malah, bisa-bisa anak merasa bahwa dialah "tuan atau nona" yang berhak memberi perintah. Contoh bisa datang dari orang tua yang sering memperlakukan pengasuh jauh dari sikap santun. Hal inilah yang membuat anak ikut-ikut tidak menaruh hormat dan patuh pada pengasuhnya.

* Ketidaksiapan Pengasuh

Bila anak menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan pengasuh, sangat mungkin pengasuh tersebut akan menjadi model panutannya. Perilaku pengasuhnya yang suka membentak, mencubit, atau berkata tidak senonoh akan ditiru.

Belum lagi bila pengasuh sering meminta anak melakukan sesuatu dengan disertai ancaman. "Awas, kalau tidak mau makan nanti ditangkap polisi!" Pola asuh seperti ini jelas tidak mendidik karena anak akan melakukan perintah semata-mata karena didorong rasa takut. Akibatnya anak berkembang menjadi orang yang penakut. Untuk itulah perlunya menyeleksi pengasuh. Mana yang bisa diarahkan, mana yang mengetahui perkembangan anak, dan mana yang punya tata krama yang baik.

* Beda Budaya

Beda budaya bisa mendatangkan ketidakefektifan pola asuh. Anak yang berasal dari keluarga yang berbudaya santun dengan tutur kata halus, tentu bisa terpengaruh dengan perilaku pengasuhnya yang berasal dari daerah yang gaya bicaranya blak-blakan dan ceplas-ceplos. Namun, hal ini bukan faktor utama hanya dalam kasus-kasus tertentu saja.

* Overprotektif

Ada pengasuh yang menerima aturan dari orang tua sebagaimana adanya. Bahkan sangat berhati-hati karena takut jika menyimpang akan disalahkan. Kalau sudah begitu, yang muncul bukan pola asuh yang efektif, tapi malah overprotektif karena membuat anak jadi terkekang.

KAKEK-NENEK

Kakek dan nenek bisa saja membuat pola asuh menjadi tidak efektif, misalnya:

* Inkonsistensi

Berbeda dari pengasuh, sikap inkonsitensi kakek-nenek biasanya disebabkan rasa sayang mereka yang besar terhadap cucu. "Ada kan orang tua yang punya aturan bahwa anak sebaiknya tidak akan diberi mainan berupa games elektronik, tapi ketika anak berulang tahun kakek neneknya malah memberikan mainan tersebut," cerita Tisna. Bukan berarti perhatian besar yang diberikan kakek dan nenek tadi salah lo. Namun perilaku tersebut bisa membuat penerapan pola asuh menjadi terganggu.

Kasus lain yang hampir sama sebenarnya cukup banyak ditemukan. Misalnya, karena tidak mendapat apa yang diinginkan dari orang tuanya, anak mendatangi kakek atau neneknya. Ia tahu kakek dan nenek pasti akan menuruti kemauannya berdasarkan pengalaman yang lalu.

* Hukuman Tidak Efektif

Seringkali, hukuman yang diberikan oleh kakek nenek tidak cukup efektif sehingga membuat pola asuh terganggu. Ketika si kecil belum mengerjakan PR misalnya, orang tua menghukum dengan tidak memberikan izin nonton teve. Namun kakek nenek, malah memberikan keleluasaan kepada anak untuk melakukan kesenangannya hanya agar si cucu tidak kesal.

PAMAN, TANTE

Di satu sisi, hidup berdampingan dengan keluarga besar, seperti paman, tante, dan kerabat lain, bisa membuat anak lebih mengenal banyak karakter manusia. Namun di sisi lain, ada pula hal negatif yang dapat mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap anaknya, misalnya:

* Tidak Disiplin

Ketidakdisiplinan terkadang datang dari kerabat lain, misalnya om atau tante yang sering mengajak pergi anak tanpa seizin orang tuanya. Padahal di saat bersamaan anak harus melakukan kewajiban belajar, misalnya. Selain membuat kedisiplinan terganggu, "intervensi" om dan tante akan memberikan pemahaman kepada anak bahwa segala sesuatu bisa dilakukan sendiri tanpa harus minta izin orang tuanya. Tentu hal ini akan merusak tatanan pola asuh yang semestinya terpantau oleh orang tua.

