DAMPAK NEGATIF KETIDAKSIAPAN ORANG TUA
Tidak
mudah menjadi orang tua. Namun dengan tekad kuat dan kemauan keras,
semua orang berpeluang menjadi orang tua yang ideal. Bagaimana
kalau tidak?
Tak
bisa dipungkiri bahwa pola asuh yang tidak tepat akan membuahkan
perkembangan anak yang tidak optimal. Anak tumbuh jadi pribadi
agresif, tidak bisa mandiri, dan tipis rasa percaya dirinya. Menurut
Evi Elviati, Psi., banyak hal yang menjadi faktor
penyebabnya. Salah satunya adalah ketidaksiapan orang tua mendapatkan
buah hati.
Seberapa jauh soal ketidaksiapan
orang tua memperoleh anak perlu ditelusuri jauh ke belakang sebelum
mereka menikah. Umumnya mereka tidak tahu atau tidak memikirkan
secara matang bagaimana rencana jangka panjang setelah menikah.
Semisal apakah mau punya anak atau tidak. Lalu jika ya, kapan
sebaiknya memiliki anak. Apakah segera setelah menikah, ataukah
ditunda lebih dulu sampai mereka merasa mapan, baik secara mental
maupun finansial.
PEMICU KETIDAKSIAPAN
Secara mental ketidaksiapan orang
tua bisa dipicu oleh beberapa penyebab, seperti umur orang tua
yang terlalu muda, masih sekolah/kuliah, serta tidak tahu bagaimana
caranya mendidik anak. Sementara dari faktor finansial umumnya
lebih karena kondisi keuangan keluarga yang belum mendukung. Entah
suami belum punya pekerjaan tetap, suami/istri sedang sibuk mengejar
karier, melanjutkan pendidikan, ataupun sudah punya banyak anak.
Semua hal tersebut bisa menjadi pemicu ketidaksiapan orang tua
menerima kehadiran si kecil di tengah-tengah mereka, apalagi mendidiknya.
Padahal ketikdaksiapan ini akan
berbuntut panjang. Pasangan suami istri seperti ini jadi tidak
pernah mandiri. Pasalnya, mereka akan selalu menggantungkan segala
sesuatunya pada orang tua mereka dalam pengasuhan si kecil. Jika
ketergantungan tersebut dalam batas-batas wajar mungkin tidak
terlalu jadi masalah. Artinya, kakek-nenek si kecil hanya merupakan
pihak yang dimintai bantuan untuk sementara waktu.
Saat merawat si kecil, contohnya,
pasangan muda memerlukan figur tempat bertanya. Nah, orang tua
sebagai sosok yang telah banyak makan asam garam alias lebih berpengalaman
tentu bisa dijadikan tumpuan. Idealnya, setelah belajar banyak
dari orang tuanya, pasangan muda ini haruslah tetap belajar merawat
anaknya sendiri.
AKIBAT KETERGANTUNGAN BERLEBIH
Jika ayah dan ibu memiliki ketergantungan
berlebih pada kakek-nenek tanpa mau belajar sedikit pun bagaimana
caranya merawat dan mengasuh anak, orang tua sendirilah yang sebetulnya
bermasalah. Apalagi jika bantuan yang diberikan tidak hanya berbentuk
fisik, tapi juga bantuan finansial. Jika kebiasaan tidak sehat
semacam ini dibiarkan, dikhawatirkan kemandirian pasangan sebagai
orang tua pun jadi terhambat. Sementara pasangan suami istri juga
tidak terbebas dari bayang-bayang orang tuanya.
Konsekuensinya,
pola asuh yang diterapkan mau tidak mau lebih "berbau"
konsep kakek-neneknya dan bukannya pola asuh si orang tua. Namun
ketergantungan berlebih ini sering membuat pasangan muda enggan
protes karena sungkan. Kalau mereka protes, mungkin saja kakek-nenek
akan melepaskan cucunya tanpa pengasuhan sama sekali yang justru
membuat pasangan muda ini kelabakan.
Akibatnya,
sangat mungkin terjadi inkonsistensi dalam pengasuhan karena orang
tua tidak berani mengoreksi pola asuh kakek-nenek. Apa yang dilarang
orang tua, contohnya, justru dibolehkan oleh kakek-neneknya. Sementara
si anak sendiri pun akan bingung, mana yang benar dan perlu diikutinya
serta mana pula hal yang salah.
