|
SI KECIL TAK BOLEH
PULANG LANTARAN KUNING
Tak
perlu takut berlebihan karena sebenarnya tak membahayakan. Asalkan
kadar kuningnya tak tinggi dan segera ditangani.
Pada
prinsipnya, semua bayi baru lahir akan mengalami kuning. "Biasanya
kuningnya berlangsung dalam dua minggu pertama. Zat kuning ini namanya
bilirubin. "Bilirubin ini masih dianggap normal kalau terjadi
setelah 48 jam, kurang dari 2 minggu, dan kadarnya di bawah 12 mg/dl,"
terang dr. Rudy Firmansjah B. Rifai Sp.A dari bagian kelompok
kerja Perinatologi RS Anak dan Bersalin Harapan Kita, Jakarta.
Bayi
bisa kuning, lanjutnya, karena sewaktu di kandungan ia tak bernapas.
Jadi, sel darah merahnya sewaktu di kandungan banyak sekali. Begitu
lahir dan bernapas, sel darah merahnya hancur. Penghancuran ini
membentuk zat yang namanya bilirubin. Nah, harusnya bilirubin dibuang
oleh hati ke dalam empedu lalu ke usus. Tapi karena organ hati belum
matang dan fungsinya belum bagus, maka pembuangan bilirubin dari
darah ke usus belum lancar. Akibatnya, bilirubin dalam darah menumpuk.
Bilirubin
ada dua macam; yang larut dalam air dan tak larut dalam air. Pada
bayi, bilirubinnya terutama tak larut dalam air. Sementara kadar
kuningnya, dibedakan antara normal dan tidak. Jadi, kadar kuningnya
ada yang rendah dan tinggi. Yang tinggi itulah yang bisa menimbulkan
masalah pada bayi. Di luar negeri, menurut Rudy, sudah disepakati,
jika kadarnya di atas 25 mg/dl berarti sudah bisa membahayakan otak.
Sedangkan di Indonesia disepakati bila kadarnya 20 mg/dl.
MENEMPEL
DI OTAK
Pada
beberapa kasus, tambah Rudy, ada bayi-bayi yang memang berisiko
terjadi peningkatan bilirubin, karena penghancuran sel darah merahnya
berlebihan. Misal, ibu golongan darah O dan bayinya golongan darah
A atau B. Karena golongan darah O punya zat anti terhadap A dan
B, maka bisa terjadi penghancuran darah yang berlebihan pada si
bayi. Begitu pula dengan ibu rhesus negatif dan anak rhesus positif,
pembentukan bilirubin akan berlebih. Bisa juga karena ada penyakit
lain seperti kelainan darah atau apapun yang menyebabkan penghancuran
sel darah merahnya berlebihan. Pada keadaan seperti itu pembentukan
bilirubinnya cepat. Dalam waktu 48 jam pertama kadar kuningnya sudah
tinggi.
Sebetulnya,
zat kuning tak membahayakan di tempat lain. Tapi, kalau sudah di
otak, bilirubin bisa menempel, karena otak kaya akan lemak. Kadar
kuning yang tinggi bisa menembus semacam klep yang ada di otak hingga
barrier itu membuka lalu masuk ke aliran darah otak. Jadi, bila
terlambat menangani bayi yang kuning tinggi bisa berisiko tinggi
dan berakibat fatal. Paling banyak akan menyerang saraf pendengaran
hingga pendengaran anak jadi terganggu, meski mungkin tak sampai
tuli, misal. Fatalnya, jika sampai ke otak dan menempel di otak,
bisa membuat anak kejang, napas terganggu dan meninggal. Kejadian
ini bisa berlangsung cepat. Itu kalau kadar bilirubinnya sampai
mencapai 50-60 mg/dl.
Maka
itu bila kadar kuningnya di atas 20 mg/dl atau tinggi sekali, dilakukan
tukar darah. Tindakan tukar darah ini bukan berarti bilirubinnya
dibuang tapi racunnya yang dibuang, dengan maksud agar pembentukan
bilirubinnya tak cepat.
