Bonus Pola Asuh : Pola Asuh Efektif, Pola Asuh Penuh Cinta
Bonus Pola Asuh : 4 Tipe Pola Asuh Orang Tua
Bonus Pola Asuh : Resep Komunikasi Efektif
Bonus Pola Asuh : Dampak Negatif Ketidaksiapan Orang Tua
Bonus Pola Asuh : 4 Jurus Penangkal Kelemahan Orang Tua
Bonus Pola Asuh : Orang Tua Tunggal Mesti Menghadirkan Sosok Pengganti
Bonus Pola Asuh : Jika Lingkungan Tidak Mendukung
Bonus Pola Asuh : Pola Asuh Tepat Untuk Semua Tipe Anak
Bonus Pola Asuh : Kuis Gaya Komunikasi Orang Tua

Pola Asuh EFEKTIF,

POLA ASUH PENUH CINTA

Pola asuh sangat menentukan pertumbuhan anak, jadi hati-hati dalam menerapkannya.

Apa, sih, pola asuh itu? Teorinya, menurut Theresia Indira Shanti, Psi.,Msi., pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak. Lebih jelasnya, yaitu bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak. Termasuk caranya menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku yang baik sehingga dijadikan contoh/panutan bagi anaknya.

Sayangnya pola asuh yang diterapkan orang tua tak selamanya efektif Malah terkadang dampaknya bagi si kecil bukannya baik tapi buruk. Pola asuh yang terlalu protektif atau memanjakan anak tentu menyebabkan anak menjadi tidak kreatif atau jadi selalu tergantung pada orang lain. Makanya perlu berhati-hati menerapkan pola asuh. Perlu diingat pula pola asuh sangat menentukan pertumbuhan anak, baik dalam potensi sosial, psikomotorik, dan kemampuan afektifnya.

SYARAT POLA ASUH EFEKTIF

Jadi bagaimana pola asuh yang efektif itu? Menurut Shanti, pola asuh yang efektif bisa dilihat dari hasilnya. "Anak jadi paham kenapa harus begini atau begitu. Kenapa tak boleh ini-itu. Kelak, anak akan mampu memahami aturan-aturan di masyarakat secara lebih luas lagi. Misalnya, kalau ketemu orang harus menyapa atau bersalaman, " ujar psikolog dari Unika Atmajaya, Jakarta ini.

Nah, syarat paling utama pola asuh yang efektif adalah landasan cinta dan kasih sayang. Tapi bagaimana bentuknya? Berikut hal-hal yang bisa dilakukan orang tua demi menuju pola asuh efektif.

1. Pola asuh harus dinamis

Kenapa? Karena pola asuh harus sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagai contoh, penerapan pola asuh untuk anak batita tentu berbeda dari pola asuh untuk anak usia sekolah. Pasalnya, kemampuan berpikir batita kan masih sederhana, jadi pola asuh harus disertai komunikasi yang tidak bertele-tele dengan bahasa yang mudah dimengerti. "Adek enggak boleh memukul Eki, karena kalau dipukul itu sakit!"

Tapi anak usia SD pastilah tak mau lagi dianggap anak kecil yang bisa dilarang-larang. Jadi apa pun nilai-nilai yang ingin kita tanamkan mesti disertai dialog terbuka karena mereka sudah tak mudah didikte. Berikan alasan konkret.

"Kakak, kok, nonton teve terus?

"Lagi asyik nih Ma!'"

"Iya, Mama tahu, tapi kalau Kakak nonton terus, nanti PR-nya enggak selesai. Terus besok di sekolah bagaimana dong?"

2. Pola asuh harus Sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak

Ini perlu dilakukan karena setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Shanti memperkirakan saat usia satu tahun, potensi anak sudah mulai dapat terlihat. Umpamanya, kala si kecil mendengarkan alunan musik, dia kok tampak lebih tertarik ketimbang anak seusianya. Bisa jadi, ia memang memiliki potensi kecerdasan musikal. Nah, kalau orang tua sudah memiliki gambaran potensi anak, maka ia perlu diarahkan dan difasilitasi.

Selain pemenuhan kebutuhan fisik, orang tua pun mesti memenuhi kebutuhan psikis anak. Sentuhan-sentuhan fisik seperti merangkul, mencium pipi, mendekap dengan penuh kasih sayang, akan membuat anak bahagia sehingga dapat membuat pribadinya berkembang dengan matang. "Kebanyakan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang, ternyata sewaktu kecil, ia mendapatkan kasih sayang dan cinta yang utuh dari orang tuanya. Artinya, kalau pola asuh orang tua membuat anak senang, tentu anak bisa berkembang secara optimal," ujar Shanti.

