Khasanah 158/ 1 : Perawatan Tubuh Usai Melahirkan
Khasanah 158/ 2 : Pantangan Buat Ibu 40 Hari Pasca Persalinan
Khasanah 158/ 3 : Sebelum 40 hari, Kuku Bayi Tidak Boleh Digunting
Khasanah 158/ 4 : Kisah Selebritis
Khasanah 158/ 5 : Cara Tepat Menyusui
Khasanah 158/ 6 : Belajar Memberikan Susu Dari Botol
Khasanah 158/ 7 : Menu Ibu Menyusui
Khasanah 158/ 8 : Perilaku Bayi Baru Lahir
Khasanah 158/ 9 : Hari-Hari Pertama Yang Melelahkan
Khasanah 158/10 : Si Kecil Tak Boleh Pulang Lantaran Kuning
Khasanah 158/11 : Si Prematur Masih Harus Dirawat
Khasanah 158/12 : Selapanan, Ungkapan Rasa Syukur Dan Mengajar Anak Berbagi

 

SI KECIL TAK BOLEH PULANG LANTARAN KUNING

Tak perlu takut berlebihan karena sebenarnya tak membahayakan. Asalkan kadar kuningnya tak tinggi dan segera ditangani.

Pada prinsipnya, semua bayi baru lahir akan mengalami kuning. "Biasanya kuningnya berlangsung dalam dua minggu pertama. Zat kuning ini namanya bilirubin. "Bilirubin ini masih dianggap normal kalau terjadi setelah 48 jam, kurang dari 2 minggu, dan kadarnya di bawah 12 mg/dl," terang dr. Rudy Firmansjah B. Rifai Sp.A dari bagian kelompok kerja Perinatologi RS Anak dan Bersalin Harapan Kita, Jakarta.

Bayi bisa kuning, lanjutnya, karena sewaktu di kandungan ia tak bernapas. Jadi, sel darah merahnya sewaktu di kandungan banyak sekali. Begitu lahir dan bernapas, sel darah merahnya hancur. Penghancuran ini membentuk zat yang namanya bilirubin. Nah, harusnya bilirubin dibuang oleh hati ke dalam empedu lalu ke usus. Tapi karena organ hati belum matang dan fungsinya belum bagus, maka pembuangan bilirubin dari darah ke usus belum lancar. Akibatnya, bilirubin dalam darah menumpuk.

Bilirubin ada dua macam; yang larut dalam air dan tak larut dalam air. Pada bayi, bilirubinnya terutama tak larut dalam air. Sementara kadar kuningnya, dibedakan antara normal dan tidak. Jadi, kadar kuningnya ada yang rendah dan tinggi. Yang tinggi itulah yang bisa menimbulkan masalah pada bayi. Di luar negeri, menurut Rudy, sudah disepakati, jika kadarnya di atas 25 mg/dl berarti sudah bisa membahayakan otak. Sedangkan di Indonesia disepakati bila kadarnya 20 mg/dl.

MENEMPEL DI OTAK

Pada beberapa kasus, tambah Rudy, ada bayi-bayi yang memang berisiko terjadi peningkatan bilirubin, karena penghancuran sel darah merahnya berlebihan. Misal, ibu golongan darah O dan bayinya golongan darah A atau B. Karena golongan darah O punya zat anti terhadap A dan B, maka bisa terjadi penghancuran darah yang berlebihan pada si bayi. Begitu pula dengan ibu rhesus negatif dan anak rhesus positif, pembentukan bilirubin akan berlebih. Bisa juga karena ada penyakit lain seperti kelainan darah atau apapun yang menyebabkan penghancuran sel darah merahnya berlebihan. Pada keadaan seperti itu pembentukan bilirubinnya cepat. Dalam waktu 48 jam pertama kadar kuningnya sudah tinggi.

Sebetulnya, zat kuning tak membahayakan di tempat lain. Tapi, kalau sudah di otak, bilirubin bisa menempel, karena otak kaya akan lemak. Kadar kuning yang tinggi bisa menembus semacam klep yang ada di otak hingga barrier itu membuka lalu masuk ke aliran darah otak. Jadi, bila terlambat menangani bayi yang kuning tinggi bisa berisiko tinggi dan berakibat fatal. Paling banyak akan menyerang saraf pendengaran hingga pendengaran anak jadi terganggu, meski mungkin tak sampai tuli, misal. Fatalnya, jika sampai ke otak dan menempel di otak, bisa membuat anak kejang, napas terganggu dan meninggal. Kejadian ini bisa berlangsung cepat. Itu kalau kadar bilirubinnya sampai mencapai 50-60 mg/dl.

