|
BELAJAR MEMBERIKAN SUSU DARI BOTOL
Jika
Memang keadaan mengharuskan memakai susu botol, perhatikan kecukupan
gizi, faktor kebersihan, dan teknik pemberiannya
Idealnya,
bayi mendapat ASI eksklusif dari ibunya selama 4-6 bulan pertama.
Namun karena berbagai sebab, bisa saja si bayi terpaksa bergantung
pada susu botol.
Yang
jelas, seperti dikatakan Prof. Dr.dr. Nartono Kadri, Sp.AK,
pemberian susu formula pengganti ASI pada bayi baru lahir bukan
semata-mata untuk membuatnya kenyang. Melainkan juga menyediakan
energi untuk beraktivitas, mencukupi kebutuhan metabolisme maupun
proses tumbuh kembang. Itu sebab, kecukupan zat gizi dan faktor
kebersihannya maupun teknik pemberiannya harus mendapat perhatian
utama. Nah,
berikut ini anjuran Nartono seputar menyusui dari botol.
*
Posisi saat memberikan susu dari botol tak ubahnya dengan posisi
menyusui. Ibu harus dalam posisi duduk senyaman mungkin agar otot-otot
bahu dan punggungnya tak tegang yang hanya akan mengundang kelelahan.
*
Dekap bayi sedemikian rupa hingga tetap ada sentuhan skin to
skin antara ibu dan bayinya. Usahakan tubuh bayi berada dalam
satu garis lurus membentuk sudut 30-60 derajat. Artinya, sanggalah
tubuh bayi dengan tangan kiri jika ingin menyusui di sisi kiri dengan
posisi kepala harus sedikit lebih tinggi dari badannya. Sementara
tangan kanan memegangi botol susu. Jika posisi bayi dirasa membebani
lengan ibu, ganjal dengan bantal agar berat tubuhnya bertumpu di
situ, hingga ibu lebih leluasa mendekap sambil mengelus pipi atau
kepalanya. Tak kalah penting, pelihara selalu kontak mata antara
ibu dan bayi. Hanya saja sedikit berbeda dengan posisi tubuh bayi
yang menghadap ke tubuh ibu saat menyusu ASI, posisi menyusu dari
botol, tubuh bayi nyaris tengadah.
*
Memberikan susu dari botol dianjurkan bergantian di sisi kanan dan
kiri, hingga bentuk kepala/pandangan bayi tak cenderung ke satu
arah tertentu saja. Kendati memang harus diakui untuk kebanyakan
orang menyusui di sisi kanan membuat kagok.
*
Jangan sesekali memberikan susu botol sambil si bayi tiduran karena
memperbesar kemungkinan bayi tersedak yang bisa berakibat fatal.
Di antaranya mengakibatkan terjadi radang telinga bila aliran susu
sampai masuk "menembus" saluran telinga yang berhubungan
dengan saluran pencernaan.
*
Hindari pula memberikan susu botol ketika bayi sedang menangis keras
atau sedang mengalami sesak napas. Susu bisa masuk ke dalam paru-paru
dan terjadilah radang paru-paru.
*
Posisi botol kurang lebih harus sama dengan posisi payudara saat
bayi menyusu ASI. Dalam arti, dot harus masuk sedemikian rupa ke
dalam mulut bayi dan posisi botol tak menyisakan ruangan kosong
yang akan terisi udara. Karena bila udara tersebut terisap oleh
bayi, akan membuat bayi kenyang oleh udara, bukan susu. Jadi, dot
maupun leher botol harus terisi sepenuhnya oleh susu.
*
Untuk menguji apakah pancaran susu dari botol cukup atau tidak,
gunakan lubang standar yang biasanya sudah terdapat di tiap dot.
Kalau bayi kelihatan capek mengisap, itu berarti lubangnya terlalu
kecil, hingga perlu ditambahkan 1-2 lubang di samping lubang standar
tadi. Penambahan lubang ini meski membuat pancaran susu, dipastikan
tidak membuat bayi gelagapan karena pancaran susu tadi menyembur
ke arah pipi. Hal sama juga diperlukan jika isapan si bayi cukup
kuat, hingga lubang standar tadi tak cukup. Sebaliknya, kalau lubang
standar terlalu besar yang akan membuat gelagapan, tak ada cara
lain kecuali harus ganti dot baru.
*
Untuk mengetahui apakah si kecil sudah/belum puas menyusu, kita
bisa mengamati ekspresi dan bahasa tubuhnya. Kalau sudah puas, umumnya
ia akan melepas sendiri botol susunya tanpa rewel ataupun dipaksa.
Sedangkan bila terlihat masih belum puas, berarti kebutuhannya belum
tercukupi, hingga tak ada salahnya tambahkan lagi porsi susunya.
Tentu saja harus sesuai takaran yang disarankan.
*
Sedangkan berapa banyak total kebutuhan bayi yang harus diberikan
berdasarkan volume, kalori maupun komposisinya, biasanya dokter
anaklah yang akan membantu orang tua bayi memperhitungkannya. Salah
satu cara sederhana yang bisa ditempuh si ibu, pompa dan ukurlah
berapa kira-kira jumlah ASI yang mampu diproduksinya. Selisih antara
kebutuhan rata-rata si bayi dan jumlah produksi itulah yang harus
diberikan dalam bentuk susu formula. Contohnya, secara kasar, kalori
yang dibutuhkan per hari oleh bayi pada bulan-bulan pertama kira-kira
560 Kkal. Bila diasumsikan ia menyusu sebanyak 6-8 kali sehari,
maka kebutuhan tersebut bisa tercukupi bila porsi minumnya sekitar
50-70 cc setiap kali minum.
*
Usai disusukan, sandarkan dada bayi di bahu ibu. Lalu tepuk-tepuk
lembut punggungnya agar ia bersendawa. Bila ia termasuk bayi yang
sulit mengisap, sendawa berulang kali selagi menyusu akan sangat
membantunya menghabiskan susu yang tersedia. Karena setelah bersendawa
biasanya bayi bisa melanjutkan acara minum susunya yang tertunda.
Th.Puspayanti.Foto : Iman Dharma(nakita)
|