JIKA LINGKUNGAN TIDAK MENDUKUNG
Pola
asuh yang baik sulit berjalan efektif bila tidak didukung lingkungan.
Namun, kelekatan anak-orang tua dapat meminimalkan pengaruh negatif
lingkungan.
Pola
asuh yang baik tak hanya datang dari orang tua. Lingkungan sekitar,
seperti pengasuh, kakek-nenek, kerabat dekat, tetangga, dan juga
sekolah, semua harus sejalan. Soalnya, seperti yang diutarakan
Dra. Psi. Tisna Chandra, pola asuh yang berbeda
satu sama lain akan membuat hasil yang dicapai tidak maksimal,
bahkan bisa berantakan.
Beberapa faktor yang dapat membuat
pola asuh tidak maksimal datang dari lingkungan yang sangat dekat
dengan anak. Berikut yang djabarkan psikolog dari Spectrum Treatment
and Education Center, Bintaro, Banten:
PENGASUH
Pengasuh sebetulnya bisa menjadi
"kepanjangan tangan" orang tua yang cukup efektif, tetapi
karena misi orang tua dan pengasuh pada dasarnya berbeda yang
terjadi justru bisa sebaliknya. Misi orang tua dalam mengasuh
adalah mengoptimalkan tumbuh kembang anak, sedangkan pengasuh
bisa saja bekerja semata-mata untuk mendapatkan gaji.
Pola asuh menjadi terganggu jika
pengasuh menunjukkan
sikap:
*
Inkonsistensi
Sikap
tidak konsisten terjadi kala pengasuh melakukan penyimpangan terhadap
aturan atau disiplin yang sudah diterapkan orang tua. Misalnya,
orang tua melarang anak keseringan nonton teve tetapi
pengasuh membiarkan hal itu terjadi karena ia sendiri gemar nonton
teve. Akhirnya anak ikut-ikutan menyaksikan berbagai tayangan
teve dan lupa beristirahat. Ketidakkonsistenan ini akan membuat
anak berpikir, kenapa orang tua melarangnya menonton teve sedangkan
pengasuh membolehkannya.
Anak
pun bisa beranggapan orang tuanya tidak adil karena ia merasa
pengasuhnya diizinkan menonton sedangkan dia tidak. "Di usia
ini, pola pikir anak cenderung memilih mana yang lebih enak untuknya.
Bila nonton teve sepanjang hari merupakan hal yang menyenangkan
maka anak akan memilih hal itu meski pada dasarnya dia tahu kalau
hal itu dilarang oleh orang tuanya," kata Tisna. Bila dibiarkan,
lama-lama anak ketagihan sampai akhirnya hal itu menjadi kebiasaan
yang sulit dihilangkan.
Begitu juga dengan aturan lain.
Umpamanya, anak harus makan di meja makan, cuci tangan sebelum
makan, atau tidak jajan sembarangan. Ketika pengasuh kerap menunjukkan
ketidakkonsistenan maka anak cenderung tidak mematuhi pola asuh
orang tua yang seharusnya diterapkan.
* Otoritas Kurang
Ada
anak yang merasa dirinya lebih berkuasa di rumah dibandingkan
orang lain, termasuk pengasuhnya. Bila ia menyadari bahwa pengasuh
hanya orang suruhan, tak mustahil dia akan membangkang terhadapnya.
Malah, bisa-bisa anak merasa bahwa dialah "tuan atau nona"
yang berhak memberi perintah. Contoh bisa datang dari orang tua
yang sering memperlakukan pengasuh jauh dari sikap santun. Hal
inilah yang membuat anak ikut-ikut tidak menaruh hormat dan patuh
pada pengasuhnya.
*
Ketidaksiapan Pengasuh
Bila anak menghabiskan hampir
seluruh waktunya dengan pengasuh, sangat mungkin pengasuh tersebut
akan menjadi model panutannya. Perilaku pengasuhnya yang suka
membentak, mencubit, atau berkata tidak senonoh akan ditiru.