AKIBAT PEMAHAMAN SALAH
Ketidaksiapan orang tua mengasuh
anak, bisa juga disebabkan oleh minimnya wawasan orang tua terhadap
pola asuh yang baik. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perkembangan
anak, menyebabkan ia tidak tahu pola asuh terbaik buat anak-anaknya.
Psikolog dari Essa Consulting
Group ini menambahkan, minimnya wawasan tentang perkembangan anak,
ditambah ketidaksiapan menjadi orang tua, akan membuat orang tua
memiliki pemahaman salah. Salah satunya adalah menganggap anak
sebagai miniatur manusia dewasa. Anak diperlakukan layaknya orang
dewasa. Aturan yang dibuat pun tak jarang sama persis bagi orang
dewasa. Tak heran banyak orang tua yang memberlakukan sanksi fisik
yang keras buat anak.
Pendek kata, anak tidak diperlakukan
sebagaimana fitrahnya untuk tumbuh dan berkembang melalui tahapan-tahapannya.
Masing-masing menyimpan berbagai hal unik. Pemahaman yang salah
membuat anak jadi tidak bebas bermain ataupun melakukan "kenakalan-kenakalan"
yang wajar. Anak jadi kurang belajar karena bagaimana ia bisa
tumbuh optimal jika lingkungan terdekatnya tidak mendukung. Padahal
anak tidak secara otomatis bisa tumbuh mandiri menjadi dewasa.
Ia butuh proses belajar dan orang tualah yang mesti mendidik dan
memberi stimulasi.
AKIBAT
DIANGGAP BEBAN
Kalau anak sudah dianggap sebagai
beban yang memberatkan, sangat mungkin orang tua melakukan tindak
kekerasan terhadap anak. Itulah mengapa tindak kekerasan pada
anak, baik secara fisik maupun nonfisik, umumnya merupakan indikator
ketidaksiapan orang tua menerima kehadiran sang buah hati.
Kekerasan fisik adalah tindakan
yang bertujuan melukai, menyiksa, menganiaya, atau memperlakukan
anak secara kasar. Tindakan tersebut bisa dilakukan lewat anggota
tubuh seperti tangan atau kaki, atau lewat bantuan alat-alat lain.
Beberapa tindakan yang dikategorikan sebagai tindak kekerasan
fisik antara lain memukul, menjewer, dan menendang.
Sedangkan kekerasan nonfisik merupakan
bentuk kekerasan yang melibatkan kata-kata, baik berupa ancaman
atau kata-kata kasar atau yang tidak pantas. Tindakan ini bisa
mengganggu atau menekan emosi anak sebagai korban. Secara kejiwaan,
anak jadi tidak berani mengungkapkan pendapat, kelewat penurut
dan terkondisikan sebagai sosok yang selalu bergantung. Akibatnya,
anak dalam keadaan tertekan, takut, bahkan stres.
Dampak jangka panjangnya, anak
akan merekam semua bentuk kekerasan yang pernah diterima/dialaminya.
Besar kemungkinan anak akan tumbuh jadi pribadi yang agresif.
Selanjutnya, kelak saat si anak jadi orang tua, bisa jadi ia akan
menerapkan pola asuh berlandaskan kekerasan hingga terbentuk lingkaran
setan yang tiada berujung.
AKIBAT
DIANGGAP SUBORDINAT
Yang juga sering terjadi, orang
tua menganggap anak sebagai subordinat alias bawahannya. Antara
lain tampak dari pola asuh otoriter yang diterapkan pada anak.
Anak dituntut untuk selalu mematuhi aturan yang diberlakukan orang
tua. Protes merupakan perbuatan yang diharamkan, dan anak sama
sekali tidak memiliki posisi tawar di hadapan orang tuanya. Anak
diharuskan selalu mengalah pada orang tua dan tidak diperbolehkan
melontarkan kritik terhadap apa pun yang dilakukan orang tua.
Akibatnya, muncul pemahaman bahwa
anak selalu salah sementara orang tua tidak pernah salah. Tak
heran kalau anak akan tumbuh menjadi pribadi yang apatis.
