Khasanah 158/ 1 : Perawatan Tubuh Usai Melahirkan
Khasanah 158/ 2 : Pantangan Buat Ibu 40 Hari Pasca Persalinan
Khasanah 158/ 3 : Sebelum 40 hari, Kuku Bayi Tidak Boleh Digunting
Khasanah 158/ 4 : Kisah Selebritis
Khasanah 158/ 5 : Cara Tepat Menyusui
Khasanah 158/ 6 : Belajar Memberikan Susu Dari Botol
Khasanah 158/ 7 : Menu Ibu Menyusui
Khasanah 158/ 8 : Perilaku Bayi Baru Lahir
Khasanah 158/ 9 : Hari-Hari Pertama Yang Melelahkan
Khasanah 158/10 : Si Kecil Tak Boleh Pulang Lantaran Kuning
Khasanah 158/11 : Si Prematur Masih Harus Dirawat
Khasanah 158/12 : Selapanan, Ungkapan Rasa Syukur Dan Mengajar Anak Berbagi

 

HARI-HARI PERTAMA YANG MELELAHKAN

Bukan cuma proses persalinan itu sendiri yang menguras energi. Banyak hal lain yang juga menjadi penyebabnya.

Tak bisa dipungkiri, persalinan memang merupakan "kerja" yang sangat melelahkan, baik secara fisik maupun psikis. Minimal untuk mengejan (persalinan spontan per vaginam), terang dr. Chairulsjah Sjahruddin, Sp.OG, MARS, dibutuhkan tenaga luar biasa. Bisa dimaklumi bila hari-hari pertama setelah melahirkan memang merupakan saat-saat yang melelahkan.

Kendati tak berarti mereka yang melahirkan bukan dengan cara spontan tak mengalami kelelahan, lo. Soalnya, kelelahan yang muncul merupakan akumulasi kelelahan yang terjadi sepanjang kehamilan. Bukankah saat-saat terakhir menjelang persalinan pikiran si ibu sedemikian tegang? Entah menghadapi persalinan itu sendiri maupun sibuk memikirkan berbagai hal. Semisal, apakah bayinya akan lahir selamat, tidak cacat, atau bakal mirip siapa dan sebagainya.

PROGRAM MENYUSUI

Jangan dikira menyusui si kecil tak menimbulkan kelelahan, lo. Pasalnya, untuk bisa menyusui dengan baik, dari si ibu dituntut usaha keras dan kesediaan belajar. Apalagi bila bayi tersebut merupakan anak pertama. Sementara untuk bisa memberi ASI secara benar, terang ginekolog dari RS Persahabatan, dr. M. Iqbal, Sp.OG, dibutuhkan kalori yang tak sedikit. Yakni setara dengan kebutuhan untuk ngepel atau kira-kira sepertiga dari seluruh kalori yang dikeluarkan ibu dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, yakni sekitar 1000-1500 kalori.

Bukan cuma itu. Menyusui jadi sangat melelahkan karena untuk memenuhi kebutuhan bayinya, si ibu harus bersedia memberikannya on demand. Artinya, ia harus siap menyusui kapan saja si bayi minta disusui. Tengah malam sekalipun atau waktu lain saat ibu justru butuh istirahat. Sedangkan jika dihitung-hitung, setiap kali menyusui, termasuk persiapannya, paling tidak butuh waktu setengah jam. Nah, berapa banyak waktu yang tersita hanya untuk acara yang satu ini? Belum lagi kesibukan lain mengurusi keperluan si bayi. Cukup merepotkan, kan? Hingga bila tak diikuti motivasi menyusui yang tinggi, bukan tak mungkin si ibu akan mengalami kelelahan yang luar biasa dan akhirnya jatuh sakit.

Walaupun, kata Iqbal, selelah apa pun tetap harus diingat bahwa ASI sangat penting buat tumbuh kembang bayi. Selain murah karena tak harus membeli, menyiapkannya pun tak begitu merepotkan ketimbang susu botol. Belum lagi kandungan gizi terbaiknya dan zat kekebalan yang sampai saat ini belum tertandingi ataupun bisa disuplai oleh susu formula merk apa pun. Disamping manfaat psikologis karena ibu yang memberikan ASI ternyata bisa lebih tenang. Demikian pula dengan si kecil.