TAK
BOLEH PULANG
Untuk
mengetahui kadar kuningnya dilakukan pemeriksaan darah di RS. Biasanya
pada hari ketiga setelah lahir. Umumnya, semua bayi, kalau diperiksa
kadar bilirubinnya lebih dari 2 mg/dl. Pada beberapa bayi, ada yang
kadar kuningnya tak kelihatan. Tapi jika diperiksa, sebetulnya kuning
juga, mungkin hanya berkisar 6-7 mg/dl. Bila kadar kuningnya seperti
ini/rendah tak perlu diapa-apakan, tak perlu perawatan. Jikapun
masih berkisar di antara 8-9 mg/dl, bayi boleh dibawa pulang. Beberapa
hari kemudian dibawa kontrol ke dokter lagi. Namun, jika kadar kuningnya
berkisar 12-15 mg/dl, bayi belum boleh pulang dan harus dirawat
di RS untuk mencegah bilirubin agar tak naik sampai kadar 20 mg/dl
dan tak sampai ke otak.
Bukan
berarti kita lantas boleh tenang-tenang saja, lo, jika si kecil
diijinkan pulang karena kadar kuningnya rendah. Pasalnya, dalam
2 minggu, si kecil masih bisa kuning, karena prosesnya memang belum
selesai. Jadi, harus tetap diperhatikan dan diwaspadai. "Kalau
dilihat bayinya kuning, meski belum jadwalnya kontrol ke dokter,
tetap harus segera dibawa ke dokter. Karena dikhawatirkan bila kadarnya
sampai mencapai 20 mg/dl." Apalagi, untuk mengetahui kuning
tidaknya memang sangat sulit. Terlebih jika warna kulit si bayi
agak gelap. Cara termudah dengan melihat bagian putih mata karena
bagian ini tak bisa menipu. Jika kuningnya biasa saja, tak terlalu
tinggi, maka tak akan tampak warna kuning di mata, hanya di kulit.
Ini tak perlu diapa-apakan. Namun bila tampak kuning di mata, segera
bawa ke dokter untuk mengetahui jumlah kadar bilirubinnya.
Nah,
mengingat dalam waktu 2 minggu masih ada kemungkinan untuk kuning,
Rudy menyarankan para ibu yang ketika pulang bayinya agak kuning,
agar tak minum jamu-jamuan atau makan ayam arak (tradisi etnis Cina)
dulu. "Mungkin saja karena ada kontak dengan zat-zat yang merangsang
penghancuran sel darah merah membuat bayinya kuning." Ini biasanya
karena ada kelainan, seperti yang banyak di Indonesia yaitu kekurangan
enzim G6-PD. Hingga, bayi rentan terhadap zat-zat tertentu yang
membuat darahnya hancur berlebihan. Semisal kamper atau jamu-jamuan
yang diminum si ibu menyusui. Meski keduanya ini bukan penyebab
kuning tapi punya risiko membuat bayi jadi kuning.
Dedeh
Kurniasih. Foto:Iman Dharma (nakita)
|
|
Orang
Tua Harus Terlibat
Rudy
menganjurkan agar orang tua ikut terlibat selama bayi kuning
dirawat di RS. "Jika si ibu masih dalam perawatan,
mungkin bisa rawat gabung. Jika sudah pulang sementara bayinya
dirawat, jangan ditinggalkan begitu saja tapi seringlah
menjenguknya."
Bila
jarak rumah dengan RS cukup dekat, ibu bisa datang sehari
dua atau tiga kali untuk merawat bayinya. Selain agar tetap
ada ikatan emosional dengan bayinya, ibu pun jadi tahu bagaimana
kondisi kuning bayinya. Tak hanya itu, ibu juga bisa tetap
memberikan ASI. Jikapun tak menyusui langsung, setidaknya
di rumah ibu sudah memompa ASI-nya dan membawanya ke RS,
lalu dititipkan pada perawat di RS untuk diberikan pada
bayinya.
Dedeh
|
|
Dilakukan
Penyinaran
Di
RS, terang Rudy, si kecil yang kuning akan dimasukkan
ke dalam boks yang ada sinar birunya (blue light)
dengan panjang gelombang tertentu. Tujuannya, mengubah bilirubin
di kulit yang tak larut dalam air menjadi larut dalam air
hingga bisa dibuang lewat urin/keringat.
Selama
penyinaran, mata si kecil ditutup dengan semacam karbon
untuk menghalangi sinar agar tak masuk ke mata. Pasalnya,
di belakang bola mata ada retina yang peka sekali terhadap
sinar yang terus menerus. Nah, ini yang dilindungi agar
tak rusak.
