Khasanah 158/ 1 : Perawatan Tubuh Usai Melahirkan
Khasanah 158/ 2 : Pantangan Buat Ibu 40 Hari Pasca Persalinan
Khasanah 158/ 3 : Sebelum 40 hari, Kuku Bayi Tidak Boleh Digunting
Khasanah 158/ 4 : Kisah Selebritis
Khasanah 158/ 5 : Cara Tepat Menyusui
Khasanah 158/ 6 : Belajar Memberikan Susu Dari Botol
Khasanah 158/ 7 : Menu Ibu Menyusui
Khasanah 158/ 8 : Perilaku Bayi Baru Lahir
Khasanah 158/ 9 : Hari-Hari Pertama Yang Melelahkan
Khasanah 158/10 : Si Kecil Tak Boleh Pulang Lantaran Kuning
Khasanah 158/11 : Si Prematur Masih Harus Dirawat
Khasanah 158/12 : Selapanan, Ungkapan Rasa Syukur Dan Mengajar Anak Berbagi


BELAJAR MEMBERIKAN SUSU DARI BOTOL

Jika Memang keadaan mengharuskan memakai susu botol, perhatikan kecukupan gizi, faktor kebersihan, dan teknik pemberiannya

Idealnya, bayi mendapat ASI eksklusif dari ibunya selama 4-6 bulan pertama. Namun karena berbagai sebab, bisa saja si bayi terpaksa bergantung pada susu botol.

Yang jelas, seperti dikatakan Prof. Dr.dr. Nartono Kadri, Sp.AK, pemberian susu formula pengganti ASI pada bayi baru lahir bukan semata-mata untuk membuatnya kenyang. Melainkan juga menyediakan energi untuk beraktivitas, mencukupi kebutuhan metabolisme maupun proses tumbuh kembang. Itu sebab, kecukupan zat gizi dan faktor kebersihannya maupun teknik pemberiannya harus mendapat perhatian utama. Nah, berikut ini anjuran Nartono seputar menyusui dari botol.

* Posisi saat memberikan susu dari botol tak ubahnya dengan posisi menyusui. Ibu harus dalam posisi duduk senyaman mungkin agar otot-otot bahu dan punggungnya tak tegang yang hanya akan mengundang kelelahan.

* Dekap bayi sedemikian rupa hingga tetap ada sentuhan skin to skin antara ibu dan bayinya. Usahakan tubuh bayi berada dalam satu garis lurus membentuk sudut 30-60 derajat. Artinya, sanggalah tubuh bayi dengan tangan kiri jika ingin menyusui di sisi kiri dengan posisi kepala harus sedikit lebih tinggi dari badannya. Sementara tangan kanan memegangi botol susu. Jika posisi bayi dirasa membebani lengan ibu, ganjal dengan bantal agar berat tubuhnya bertumpu di situ, hingga ibu lebih leluasa mendekap sambil mengelus pipi atau kepalanya. Tak kalah penting, pelihara selalu kontak mata antara ibu dan bayi. Hanya saja sedikit berbeda dengan posisi tubuh bayi yang menghadap ke tubuh ibu saat menyusu ASI, posisi menyusu dari botol, tubuh bayi nyaris tengadah.

* Memberikan susu dari botol dianjurkan bergantian di sisi kanan dan kiri, hingga bentuk kepala/pandangan bayi tak cenderung ke satu arah tertentu saja. Kendati memang harus diakui untuk kebanyakan orang menyusui di sisi kanan membuat kagok.

* Jangan sesekali memberikan susu botol sambil si bayi tiduran karena memperbesar kemungkinan bayi tersedak yang bisa berakibat fatal. Di antaranya mengakibatkan terjadi radang telinga bila aliran susu sampai masuk "menembus" saluran telinga yang berhubungan dengan saluran pencernaan.

* Hindari pula memberikan susu botol ketika bayi sedang menangis keras atau sedang mengalami sesak napas. Susu bisa masuk ke dalam paru-paru dan terjadilah radang paru-paru.