Maka itu bila kadar kuningnya di atas 20 mg/dl atau tinggi sekali, dilakukan tukar darah. Tindakan tukar darah ini bukan berarti bilirubinnya dibuang tapi racunnya yang dibuang, dengan maksud agar pembentukan bilirubinnya tak cepat.

TAK BOLEH PULANG

Untuk mengetahui kadar kuningnya dilakukan pemeriksaan darah di RS. Biasanya pada hari ketiga setelah lahir. Umumnya, semua bayi, kalau diperiksa kadar bilirubinnya lebih dari 2 mg/dl. Pada beberapa bayi, ada yang kadar kuningnya tak kelihatan. Tapi jika diperiksa, sebetulnya kuning juga, mungkin hanya berkisar 6-7 mg/dl. Bila kadar kuningnya seperti ini/rendah tak perlu diapa-apakan, tak perlu perawatan. Jikapun masih berkisar di antara 8-9 mg/dl, bayi boleh dibawa pulang. Beberapa hari kemudian dibawa kontrol ke dokter lagi. Namun, jika kadar kuningnya berkisar 12-15 mg/dl, bayi belum boleh pulang dan harus dirawat di RS untuk mencegah bilirubin agar tak naik sampai kadar 20 mg/dl dan tak sampai ke otak.

Bukan berarti kita lantas boleh tenang-tenang saja, lo, jika si kecil diijinkan pulang karena kadar kuningnya rendah. Pasalnya, dalam 2 minggu, si kecil masih bisa kuning, karena prosesnya memang belum selesai. Jadi, harus tetap diperhatikan dan diwaspadai. "Kalau dilihat bayinya kuning, meski belum jadwalnya kontrol ke dokter, tetap harus segera dibawa ke dokter. Karena dikhawatirkan bila kadarnya sampai mencapai 20 mg/dl." Apalagi, untuk mengetahui kuning tidaknya memang sangat sulit. Terlebih jika warna kulit si bayi agak gelap. Cara termudah dengan melihat bagian putih mata karena bagian ini tak bisa menipu. Jika kuningnya biasa saja, tak terlalu tinggi, maka tak akan tampak warna kuning di mata, hanya di kulit. Ini tak perlu diapa-apakan. Namun bila tampak kuning di mata, segera bawa ke dokter untuk mengetahui jumlah kadar bilirubinnya.

Nah, mengingat dalam waktu 2 minggu masih ada kemungkinan untuk kuning, Rudy menyarankan para ibu yang ketika pulang bayinya agak kuning, agar tak minum jamu-jamuan atau makan ayam arak (tradisi etnis Cina) dulu. "Mungkin saja karena ada kontak dengan zat-zat yang merangsang penghancuran sel darah merah membuat bayinya kuning." Ini biasanya karena ada kelainan, seperti yang banyak di Indonesia yaitu kekurangan enzim G6-PD. Hingga, bayi rentan terhadap zat-zat tertentu yang membuat darahnya hancur berlebihan. Semisal kamper atau jamu-jamuan yang diminum si ibu menyusui. Meski keduanya ini bukan penyebab kuning tapi punya risiko membuat bayi jadi kuning.

Dedeh Kurniasih. Foto:Iman Dharma (nakita)

 

Orang Tua Harus Terlibat

Rudy menganjurkan agar orang tua ikut terlibat selama bayi kuning dirawat di RS. "Jika si ibu masih dalam perawatan, mungkin bisa rawat gabung. Jika sudah pulang sementara bayinya dirawat, jangan ditinggalkan begitu saja tapi seringlah menjenguknya."

Bila jarak rumah dengan RS cukup dekat, ibu bisa datang sehari dua atau tiga kali untuk merawat bayinya. Selain agar tetap ada ikatan emosional dengan bayinya, ibu pun jadi tahu bagaimana kondisi kuning bayinya. Tak hanya itu, ibu juga bisa tetap memberikan ASI. Jikapun tak menyusui langsung, setidaknya di rumah ibu sudah memompa ASI-nya dan membawanya ke RS, lalu dititipkan pada perawat di RS untuk diberikan pada bayinya.

Dedeh



 

Dilakukan Penyinaran

Di RS, terang Rudy, si kecil yang kuning akan dimasukkan ke dalam boks yang ada sinar birunya (blue light) dengan panjang gelombang tertentu. Tujuannya, mengubah bilirubin di kulit yang tak larut dalam air menjadi larut dalam air hingga bisa dibuang lewat urin/keringat.