Belum lagi bila pengasuh sering
meminta anak melakukan sesuatu dengan disertai ancaman. "Awas,
kalau tidak mau makan nanti ditangkap polisi!" Pola asuh
seperti ini jelas tidak mendidik karena anak akan melakukan perintah
semata-mata karena didorong rasa takut. Akibatnya anak berkembang
menjadi orang yang penakut. Untuk itulah perlunya menyeleksi pengasuh.
Mana yang bisa diarahkan, mana yang mengetahui perkembangan anak,
dan mana yang punya tata krama yang baik.
*
Beda Budaya
Beda budaya bisa mendatangkan
ketidakefektifan pola asuh. Anak yang berasal dari keluarga yang
berbudaya santun dengan tutur kata halus, tentu bisa terpengaruh
dengan perilaku pengasuhnya yang berasal dari daerah yang gaya
bicaranya blak-blakan dan ceplas-ceplos. Namun, hal ini bukan
faktor utama hanya dalam kasus-kasus tertentu saja.
*
Overprotektif
Ada pengasuh yang menerima aturan
dari orang tua sebagaimana adanya. Bahkan sangat berhati-hati
karena takut jika menyimpang akan disalahkan. Kalau sudah begitu,
yang muncul bukan pola asuh yang efektif, tapi malah overprotektif
karena membuat anak jadi terkekang.
KAKEK-NENEK
Kakek dan nenek bisa saja membuat
pola asuh menjadi tidak efektif, misalnya:
*
Inkonsistensi
Berbeda dari pengasuh, sikap inkonsitensi
kakek-nenek biasanya disebabkan rasa sayang mereka yang besar
terhadap cucu. "Ada kan orang tua yang punya aturan bahwa
anak sebaiknya tidak akan diberi mainan berupa games elektronik,
tapi ketika anak berulang tahun kakek neneknya malah memberikan
mainan tersebut," cerita Tisna. Bukan berarti perhatian besar
yang diberikan kakek dan nenek tadi salah lo. Namun perilaku tersebut
bisa membuat penerapan pola asuh menjadi terganggu.
Kasus lain yang hampir sama sebenarnya
cukup banyak ditemukan. Misalnya, karena tidak mendapat apa yang
diinginkan dari orang tuanya, anak mendatangi kakek atau neneknya.
Ia tahu kakek dan nenek pasti akan menuruti kemauannya berdasarkan
pengalaman yang lalu.
*
Hukuman Tidak Efektif
Seringkali, hukuman yang diberikan
oleh kakek nenek tidak cukup efektif sehingga membuat pola asuh
terganggu. Ketika si kecil belum mengerjakan PR misalnya, orang
tua menghukum dengan tidak memberikan izin nonton teve. Namun
kakek nenek, malah memberikan keleluasaan kepada anak untuk melakukan
kesenangannya hanya agar si cucu tidak kesal.
PAMAN,
TANTE
Di satu sisi, hidup berdampingan
dengan keluarga besar, seperti paman, tante, dan kerabat lain,
bisa membuat anak lebih mengenal banyak karakter manusia. Namun
di sisi lain, ada pula hal negatif yang dapat mempengaruhi pola
asuh orang tua terhadap anaknya, misalnya:
*
Tidak Disiplin
Ketidakdisiplinan terkadang datang
dari kerabat lain, misalnya om atau tante yang sering mengajak
pergi anak tanpa seizin orang tuanya. Padahal di saat bersamaan
anak harus melakukan kewajiban belajar, misalnya. Selain membuat
kedisiplinan terganggu, "intervensi" om dan tante akan
memberikan pemahaman kepada anak bahwa segala sesuatu bisa dilakukan
sendiri tanpa harus minta izin orang tuanya. Tentu hal ini akan
merusak tatanan pola asuh yang semestinya terpantau oleh orang
tua.
*
Inkonsistensi
Ketidakdisiplinan berhubungan
erat dengan inkonsistensi pola asuh. Bila om atau tante sering
membiarkan keponakannya melanggar aturan yang telah disepakati
bersama kedua orang tuanya, kemungkinan anak pun akan melakukan
hal lain yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. "Enggak apa-apa
minum es, Mama enggak tahu ini," misalnya. Padahal, larangan
minum es diberlakukan karena bisa memunculkan alerginya. Kemungkinan
lain, anak akan tidak sepatuh sebelumnya terhadap berbagai aturan
yang diterapkan padanya.