3. Ayah-ibu mesti kompak

Ayah dan ibu sebaiknya menerapkan pola asuh yang sama. Dalam hal ini, kedua orang tua sebaiknya "berkompromi" dalam menetapkan nilai-nilai yang boleh dan tidak. Jangan sampai orang tua saling bersebrangan karena hanya akan membuat anak bingung.

4. Pola asuh mesti disertai perilaku positif dari orang tua

Penerapan pola asuh juga membutuhkan sikap-sikap positif dari orang tua sehingga bisa dijadikan contoh/panutan bagi anaknya. Tanamkan nilai-nilai kebaikan dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami. Kelak diharapkan anak bisa menjadi manusia yang memiliki aturan dan norma yang baik, berbakti dan menjadi panutan bagi temannya dan orang lain.

5. Komunikasi Efektif

Bisa dikatakan komunikasi efektif merupakan sub-bagian dari pola asuh efektif. Syarat untuk berkomunikasi efektif sederhana kok, yaitu luang waktu untuk berbincang-bincang dengan anak. Jadilah pendengar yang baik dan jangan meremehkan pendapat anak. Bukalah selalu lahan diskusi tentang berbagai hal yang ingin diketahui anak. Jangan menganggap usianya yang masih belia membuatnya jadi tak tahu apa-apa. Dalam setiap diskusi, orang tua dapat memberikan saran, masukan, atau meluruskan pendapat anak yang keliru sehingga anak lebih terarah dan dapat mengembangkan potensinya dengan maksimal.

6. Disiplin

Penerapan disiplin juga menjadi bagian pola asuh. Mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, membereskan kamar sebelum berangkat sekolah atau menyimpan sesuatu pada tempatnya dengan rapi. Lantaran itu, anak pun perlu diajarkan membuat jadwal harian sehingga bisa lebih teratur dan efektif mengelola kegiatannya. Namun, penerapan disiplin mesti fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan/kondisi anak. Anak dengan kondisi lelah, umpamanya, jangan lantas diminta mengerjakan tugas sekolah hanya karena saat itu merupakan waktunya untuk belajar.

7. Orang tua Konsisten

Orang tua juga bisa menerapkan konsistensi sikap, misalnya anak tak boleh minum air dingin kalau sedang terserang batuk. Tapi kalau anak dalam keadaan sehat ya boleh-boleh saja. Dari situ ia belajar untuk konsisten terhadap sesuatu. Yang penting setiap aturan mesti disertai penjelasan yang bisa dipahami anak, kenapa ini tak boleh, kenapa itu boleh. Lama-lama, anak akan mengerti atau terbiasa mana yang boleh dan tidak. Orang tua juga sebaiknya konsisten. Jangan sampai lain kata dengan perbuatan. Misalnya, ayah atau ibu malah minum air dingin saat sakit batuk.

Hilman Hilmansyah. Ferdi/nakita

 


POLA ASUH DAN KECERDASAN

SALAH satu syarat pola asuh efektif adalah menyesuaikan pola asuh tersebut dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Untuk itulah Shanti menjabarkan delapan tipe kecerdasan dari Howard Gardner yang bertajuk Multiple Intelligences (MI), agar orang tua dapat mereka-reka di mana sebenarnya kemampuan si kecil berada. Secara singkat 8 tipe kecerdasan manusia dibagi menjadi berikut:

Kecerdasan matematika-logika, kemampuan berpikir secara induktif (dari kaidah khusus ke umum) dan deduktif (dari kaidah umum ke khusus), menurut aturan logika, memahami dan menganalisa pola angka, serta mampu memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir.

Kecerdasan bahasa, kemampuan menggunakan bahasa dan kata-kata secara lisan maupun tulisan untuk mengekspresikan gagasan atau ide-ide.

Kecerdasan musikal, kemampuan untuk peka terhadap suara-suara nonverbal di sekelilingnya, termasuk nada irama.

Kecerdasan visual spasial, kemampuan memahami lebih mendalam hubungan antara objek dan ruang. Kemampuan berimajinasi, menciptakan bentuk tiga dimensi, membayangkan bentuk nyata.

Kecerdasan Kinestetik, kemampuan menggunakan bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi atau memecahkan masalah. Misalnya, unggul dalam olahraga, seni tari, atau akrobat.

Kecerdasan interpersonal, kemampuan untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mampu memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan.

Kecerdasan intrapersonal, kemampuan peka terhadap perasaan diri sendiri, mengenal kekuatan dan kelebihan diri, introspeksi dan evaluasi diri.

Kecerdasan naturalis, kemampuan peka terhadap lingkungan alam. Misalnya senang berada di lingkungan pantai, gunung, atau hutan. Mengobservasi lingkungan alam.