* Inkonsistensi

Ketidakdisiplinan berhubungan erat dengan inkonsistensi pola asuh. Bila om atau tante sering membiarkan keponakannya melanggar aturan yang telah disepakati bersama kedua orang tuanya, kemungkinan anak pun akan melakukan hal lain yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. "Enggak apa-apa minum es, Mama enggak tahu ini," misalnya. Padahal, larangan minum es diberlakukan karena bisa memunculkan alerginya. Kemungkinan lain, anak akan tidak sepatuh sebelumnya terhadap berbagai aturan yang diterapkan padanya.

* Contoh Negatif

Hidup serumah bersama dengan kerabat lain terkadang memudahkan anak mendapat berbagai contoh perilaku. Nah, bila yang dicontoh adalah perilaku negatif, tentu jadinya merepotkan. Misalnya kalau ada sepupu yang suka berkata kasar, tak mustahil anak mengikutinya. Demikian pula dengan om atau tante yang kerap melontarkan kata-kata tidak senonoh. Meski mereka sekadar bercanda, tetap saja akan mengganggu pola asuh yang sudah dirintis oleh orang tua.

LINGKUNGAN RUMAH

Dari lingkungan sekitar rumah seperti tetangga, anak pun bisa mendapatkan pengalaman negatif yang sedikit banyak akan mempengaruhi keberlangsungan pola asuh orang tua terhadapnya.

* Membandingkan

Ketika anak menemukan perbedaan pola asuh, anak akan membandingkan, "Kok, temanku boleh minum es sedangkan aku tidak?" Bisa saja anak terpengaruh lalu protes kepada orang tua.

* Inkonsistensi

Jika anak mendapati toleransi yang berbeda di rumah temannya dari apa yang ditemuinya di rumah sendiri, tak mustahil ia akan kerap melanggar. Ia tahu bahwa ada keleluasaan lebih di rumah tetangganya, jadi mengapa di rumah ia tidak bisa seperti itu?

* Ikut-ikutan Berbohong

Banyak kan anak yang semula sangat santun dan jujur jadi sering berbohong, mencerca, berkata kasar, dan sebagainya karena mencontoh perilaku negatif teman. Betapapun baiknya pola asuh yang dilakukan, jika anak sering mendapat contoh yang tidak baik tentu akan membuat pola asuh menjadi kurang efektif.

LINGKUNGAN SEKOLAH

Sekolah umumnya tidak terlalu berpengaruh, tapi bisa jadi pola asuh menjadi berantakan karena faktor:

* Beda Peraturan

Sebaiknya rumah mengacu pada pola asuh yang diterapkan di sekolah karena umumnya sekolah mengajarkan kebaikan pada anak. Misalnya, guru di sekolah bilang bahwa anak tidak boleh berbicara selagi mengunyah makanan. Nah, kalau orang tua di rumah malah makan sambil berbicara, anak bisa bingung. "Di sekolah kok dilarang tapi mama dan papa melakukan," contoh Tisna. Hal inilah yang membuat pola asuh menjadi tidak efektif.

* Pengaruh Teman Sekolah

Di sekolah, anak juga mengenal beragam perilaku negatif lain yang umumnya datang dari kalangan teman. Ketika anak melihat temannya suka menyontek, mencuri, usil, berbohong, dan sebagainya, tak mustahil anak akan meniru. Apalagi, pengaruh peer group di usia sekolah dasar mulai sangat kuat. Sehingga terkadang aturan-aturan orang tua bisa hilang begitu saja.

Kesimpulannya, memang sulit membentengi anak dari pengaruh lingkungan yang tidak mendukung pola asuh orang tua. Apa boleh buat, anak memang tidak mungkin dijaga agar selalu steril karena ia tetap butuh berinteraksi dengan lingkungannya. Lagi pula tak ada lingkungan yang bisa secara murni mendukung pola asuh orang tua.

Oleh karena itu, satu hal yang dapat kita lakukan agar anak dapat berkembang sesuai harapan orang tua yaitu menjaga kedekatan dengan anak. Lakukan dengan komunikasi yang tepat agar pola asuh yang kita terapkan mendapat tempat di hatinya. Kedekatan akan mendorong anak untuk lebih mengutamakan harapan orang tua dan memperbaiki perilakunya jika bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan ayah dan ibunya.

Irfan Hasuki. Ilustrator: Pugoeh