Selama penyinaran, mata si kecil ditutup dengan semacam karbon untuk menghalangi sinar agar tak masuk ke mata. Pasalnya, di belakang bola mata ada retina yang peka sekali terhadap sinar yang terus menerus. Nah, ini yang dilindungi agar tak rusak.

Penyinaran dilakukan sepanjang hari dan berlangsung 1-2 hari. Si kecil akan dikeluarkan dari boks tersebut hanya bila pipis, BAB, atau diberi minum. Setelah penyinaran yang efektif, kadar kuningnya tak membahayakan lagi untuk otaknya.

Tentu saja, penyinaran tak bisa dilakukan sendiri di rumah. Selain karena alatnya tak ada, kita pun tak tahu jumlah kadar kuningnya. Kadarnya tetap harus diperiksa di RS/lab.

Jika setelah menjalani penyinaran, ternyata kuningnya tak kunjung hilang, harus dicari penyebabnya. "Mungkin saja salah satu penyebab tidak turunnya kadar kuning si bayi karena lampu yang digunakan untuk penyinaran sudah tak terlalu efektif lagi atau si bayi kurang begitu bagus minumnya hingga darahnya agak kental."

Bisa juga karena si bayi terlalu sering dikeluarkan dari boksnya ketika sedang menjalani penyinaran. Misal, sang ibu merasa kasihan dan si bayi diberi minum sepanjang hari, akhirnya penyinarannya tak efektif. Kemungkinan lain karena kelainan enzim atau penyakit infeksi.

Dedeh


 

Obat-obatan Tak Menguntungkan Bayi Kuning


Selain dengan penyinaran, bayi kuning juga harus banyak minum. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, dilakukan tukar darah. "Ada juga beberapa dokter yang memberikan obat-obatan tertentu. Namun di luar negeri, cara ini tak lagi digunakan karena tak ada untungnya, malah mungkin merugikan karena bayi jadi minum obat-obatan," terang Rudy. Misal, obat Phenobarbital. "Bukan hanya membuat anak mengantuk, tapi juga malas minum. Padahal, kan, dalam keadaan kuning, bayi harus mengejar cairan yang cukup banyak. Jadi, pemberian obat tersebut cukup menganggu." Selain itu, obat tersebut gunanya untuk mematangkan enzim hati, sementara enzim hati akan terangsang pembentukannya setelah 2 kali 24 jam atau dua hari lagi. "Jadi, bekerjanya obat ini percuma karena kuningnya mungkin saja sebelum waktunya itu akan tinggi."

Dedeh



Tak Disarankan Dijemur

Umumnya, kita disarankan menjemur bayi kuning di pagi hari karena dianggap bisa mengatasi kuning. Namun menurut Rudy, hal tersebut sebenarnya masih suatu yang kontroversi. Apalagi, sinar matahari sekarang sudah tak begitu baik lagi, mengingat keadaan ozon yang makin jelek. "Biasanya kalau sudah di atas jam 8.30 sinarnya sudah tak bagus lagi. Kalaupun mau menjemurnya, sekitar jam 7.00-7.30 dan tidak terlalu lama."

Namun demikian, Rudy tak menganjurkan untuk menjemur bayi kuning, karena bahayanya lebih banyak. "Kulit bayi akan terangsang sinar matahari hingga menyebabkan teriritasi dan si bayi jadi rewel. Apalah arti penguapan setengah jam bilirubin oleh sinar matahari dibandingkan dengan kerugian kulitnya teriritasi. Jadi, penyinaran dengan menjemur si bayi tak terlalu banyak membantu ataupun menguntungkan." Lebih baik, tambahnya, beri air minum/ASI yang banyak. Jika perlu, kembali ke RS untuk dilakukan penyinaran.

Dedeh

 


Bayi Kuning Karena ASI

Ternyata, ASI juga bisa bikin bayi kuning, lo. Istilahnya, breastmilk jaudice. Artinya, kuning yang disebabkan oleh zat dalam ASI. "Biasanya kuning karena ASI terjadi di usia 10 hari atau di atas 2 mingguan, jarang di bawah usia itu," terang Rudy. Tapi ini tak masalah, hanya si bayi dipuasakan dulu dari ASI selama 2 hari. Biasanya kuningnya akan turun drastis. Setelah itu bila diberikan ASI lagi takkan membuatnya kuning.

Dedeh