Anggapan anak sebagai subordinat
juga membuat orang tua secara terus-menerus memosisikan anak sebagai
bocah cilik atau sosok yang tidak dewasa. Anak tidak pernah dibiarkan
tumbuh menjadi pribadi mandiri karena tidak mengenal budaya memilih.
Ia terbiasa didikte tanpa pernah mendapat kesempatan untuk memilih.
Selain menjadi apatis, sebaliknya bisa saja anak menjadi sosok
yang selalu minta dilayani. Apa-apa selalu minta kepada orang
tuanya. Semua yang diiinginkan tinggal teriak dan tunjuk pembantu.
Yang juga tak kalah menyedihkan,
anak tidak pernah merasa dihargai pendapat dan usahanya. "Namanya
juga anak-anak, tahu apa sih dia?" begitu yang selalu terlontar.
Apa pun yang dilakukan anak dianggap tidak pernah sempurna. Padahal
semestinya orang tua tetap memberi penghargaan. Saat anak membantu
cuci piring, meski tidak sebersih hasil kerja orang tua, harusnya
dipuji dan dihargai. Ingat, kemauan anak untuk membantu merupakan
langkah awal menuju kemandirian.
DIANGGAP INVESTASI
Pemahaman
lain yang kurang tepat akibat kurangnya wawasan adalah anggapan
anak sebagai salah satu bentuk investasi. Jika orang tuanya petani,
anak diibaratkan sebagai benih yang disebar di ladang luas. Setelah
tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, si petanilah yang merasa
berhak menikmati hasil panen. Memang tidak salah jika anak berkewajiban
membantu orang tuanya. Bahkan agama pun menekankan pentingnya
sikap berbakti kepada orang tua. Meski begitu, segala bentuk bantuan
hendaknya disesuaikan dengan kemampuan anak.
Seharusnya patut diingat bahwa
anak juga mesti bertahan dalam mengarungi kehidupannya. Suatu
saat ia akan membentuk keluarganya sendiri yang menjadi tanggung
jawabnya. Pemahaman yang salah membuat beban tanggung jawab anak
semakin berat. Selain harus memperjuangkan kehidupannya sendiri,
ia pun mesti menanggung beban hidup orang tuanya.
PERSIAPAN MENTAL
Iya sih tidak semua keinginan
manusia bisa dikabulkan karena semua terpulang pada Yang Maha
Kuasa. Saat orang tua berharap tidak memiliki momongan dalam waktu
dekat, kenyataan berbicara lain. Mau tidak mau orang tua mesti
siap menerima keadaan tersebut. Nah, agar bisa siap menerima situasi
dan kondisi apa pun, tak ada cara lain kecuali menambah wawasan
tentang dunia anak lewat media apa saja. Bertanya kepada para
pakar di bidangnya juga sangat dianjurkan agar orang tua semakin
arif dalam mendidik putra-putrinya.
Memahami setiap tahapan perkembangan
anak dan mengenali karakternya masing-masing akan sangat membantu
orang tua dalam menerapkan pola asuh yang efektif bagi anak. Contoh
konkretnya, ketika anak usia batita sering berlaku agresif, orang
tua yang tidak paham mungkin akan langsung memarahi atau memberikan
sanksi keras kepada si anak. Namun, tidak demikian halnya dengan
orang tua yang sudah memahami tahapan perkembangan anak. Orang
tua semacam ini bisa mengantisipasi sekaligus memberi arahan kepada
si kecil. Kalaupun terpaksa menjatuhkan sanksi, pastilah sanksi
yang diberikan bersifat mendidik.
Tidak hanya itu. Berbekal pemahaman
dan wawasan luas, orang tua juga bisa mendeteksi berbagai gangguan
dan kelainan yang muncul dalam diri anak. Ketika anaknya yang
menjelang usia dua tahun belum juga bisa berjalan, orang tua akan
segera mengeceknya dan berkonsultasi secara intens pada ahlinya
mengapa hal itu bisa terjadi. Dari konsultasi itulah ia jadi tahu
stimulasi seperti apa dan seberapa banyak porsi yang mesti diberikan
kepada si anak.
Saeful
Imam. Foto: Ferdi/nakita