Hanya saja yang perlu disadari kaum ibu, pengadaan ASI juga amat ditentukan oleh kondisi kesehatan si ibu secara umum. Yang antara lain amat tergantung pada kualitas asupan makanan yang dikonsumsinya. Artinya, seorang ibu yang memiliki kondisi kesehatan baik dan memperhatikan betul kualitas makanannya, besar kemungkinan produksi ASI-nya baik. Selain lebih mampu menangkal kelelahan. Dalam arti, kalaupun sama-sama lelah, ia lebih mampu bertahan dibanding sesama ibu yang kondisi kesehatan maupun asupan gizinya relatif buruk.

Selain asupan gizi yang baik, dari si ibu pun dituntut kemampuan manajemen waktu yang baik. Dengan kata lain, ia harus pandai mengatur/menggunakan waktu seoptimal mungkin. Semisal membatasi kebiasaan menonton TV yang kurang bermanfaat dan harus bisa memanfaatkan waktu luang saat si bayi tidur untuk beristirahat. Langkah-langkah ini bisa membantu ibu tetap sehat sekaligus menjaga produksi ASI tetap lancar.

KEGAGALAN RAWAT GABUNG

Sebetulnya, tegas Chairulsjah, melalui konsep rawat gabung diharapkan sejak awal sudah terjalin attachment yang sedemikian erat antara ibu dan bayinya. Selain kesempatan bagus buat si ibu untuk melatih keterampilannya mengurusi bayinya dan mengatur segalanya. Sayangnya, banyak ibu yang menganggap konsep ini sebagai pemaksaan belaka ataupun akal-akalan para suster buat meringankan tugas mereka. Tak mengherankan bila pola perawatan rooming in itu acap gagal karena keengganan si ibu sendiri dengan segala macam alasan.

Padahal dengan pola rawat gabung ini, setidaknya ibu jadi lebih mengenali bayinya. Termasuk lebih cepat membedakan suara tangis bayinya. Mana yang karena lapar, popoknya basah, risih usai BAB atau sebab lain. Nah, dengan mengenali makna tangisan bayinya, si ibu bisa segera mengambil tindakan tepat untuk menenangkan bayinya. Dengan begitu bayi jadi tak terlalu sering menangis yang hanya akan membuat si ibu makin letih dan merasa tak berdaya.

BANTUAN ORANG LAIN

Baik Chairulsjah maupun Iqbal sepakat bahwa kelelahan ibu di hari-hari pertama setelah persalinan, sebetulnya bisa diminimalkan dengan kehadiran/bantuan orang lain, terutama suami dan keluarga. Toh, kecuali mengandung, melahirkan dan menyusui, pekerjaan-pekerjaan lain seputar bayi bisa ditangani orang lain di luar ibu. Semisal menggendong, mengganti popok, ikut atau bergantian bangun tengah malam, dan sebagainya. Itu sebab, dukungan/sikap positif dari pasangan dan keluarga akan memberi kekuatan tersendiri bagi si ibu. Disamping ikut membantu menyuburkan terciptanya kedekatan/attachment si ibu terhadap bayinya. Dalam arti, si ibu bisa lebih tulus merawat bayinya karena tak menganggap kehadiran bayinya sebagai beban.

Lebih jauh, tegas Chairulsjah, kedekatan si ibu terhadap bayinya ini akan sangat menentukan atau setidaknya mempengaruhi sikapnya dalam menghadapi dan merawat bayi. Sementara bayi yang tak mendapat perawatan semestinya bisa dipastikan kondisi kesehatannya tak menggembirakan. Itulah mengapa, persiapan menjadi orang tua, dalam arti berperan sebagai ayah dan ibu, merupakan salah satu kondisi psikologis yang dituntut. Dengan kata lain, semakin baik persiapan yang dilakukan dalam menghadapi peran barunya sebagai ayah dan ibu, semakin mantap pula orang tua membawa bayinya pulang dari RS dan mengambil alih perawatannya.

Th. Puspayanti. Foto:Dint's/nakita

 

Waspadai Postpartum Blues

Menurut Chairulsjah, kelelahan fisik dan psikis ibu sangat potensial memunculkan apa yang dinamakan postpartum blues. Yakni, keadaan depresi secara fisik maupun psikis pada ibu yang dapat terjadi beberapa hari setelah kelahiran sampai kira-kira sebulan kemudian. Pemicunya sendiri cukup beragam: mulai perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan, proses melahirkan yang meletihkan, sampai peningkatan kebutuhan ekonomi maupun kebiasaan hidup yang berubah drastis. Misal, ibu yang terbiasa bekerja dan berkesempatan ketemu banyak orang, saat cuti melahirkan bukan tak mungkin jadi didera kebosanan/kesendirian.

