|
HARI-HARI PERTAMA
YANG MELELAHKAN
Bukan
cuma proses persalinan itu sendiri yang menguras energi. Banyak
hal lain yang juga menjadi penyebabnya.
Tak
bisa dipungkiri, persalinan memang merupakan "kerja" yang
sangat melelahkan, baik secara fisik maupun psikis. Minimal untuk
mengejan (persalinan spontan per vaginam), terang dr. Chairulsjah
Sjahruddin, Sp.OG, MARS, dibutuhkan tenaga luar biasa. Bisa
dimaklumi bila hari-hari pertama setelah melahirkan memang merupakan
saat-saat yang melelahkan.
Kendati
tak berarti mereka yang melahirkan bukan dengan cara spontan tak
mengalami kelelahan, lo. Soalnya, kelelahan yang muncul merupakan
akumulasi kelelahan yang terjadi sepanjang kehamilan. Bukankah saat-saat
terakhir menjelang persalinan pikiran si ibu sedemikian tegang?
Entah menghadapi persalinan itu sendiri maupun sibuk memikirkan
berbagai hal. Semisal, apakah bayinya akan lahir selamat, tidak
cacat, atau bakal mirip siapa dan sebagainya.
PROGRAM MENYUSUI
Jangan
dikira menyusui si kecil tak menimbulkan kelelahan, lo. Pasalnya,
untuk bisa menyusui dengan baik, dari si ibu dituntut usaha keras
dan kesediaan belajar. Apalagi bila bayi tersebut merupakan anak
pertama. Sementara untuk bisa memberi ASI secara benar, terang ginekolog
dari RS Persahabatan, dr. M. Iqbal, Sp.OG, dibutuhkan kalori
yang tak sedikit. Yakni setara dengan kebutuhan untuk ngepel atau
kira-kira sepertiga dari seluruh kalori yang dikeluarkan ibu dalam
menjalankan aktivitasnya sehari-hari, yakni sekitar 1000-1500 kalori.
Bukan
cuma itu. Menyusui jadi sangat melelahkan karena untuk memenuhi
kebutuhan bayinya, si ibu harus bersedia memberikannya on demand.
Artinya, ia harus siap menyusui kapan saja si bayi minta disusui.
Tengah malam sekalipun atau waktu lain saat ibu justru butuh istirahat.
Sedangkan jika dihitung-hitung, setiap kali menyusui, termasuk persiapannya,
paling tidak butuh waktu setengah jam. Nah, berapa banyak waktu
yang tersita hanya untuk acara yang satu ini? Belum lagi kesibukan
lain mengurusi keperluan si bayi. Cukup merepotkan, kan? Hingga
bila tak diikuti motivasi menyusui yang tinggi, bukan tak mungkin
si ibu akan mengalami kelelahan yang luar biasa dan akhirnya jatuh
sakit.
Walaupun,
kata Iqbal, selelah apa pun tetap harus diingat bahwa ASI sangat
penting buat tumbuh kembang bayi. Selain murah karena tak harus
membeli, menyiapkannya pun tak begitu merepotkan ketimbang susu
botol. Belum lagi kandungan gizi terbaiknya dan zat kekebalan yang
sampai saat ini belum tertandingi ataupun bisa disuplai oleh susu
formula merk apa pun. Disamping manfaat psikologis karena ibu yang
memberikan ASI ternyata bisa lebih tenang. Demikian pula dengan
si kecil.
Hanya
saja yang perlu disadari kaum ibu, pengadaan ASI juga amat ditentukan
oleh kondisi kesehatan si ibu secara umum. Yang antara lain amat
tergantung pada kualitas asupan makanan yang dikonsumsinya. Artinya,
seorang ibu yang memiliki kondisi kesehatan baik dan memperhatikan
betul kualitas makanannya, besar kemungkinan produksi ASI-nya baik.
Selain lebih mampu menangkal kelelahan. Dalam arti, kalaupun sama-sama
lelah, ia lebih mampu bertahan dibanding sesama ibu yang kondisi
kesehatan maupun asupan gizinya relatif buruk.
Selain
asupan gizi yang baik, dari si ibu pun dituntut kemampuan manajemen
waktu yang baik. Dengan kata lain, ia harus pandai mengatur/menggunakan
waktu seoptimal mungkin. Semisal membatasi kebiasaan menonton TV
yang kurang bermanfaat dan harus bisa memanfaatkan waktu luang saat
si bayi tidur untuk beristirahat. Langkah-langkah ini bisa membantu
ibu tetap sehat sekaligus menjaga produksi ASI tetap lancar.
