ORANG TUA TUNGGAL MESTI MENGHADIRKAN
SOSOK PENGGANTI
Sudah
suratan takdir laki-laki tak akan bisa menjadi ibu seutuhnya,
begitu juga ibu tak bisa sepenuhnya mengisi peran ayah.
Sebisa
mungkin, perceraian memang harus dihindarkan. Jika suatu keluarga
bubar di tengah jalan, maka yang merugi dan terkena imbasnya bukan
cuma suami dan istri tapi terlebih lagi anak-anak yang notabene
tidak tahu-menahu dan harus ikut menanggung akibatnya. "Lain
halnya jika segala upaya menurut kaidah agama sudah dilakukan,
tapi tetap tidak ditemukan jalan keluar. Apa boleh buat. Bercerai
mungkin merupakan jalan terbaik bagi kedua belah pihak dan anak-anak
daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membuat murka
Tuhan," kata Elly Risman, Psi., dari Yayasan
Buah Hati
Namun sekali lagi Elly mengingatkan
bahwa keputusan bercerai yang diambil orang tua, meskipun dianggap
sebagai jalan terbaik, tetap akan membuat jiwa anak terguncang.
Jadi, "Kalau kelak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan
pada anak, jangan salahkan dia."
Apa yang tidak diharapkan itu
muncul akibat anak tidak mendapatkan masukan secara lengkap dari
kedua orang tuanya, ayah dan ibu. Oleh karena itu, lanjut Elly,
kalau suami-istri terpaksa bercerai dan kemudian menjadi orang
tua tunggal bagi anak(-anaknya), "Wajib hukumnya bagi ayah
atau ibu yang menjadi orang tua tunggal untuk tetap menghadirkan
sosok ayah atau ibu yang tidak ada selama membesarkan anak-anaknya."
Mengenai siapa yang bisa dihadirkan
sebagai pengganti salah satu orang tua yang tidak ada, menurut
Elly, bisa merupakan keluarga terdekat, seperti paman-bibi, kakek-nenek.
Pokoknya kerabat sedarah yang tidak mengizinkan adanya pertalian
nikah (muhrim).
Tak mesti sosok pengganti salah
satu orang tua ini berada bersama anak setiap saat. "Cukup
selama dua tiga hari atau saat melakukan kegiatan tertentu, seperti
belanja ke pasar atau mal bersama nenek dan bibi, sedangkan pergi
ke bengkel atau berolahraga dengan paman." Dengan demikian
apa yang tidak didapatkan anak dari salah satu orang tua tetap
bisa terpenuhi. "Oh, kita harus bersikap begini rupanya kalau
jadi laki-laki," atau, "Seperti ini rupanya dunia perempuan."
HARUS BISA MENJIWAI
Tak bisa dipungkiri banyak orang
tua yang harus menjalankan peran ganda sebagai orang tua tunggal.
Secara teori, menurut Elly, bisa saja hal ini dilakukan jika suatu
keluarga tinggal jauh dari kerabat dekat. Mungkin juga mereka
sulit mencari muhrim yang bisa dijadikan sosok pengganti salah
satu orang tua. Namun perlu dicatat, kondisi ini mengakibatkan
anak tidak mendapatkan pola pengasuhan yang lengkap.
Penyebabnya, peran ganda yang
dilakukan salah satu orang tua tidak lebih dari aspek lahiriah
saja. Sedangkan yang harus anak dapatkan dari orang tuanya jauh
lebih dalam daripada itu. Harus sampai melibatkan jiwa dan rasa
yang dimiliki sosok ayah maupun ibu.
Pada dasarnya setiap anak membutuhkan
jiwa wanita yang dimiliki oleh sosok ibu dan jiwa pria yang dimiliki
oleh sosok ayah. Nah, agar bisa optimal, pola asuh yang diterapkan
pada anak pun harus saling melengkapi antara ibu dan ayah.
Contoh
konkret adalah saat si Upik beranjak jadi gadis remaja. Dia bisa
mendapatkan informasi mengenai menstruasi secara jelas, konkret
dan menyeluruh dari sang ibu yang juga mengalami menstruasi. Bagaimana
kalau anak menanyakan hal serupa pada ayahnya? Selain rikuh umumnya
pengetahuan ayah mengenai hal ini pun amat terbatas. Paling-paling
ia hanya akan menjelaskan singkat, "Aduh apa ya? Ayah enggak
tahu karena itu urusan perempuan." Mendapat jawaban yang
mengambang anak akan tidak puas karena ia sudah menyimpan segudang
pertanyaan, "Yah, kok aku keluar darah sih? Itu tandanya
apa ya? Trus rasanya gimana sih kalo lagi mens
itu? Katanya ser-seran dan bisa bikin kita lemes ya?"
Sebaliknya, seorang ibu mustahil
mampu menjelaskan secara gamblang apa itu mimpi basah kepada anak
laki-lakinya seperti penjelasan seputar menstruasi bagi remaja
putrinya. Ayahlah yang bisa dengan rinci mendeskripsikan apa itu
mimpi basah karena ia sendiri pernah mengalaminya, bukan sekadar
mengadopsi pengetahuan mengenai hal ini dari media.
JIKA TERLALU SIBUK
Elly pun menyayangkan kondisi
yang sering mengharuskan orang tua tunggal, entah karena bercerai
atau ditinggal mati pasangannya, bekerja seharian untuk menafkahi
keluarga. Jangan salahkan anak bila kehidupannya berjalan timpang
dan kelak tumbuh tak terkendali.
Namun, hal serupa bisa juga terjadi
pada anak yang kedua orang tuanya lengkap tapi selalu
sibuk dengan urusan pekerjaan sampai-sampai tak punya waktu untuk
mengamati proses tumbuh kembang anaknya. Makanya dewasa ini tidak
sedikit anak yang merasa tidak memiliki ibu dan ayah padahal ayah
dan ibu tinggal serumah dengannya.
Dari kedua kondisi seperti itu,
apa yang harus dibenahi? Tidak lain adalah pola asuh tepat yang
dapat mengisi kebutuhan anak akan perhatian, kasih sayang, ruang
berekspresi, sekaligus kendali bijak dari orang tua. Ajak pula
kerabat yang mengisi peran orang tua pengganti untuk bekerja sama
menerapkan aturan secara konsisten, mau menerima konsekuensi dari
penerapan itu, dan tak habis-habisnya memberikan kasih sayang.
Gazali
Solahuddin