Penyinaran
dilakukan sepanjang hari dan berlangsung 1-2 hari. Si kecil
akan dikeluarkan dari boks tersebut hanya bila pipis, BAB,
atau diberi minum. Setelah penyinaran yang efektif, kadar
kuningnya tak membahayakan lagi untuk otaknya.
Tentu
saja, penyinaran tak bisa dilakukan sendiri di rumah. Selain
karena alatnya tak ada, kita pun tak tahu jumlah kadar kuningnya.
Kadarnya tetap harus diperiksa di RS/lab.
Jika
setelah menjalani penyinaran, ternyata kuningnya tak kunjung
hilang, harus dicari penyebabnya. "Mungkin saja salah
satu penyebab tidak turunnya kadar kuning si bayi karena
lampu yang digunakan untuk penyinaran sudah tak terlalu
efektif lagi atau si bayi kurang begitu bagus minumnya hingga
darahnya agak kental."
Bisa
juga karena si bayi terlalu sering dikeluarkan dari boksnya
ketika sedang menjalani penyinaran. Misal, sang ibu merasa
kasihan dan si bayi diberi minum sepanjang hari, akhirnya
penyinarannya tak efektif. Kemungkinan lain karena kelainan
enzim atau penyakit infeksi.
Dedeh
|
|
Obat-obatan
Tak Menguntungkan Bayi Kuning
Selain
dengan penyinaran, bayi kuning juga harus banyak minum.
Jika kadarnya lebih tinggi lagi, dilakukan tukar darah.
"Ada juga beberapa dokter yang memberikan obat-obatan
tertentu. Namun di luar negeri, cara ini tak lagi digunakan
karena tak ada untungnya, malah mungkin merugikan karena
bayi jadi minum obat-obatan," terang Rudy. Misal,
obat Phenobarbital. "Bukan hanya membuat anak mengantuk,
tapi juga malas minum. Padahal, kan, dalam keadaan kuning,
bayi harus mengejar cairan yang cukup banyak. Jadi, pemberian
obat tersebut cukup menganggu." Selain itu, obat tersebut
gunanya untuk mematangkan enzim hati, sementara enzim hati
akan terangsang pembentukannya setelah 2 kali 24 jam atau
dua hari lagi. "Jadi, bekerjanya obat ini percuma karena
kuningnya mungkin saja sebelum waktunya itu akan tinggi."
Dedeh
|
|
Tak
Disarankan Dijemur
Umumnya,
kita disarankan menjemur bayi kuning di pagi hari karena
dianggap bisa mengatasi kuning. Namun menurut Rudy,
hal tersebut sebenarnya masih suatu yang kontroversi. Apalagi,
sinar matahari sekarang sudah tak begitu baik lagi, mengingat
keadaan ozon yang makin jelek. "Biasanya kalau sudah
di atas jam 8.30 sinarnya sudah tak bagus lagi. Kalaupun
mau menjemurnya, sekitar jam 7.00-7.30 dan tidak terlalu
lama."
Namun
demikian, Rudy tak menganjurkan untuk menjemur bayi kuning,
karena bahayanya lebih banyak. "Kulit bayi akan terangsang
sinar matahari hingga menyebabkan teriritasi dan si bayi
jadi rewel. Apalah arti penguapan setengah jam bilirubin
oleh sinar matahari dibandingkan dengan kerugian kulitnya
teriritasi. Jadi, penyinaran dengan menjemur si bayi tak
terlalu banyak membantu ataupun menguntungkan." Lebih
baik, tambahnya, beri air minum/ASI yang banyak. Jika perlu,
kembali ke RS untuk dilakukan penyinaran.
Dedeh
|
|
Bayi
Kuning Karena ASI
Ternyata,
ASI juga bisa bikin bayi kuning, lo. Istilahnya, breastmilk
jaudice. Artinya, kuning yang disebabkan oleh zat dalam
ASI. "Biasanya kuning karena ASI terjadi di usia 10
hari atau di atas 2 mingguan, jarang di bawah usia itu,"
terang Rudy. Tapi ini tak masalah, hanya si bayi
dipuasakan dulu dari ASI selama 2 hari. Biasanya kuningnya
akan turun drastis. Setelah itu bila diberikan ASI lagi
takkan membuatnya kuning.
Dedeh
|
|