*
Contoh Negatif
Hidup serumah bersama dengan kerabat
lain terkadang memudahkan anak mendapat berbagai contoh perilaku.
Nah, bila yang dicontoh adalah perilaku negatif, tentu jadinya
merepotkan. Misalnya kalau ada sepupu yang suka berkata kasar,
tak mustahil anak mengikutinya. Demikian pula dengan om atau tante
yang kerap melontarkan kata-kata tidak senonoh. Meski mereka sekadar
bercanda, tetap saja akan mengganggu pola asuh yang sudah dirintis
oleh orang tua.
LINGKUNGAN RUMAH
Dari
lingkungan sekitar rumah seperti tetangga, anak pun bisa mendapatkan
pengalaman negatif yang sedikit banyak akan mempengaruhi keberlangsungan
pola asuh orang tua terhadapnya.
*
Membandingkan
Ketika anak menemukan perbedaan
pola asuh, anak akan membandingkan, "Kok, temanku boleh minum
es sedangkan aku tidak?" Bisa saja anak terpengaruh lalu
protes kepada orang tua.
*
Inkonsistensi
Jika anak mendapati toleransi
yang berbeda di rumah temannya dari apa yang ditemuinya di rumah
sendiri, tak mustahil ia akan kerap melanggar. Ia tahu bahwa ada
keleluasaan lebih di rumah tetangganya, jadi mengapa di rumah
ia tidak bisa seperti itu?
*
Ikut-ikutan Berbohong
Banyak
kan anak yang semula sangat santun dan jujur jadi sering berbohong,
mencerca, berkata kasar, dan sebagainya karena mencontoh perilaku
negatif teman. Betapapun baiknya pola asuh yang dilakukan, jika
anak sering mendapat contoh yang tidak baik tentu akan membuat
pola asuh menjadi kurang efektif.
LINGKUNGAN SEKOLAH
Sekolah umumnya tidak terlalu
berpengaruh, tapi bisa jadi pola asuh menjadi berantakan karena
faktor:
*
Beda Peraturan
Sebaiknya rumah mengacu pada pola
asuh yang diterapkan di sekolah karena umumnya sekolah mengajarkan
kebaikan pada anak. Misalnya, guru di sekolah bilang bahwa anak
tidak boleh berbicara selagi mengunyah makanan. Nah, kalau orang
tua di rumah malah makan sambil berbicara, anak bisa bingung.
"Di sekolah kok dilarang tapi mama dan papa melakukan,"
contoh Tisna. Hal inilah yang membuat pola asuh menjadi tidak
efektif.
*
Pengaruh Teman Sekolah
Di
sekolah, anak juga mengenal beragam perilaku negatif lain yang
umumnya datang dari kalangan teman. Ketika anak melihat temannya
suka menyontek, mencuri, usil, berbohong, dan sebagainya, tak
mustahil anak akan meniru. Apalagi, pengaruh peer group
di usia sekolah dasar mulai sangat kuat. Sehingga terkadang aturan-aturan
orang tua bisa hilang begitu saja.
Kesimpulannya, memang sulit membentengi
anak dari pengaruh lingkungan yang tidak mendukung pola asuh orang
tua. Apa boleh buat, anak memang tidak mungkin dijaga agar selalu
steril karena ia tetap butuh berinteraksi dengan lingkungannya.
Lagi pula tak ada lingkungan yang bisa secara murni mendukung
pola asuh orang tua.
Oleh karena itu, satu hal yang
dapat kita lakukan agar anak dapat berkembang sesuai harapan orang
tua yaitu menjaga kedekatan dengan anak. Lakukan dengan komunikasi
yang tepat agar pola asuh yang kita terapkan mendapat tempat di
hatinya. Kedekatan akan mendorong anak untuk lebih mengutamakan
harapan orang tua dan memperbaiki perilakunya jika bertentangan
dengan nilai-nilai yang diajarkan ayah dan ibunya.
Irfan Hasuki. Ilustrator: Pugoeh