Bonus Pola Asuh : Pola Asuh Efektif, Pola Asuh Penuh Cinta
Bonus Pola Asuh : 4 Tipe Pola Asuh Orang Tua
Bonus Pola Asuh : Resep Komunikasi Efektif
Bonus Pola Asuh : Dampak Negatif Ketidaksiapan Orang Tua
Bonus Pola Asuh : 4 Jurus Penangkal Kelemahan Orang Tua
Bonus Pola Asuh : Orang Tua Tunggal Mesti Menghadirkan Sosok Pengganti
Bonus Pola Asuh : Jika Lingkungan Tidak Mendukung
Bonus Pola Asuh : Pola Asuh Tepat Untuk Semua Tipe Anak
Bonus Pola Asuh : Kuis Gaya Komunikasi Orang Tua


ORANG TUA TUNGGAL MESTI MENGHADIRKAN SOSOK PENGGANTI

Sudah suratan takdir laki-laki tak akan bisa menjadi ibu seutuhnya, begitu juga ibu tak bisa sepenuhnya mengisi peran ayah.

Sebisa mungkin, perceraian memang harus dihindarkan. Jika suatu keluarga bubar di tengah jalan, maka yang merugi dan terkena imbasnya bukan cuma suami dan istri tapi terlebih lagi anak-anak yang notabene tidak tahu-menahu dan harus ikut menanggung akibatnya. "Lain halnya jika segala upaya menurut kaidah agama sudah dilakukan, tapi tetap tidak ditemukan jalan keluar. Apa boleh buat. Bercerai mungkin merupakan jalan terbaik bagi kedua belah pihak dan anak-anak daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membuat murka Tuhan," kata Elly Risman, Psi., dari Yayasan Buah Hati

Namun sekali lagi Elly mengingatkan bahwa keputusan bercerai yang diambil orang tua, meskipun dianggap sebagai jalan terbaik, tetap akan membuat jiwa anak terguncang. Jadi, "Kalau kelak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pada anak, jangan salahkan dia."

Apa yang tidak diharapkan itu muncul akibat anak tidak mendapatkan masukan secara lengkap dari kedua orang tuanya, ayah dan ibu. Oleh karena itu, lanjut Elly, kalau suami-istri terpaksa bercerai dan kemudian menjadi orang tua tunggal bagi anak(-anaknya), "Wajib hukumnya bagi ayah atau ibu yang menjadi orang tua tunggal untuk tetap menghadirkan sosok ayah atau ibu yang tidak ada selama membesarkan anak-anaknya."

Mengenai siapa yang bisa dihadirkan sebagai pengganti salah satu orang tua yang tidak ada, menurut Elly, bisa merupakan keluarga terdekat, seperti paman-bibi, kakek-nenek. Pokoknya kerabat sedarah yang tidak mengizinkan adanya pertalian nikah (muhrim).

Tak mesti sosok pengganti salah satu orang tua ini berada bersama anak setiap saat. "Cukup selama dua tiga hari atau saat melakukan kegiatan tertentu, seperti belanja ke pasar atau mal bersama nenek dan bibi, sedangkan pergi ke bengkel atau berolahraga dengan paman." Dengan demikian apa yang tidak didapatkan anak dari salah satu orang tua tetap bisa terpenuhi. "Oh, kita harus bersikap begini rupanya kalau jadi laki-laki," atau, "Seperti ini rupanya dunia perempuan."

HARUS BISA MENJIWAI

Tak bisa dipungkiri banyak orang tua yang harus menjalankan peran ganda sebagai orang tua tunggal. Secara teori, menurut Elly, bisa saja hal ini dilakukan jika suatu keluarga tinggal jauh dari kerabat dekat. Mungkin juga mereka sulit mencari muhrim yang bisa dijadikan sosok pengganti salah satu orang tua. Namun perlu dicatat, kondisi ini mengakibatkan anak tidak mendapatkan pola pengasuhan yang lengkap.

Penyebabnya, peran ganda yang dilakukan salah satu orang tua tidak lebih dari aspek lahiriah saja. Sedangkan yang harus anak dapatkan dari orang tuanya jauh lebih dalam daripada itu. Harus sampai melibatkan jiwa dan rasa yang dimiliki sosok ayah maupun ibu.

Pada dasarnya setiap anak membutuhkan jiwa wanita yang dimiliki oleh sosok ibu dan jiwa pria yang dimiliki oleh sosok ayah. Nah, agar bisa optimal, pola asuh yang diterapkan pada anak pun harus saling melengkapi antara ibu dan ayah.

Contoh konkret adalah saat si Upik beranjak jadi gadis remaja. Dia bisa mendapatkan informasi mengenai menstruasi secara jelas, konkret dan menyeluruh dari sang ibu yang juga mengalami menstruasi. Bagaimana kalau anak menanyakan hal serupa pada ayahnya? Selain rikuh umumnya pengetahuan ayah mengenai hal ini pun amat terbatas. Paling-paling ia hanya akan menjelaskan singkat, "Aduh apa ya? Ayah enggak tahu karena itu urusan perempuan." Mendapat jawaban yang mengambang anak akan tidak puas karena ia sudah menyimpan segudang pertanyaan, "Yah, kok aku keluar darah sih? Itu tandanya apa ya? Trus rasanya gimana sih kalo lagi mens itu? Katanya ser-seran dan bisa bikin kita lemes ya?"

Sebaliknya, seorang ibu mustahil mampu menjelaskan secara gamblang apa itu mimpi basah kepada anak laki-lakinya seperti penjelasan seputar menstruasi bagi remaja putrinya. Ayahlah yang bisa dengan rinci mendeskripsikan apa itu mimpi basah karena ia sendiri pernah mengalaminya, bukan sekadar mengadopsi pengetahuan mengenai hal ini dari media.

JIKA TERLALU SIBUK

Elly pun menyayangkan kondisi yang sering mengharuskan orang tua tunggal, entah karena bercerai atau ditinggal mati pasangannya, bekerja seharian untuk menafkahi keluarga. Jangan salahkan anak bila kehidupannya berjalan timpang dan kelak tumbuh tak terkendali.

Namun, hal serupa bisa juga terjadi pada anak yang kedua orang tuanya lengkap tapi selalu
sibuk dengan urusan pekerjaan sampai-sampai tak punya waktu untuk mengamati proses tumbuh kembang anaknya. Makanya dewasa ini tidak sedikit anak yang merasa tidak memiliki ibu dan ayah padahal ayah dan ibu tinggal serumah dengannya.

Dari kedua kondisi seperti itu, apa yang harus dibenahi? Tidak lain adalah pola asuh tepat yang dapat mengisi kebutuhan anak akan perhatian, kasih sayang, ruang berekspresi, sekaligus kendali bijak dari orang tua. Ajak pula kerabat yang mengisi peran orang tua pengganti untuk bekerja sama menerapkan aturan secara konsisten, mau menerima konsekuensi dari penerapan itu, dan tak habis-habisnya memberikan kasih sayang.

Gazali Solahuddin