KEGAGALAN
RAWAT GABUNG
Sebetulnya,
tegas Chairulsjah, melalui konsep rawat gabung diharapkan sejak
awal sudah terjalin attachment yang sedemikian erat antara
ibu dan bayinya. Selain kesempatan bagus buat si ibu untuk melatih
keterampilannya mengurusi bayinya dan mengatur segalanya. Sayangnya,
banyak ibu yang menganggap konsep ini sebagai pemaksaan belaka ataupun
akal-akalan para suster buat meringankan tugas mereka. Tak mengherankan
bila pola perawatan rooming in itu acap gagal karena keengganan
si ibu sendiri dengan segala macam alasan.
Padahal
dengan pola rawat gabung ini, setidaknya ibu jadi lebih mengenali
bayinya. Termasuk lebih cepat membedakan suara tangis bayinya. Mana
yang karena lapar, popoknya basah, risih usai BAB atau sebab lain.
Nah, dengan mengenali makna tangisan bayinya, si ibu bisa segera
mengambil tindakan tepat untuk menenangkan bayinya. Dengan begitu
bayi jadi tak terlalu sering menangis yang hanya akan membuat si
ibu makin letih dan merasa tak berdaya.
BANTUAN
ORANG LAIN
Baik
Chairulsjah maupun Iqbal sepakat bahwa kelelahan ibu di hari-hari
pertama setelah persalinan, sebetulnya bisa diminimalkan dengan
kehadiran/bantuan orang lain, terutama suami dan keluarga. Toh,
kecuali mengandung, melahirkan dan menyusui, pekerjaan-pekerjaan
lain seputar bayi bisa ditangani orang lain di luar ibu. Semisal
menggendong, mengganti popok, ikut atau bergantian bangun tengah
malam, dan sebagainya. Itu sebab, dukungan/sikap positif dari pasangan
dan keluarga akan memberi kekuatan tersendiri bagi si ibu. Disamping
ikut membantu menyuburkan terciptanya kedekatan/attachment
si ibu terhadap bayinya. Dalam arti, si ibu bisa lebih tulus merawat
bayinya karena tak menganggap kehadiran bayinya sebagai beban.
Lebih
jauh, tegas Chairulsjah, kedekatan si ibu terhadap bayinya ini akan
sangat menentukan atau setidaknya mempengaruhi sikapnya dalam menghadapi
dan merawat bayi. Sementara bayi yang tak mendapat perawatan semestinya
bisa dipastikan kondisi kesehatannya tak menggembirakan. Itulah
mengapa, persiapan menjadi orang tua, dalam arti berperan sebagai
ayah dan ibu, merupakan salah satu kondisi psikologis yang dituntut.
Dengan kata lain, semakin baik persiapan yang dilakukan dalam menghadapi
peran barunya sebagai ayah dan ibu, semakin mantap pula orang tua
membawa bayinya pulang dari RS dan mengambil alih perawatannya.
Th.
Puspayanti. Foto:Dint's/nakita
|
|
Waspadai
Postpartum Blues
Menurut
Chairulsjah, kelelahan fisik dan psikis ibu sangat
potensial memunculkan apa yang dinamakan postpartum blues.
Yakni, keadaan depresi secara fisik maupun psikis pada ibu
yang dapat terjadi beberapa hari setelah kelahiran sampai
kira-kira sebulan kemudian. Pemicunya sendiri cukup beragam:
mulai perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan,
proses melahirkan yang meletihkan, sampai peningkatan kebutuhan
ekonomi maupun kebiasaan hidup yang berubah drastis. Misal,
ibu yang terbiasa bekerja dan berkesempatan ketemu banyak
orang, saat cuti melahirkan bukan tak mungkin jadi didera
kebosanan/kesendirian.
Keadaan
ini akan lebih diperburuk bila ibu terlalu menaruh harapan
tinggi bahwa ia dapat mengatasi segalanya, sedangkan pada
kenyataannya ia seringkali dibuat tak berdaya. Belum lagi
kekhawatiran ibu mengenai kesehatan dirinya dan bayinya,
hingga muncul perasaan sedih dan tak berdaya secara berkepanjangan
tadi. Tentu saja masalah ini bisa mengganggu kemampuan ibu
untuk merawat bayinya. Kalau sudah begitu, perlu dicari
bantuan profesional, semisal berkonsultasi dengan psikolog.