Keadaan ini akan lebih diperburuk bila ibu terlalu menaruh harapan tinggi bahwa ia dapat mengatasi segalanya, sedangkan pada kenyataannya ia seringkali dibuat tak berdaya. Belum lagi kekhawatiran ibu mengenai kesehatan dirinya dan bayinya, hingga muncul perasaan sedih dan tak berdaya secara berkepanjangan tadi. Tentu saja masalah ini bisa mengganggu kemampuan ibu untuk merawat bayinya. Kalau sudah begitu, perlu dicari bantuan profesional, semisal berkonsultasi dengan psikolog.

Yanti


Perhatikan Diri Sendiri

Tak bisa dipungkiri seringkali ibu baru "melupakan" dirinya sendiri. Seluruh waktunya seolah habis tersedot oleh kehadiran si kecil. Padahal, bilang Chairulsjah, tidak harus demikian. Ibu justru harus bisa menyisihkan waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas pribadinya. "Kalau tidak, bisa-bisa ia mengalami kelelahan yang luar biasa yang bisa berakibat buruk." Jangan sampai karena repot sendirian mengurusi si kecil, ibu sama sekali tak punya waktu untuk merawat/mengurus dirinya sendiri. Lalu pada gilirannya, akan tumbuh sikap negatif karena kehadiran si kecil dianggapnya sebagai beban belaka yang membatasi segala haknya sebagai seorang pribadi.

Nah, sekarang tinggal bagaimana caranya mengatasi kerepotan tersebut. Seperti diuraikan di atas, yang pasti, si ibu perlu dibantu. Jangan ragu untuk melibatkan suami maupun kerabat dekat lainnya untuk mengurus si kecil. Dengan begitu, selain kerepotan si ibu bisa teratasi, bayi pun akan memiliki kedekatan pada ayahnya yang amat menguntungkan bagi perkembangannya.

Untuk memudahkan tugas ibu, buatlah catatan harian tentang kegiatan si kecil. Misalnya, kapan menyusu dan kira-kira berapa banyak, bagaimana pola tidurnya, berapa jam sekali ia pipis dan buang air besar. Catatan harian ini akan sangat membantu ibu mengatur jadwal pribadinya. Hingga bisa "mencuri" waktu untuk istirahat sejenak ataupun memanfaatkannya untuk kebutuhan pribadi.

Saran Chairul, sempatkan untuk mendengarkan musik bila memang suka. Berolahraga sekitar 5-10 menit juga bisa membantu meningkatkan energi, lo. Bila dirasa perlu, sesekali ibu pun bisa ke luar rumah untuk meringankan beban emosional. Entah dengan berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan tempat tinggal, bermain ke rumah tetangga, mengunjungi sahabat atau jalan-jalan ke mal. Namun saat meninggalkan si kecil, pastikan ia aman bersama pengasuhnya.

Yanti


Meminimalkan Ketegangan Saat Persalinan

Idealnya, tegas Chairulsjah, memang sudah harus dipikirkan bagaimana agar menjelang persalinan ibu-ibu hamil tidak tegang mendengar jeritan kesakitan si ibu di sebelahnya. "Harusnya ada ruang tersendiri saat kala I yang memungkinkan si ibu ditunggui/didampingi keluarga dekatnya, hingga ada support yang membuatnya merasa tak sendirian." Karena kenyamanan semacam ini akan sangat menentukan persalinan bisa berjalan normal atau tidak.

Desain rumah sakit pun bahkan sudah harus dipikirkan jauh-jauh hari. Sayangnya, desain di banyak RS ataupun RSB kita justru mengkondisikan 6-8 ibu melahirkan berderet sekaligus di ruang-ruang yang hanya dibatasi sekat tipis. "Jangan salahkan bila pasien lari keluar karena takut mendengar teriakan tetangga kanan-kirinya." Saat pemulihan di RS pun harusnya dipikirkan kenyamanan buat si ibu. Jangan sampai ia dibiarkan di tempat yang kurang nyaman tanpa pendampingan sedikit pun. Akibatnya, si ibu merasa tak diurusi karena semua perhatian tercurah hanya pada bayinya.

Padahal terhadap si ibu harus dilakukan observasi selama 2 jam pertama setelah melahirkan untuk mengamati adakah perdarahan postpartum atau tidak. Terutama early postpartum hemorrhage yang terjadi dalam kurun waktu 1 x 24 jam setelah anak lahir. Itulah mengapa 2 jam setelah melahirkan secara normal atau 8 jam untuk yang melahirkan secara sesar, si ibu akan dibiarkan di area kamar bersalin agar betul-betul bisa dipantau perkembangannya detik demi detik.

Yanti