Yanti
|
|
Perhatikan
Diri Sendiri
Tak
bisa dipungkiri seringkali ibu baru "melupakan"
dirinya sendiri. Seluruh waktunya seolah habis tersedot
oleh kehadiran si kecil. Padahal, bilang Chairulsjah,
tidak harus demikian. Ibu justru harus bisa menyisihkan
waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas pribadinya.
"Kalau tidak, bisa-bisa ia mengalami kelelahan yang
luar biasa yang bisa berakibat buruk." Jangan sampai
karena repot sendirian mengurusi si kecil, ibu sama sekali
tak punya waktu untuk merawat/mengurus dirinya sendiri.
Lalu pada gilirannya, akan tumbuh sikap negatif karena kehadiran
si kecil dianggapnya sebagai beban belaka yang membatasi
segala haknya sebagai seorang pribadi.
Nah,
sekarang tinggal bagaimana caranya mengatasi kerepotan tersebut.
Seperti diuraikan di atas, yang pasti, si ibu perlu dibantu.
Jangan ragu untuk melibatkan suami maupun kerabat dekat
lainnya untuk mengurus si kecil. Dengan begitu, selain kerepotan
si ibu bisa teratasi, bayi pun akan memiliki kedekatan pada
ayahnya yang amat menguntungkan bagi perkembangannya.
Untuk
memudahkan tugas ibu, buatlah catatan harian tentang kegiatan
si kecil. Misalnya, kapan menyusu dan kira-kira berapa banyak,
bagaimana pola tidurnya, berapa jam sekali ia pipis dan
buang air besar. Catatan harian ini akan sangat membantu
ibu mengatur jadwal pribadinya. Hingga bisa "mencuri"
waktu untuk istirahat sejenak ataupun memanfaatkannya untuk
kebutuhan pribadi.
Saran
Chairul, sempatkan untuk mendengarkan musik bila memang
suka. Berolahraga sekitar 5-10 menit juga bisa membantu
meningkatkan energi, lo. Bila dirasa perlu, sesekali ibu
pun bisa ke luar rumah untuk meringankan beban emosional.
Entah dengan berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan
tempat tinggal, bermain ke rumah tetangga, mengunjungi sahabat
atau jalan-jalan ke mal. Namun saat meninggalkan si kecil,
pastikan ia aman bersama pengasuhnya.
Yanti
|
|
Meminimalkan
Ketegangan Saat Persalinan
Idealnya,
tegas Chairulsjah, memang sudah harus dipikirkan
bagaimana agar menjelang persalinan ibu-ibu hamil tidak
tegang mendengar jeritan kesakitan si ibu di sebelahnya.
"Harusnya ada ruang tersendiri saat kala I yang memungkinkan
si ibu ditunggui/didampingi keluarga dekatnya, hingga ada
support yang membuatnya merasa tak sendirian."
Karena kenyamanan semacam ini akan sangat menentukan persalinan
bisa berjalan normal atau tidak.
Desain
rumah sakit pun bahkan sudah harus dipikirkan jauh-jauh
hari. Sayangnya, desain di banyak RS ataupun RSB kita justru
mengkondisikan 6-8 ibu melahirkan berderet sekaligus di
ruang-ruang yang hanya dibatasi sekat tipis. "Jangan
salahkan bila pasien lari keluar karena takut mendengar
teriakan tetangga kanan-kirinya." Saat pemulihan di
RS pun harusnya dipikirkan kenyamanan buat si ibu. Jangan
sampai ia dibiarkan di tempat yang kurang nyaman tanpa pendampingan
sedikit pun. Akibatnya, si ibu merasa tak diurusi karena
semua perhatian tercurah hanya pada bayinya.
Padahal
terhadap si ibu harus dilakukan observasi selama 2 jam pertama
setelah melahirkan untuk mengamati adakah perdarahan postpartum
atau tidak. Terutama early postpartum hemorrhage
yang terjadi dalam kurun waktu 1 x 24 jam setelah anak lahir.
Itulah mengapa 2 jam setelah melahirkan secara normal atau
8 jam untuk yang melahirkan secara sesar, si ibu akan dibiarkan
di area kamar bersalin agar betul-betul bisa dipantau perkembangannya
detik demi detik.
Yanti
|
|