* Posisi botol kurang lebih harus sama dengan posisi payudara saat bayi menyusu ASI. Dalam arti, dot harus masuk sedemikian rupa ke dalam mulut bayi dan posisi botol tak menyisakan ruangan kosong yang akan terisi udara. Karena bila udara tersebut terisap oleh bayi, akan membuat bayi kenyang oleh udara, bukan susu. Jadi, dot maupun leher botol harus terisi sepenuhnya oleh susu.

* Untuk menguji apakah pancaran susu dari botol cukup atau tidak, gunakan lubang standar yang biasanya sudah terdapat di tiap dot. Kalau bayi kelihatan capek mengisap, itu berarti lubangnya terlalu kecil, hingga perlu ditambahkan 1-2 lubang di samping lubang standar tadi. Penambahan lubang ini meski membuat pancaran susu, dipastikan tidak membuat bayi gelagapan karena pancaran susu tadi menyembur ke arah pipi. Hal sama juga diperlukan jika isapan si bayi cukup kuat, hingga lubang standar tadi tak cukup. Sebaliknya, kalau lubang standar terlalu besar yang akan membuat gelagapan, tak ada cara lain kecuali harus ganti dot baru.

* Untuk mengetahui apakah si kecil sudah/belum puas menyusu, kita bisa mengamati ekspresi dan bahasa tubuhnya. Kalau sudah puas, umumnya ia akan melepas sendiri botol susunya tanpa rewel ataupun dipaksa. Sedangkan bila terlihat masih belum puas, berarti kebutuhannya belum tercukupi, hingga tak ada salahnya tambahkan lagi porsi susunya. Tentu saja harus sesuai takaran yang disarankan.

* Sedangkan berapa banyak total kebutuhan bayi yang harus diberikan berdasarkan volume, kalori maupun komposisinya, biasanya dokter anaklah yang akan membantu orang tua bayi memperhitungkannya. Salah satu cara sederhana yang bisa ditempuh si ibu, pompa dan ukurlah berapa kira-kira jumlah ASI yang mampu diproduksinya. Selisih antara kebutuhan rata-rata si bayi dan jumlah produksi itulah yang harus diberikan dalam bentuk susu formula. Contohnya, secara kasar, kalori yang dibutuhkan per hari oleh bayi pada bulan-bulan pertama kira-kira 560 Kkal. Bila diasumsikan ia menyusu sebanyak 6-8 kali sehari, maka kebutuhan tersebut bisa tercukupi bila porsi minumnya sekitar 50-70 cc setiap kali minum.

* Usai disusukan, sandarkan dada bayi di bahu ibu. Lalu tepuk-tepuk lembut punggungnya agar ia bersendawa. Bila ia termasuk bayi yang sulit mengisap, sendawa berulang kali selagi menyusu akan sangat membantunya menghabiskan susu yang tersedia. Karena setelah bersendawa biasanya bayi bisa melanjutkan acara minum susunya yang tertunda.

Th.Puspayanti.Foto : Iman Dharma(nakita)


Memilih Dot


Yang paling baik, kata Nartono, dot orthodontic karena desainnya sesuai dengan bentuk rahang bayi, hingga bayi merasa nyaman mengisapnya. Lebih bagus lagi jika bentuk dot tadi menyerupai puting payudara ibu, hingga sesuai dengan kontur rahang dan isapan bayi.

Jika refleks mengisap bayi relatif keras/kuat, dianjurkan ibu memilih dot yang terbuat dari silikon. Tapi jika isapan bayi termasuk lemah, pilih dot karet yang relatif lebih lunak dibanding silikon. Hanya saja silikon lebih awet karena dot karet harus sering diganti lantaran cepat rusak dan kerap menimbulkan bau kurang sedap. Terutama jika harus direbus/direndam air mendidih setelah dicuci bersih untuk proses sterilisasinya.

Yanti



Tak Harus Dengan Botol


Bila kelak tak ingin repot menyapih si kecil dari botol agar pertumbuhan rahangnya tak terganggu, saran Nartono, pemberian susu formula bisa dilakukan dengan menggunakan sendok atau malah pipet untuk bayi-bayi baru lahir yang refleks menelannya memang masih lemah sekali.

Posisi memberikannya sama dengan menyusui bayi dengan botol, yakni dengan posisi kepala lebih tinggi. Dengan penuh kesabaran berikan susu tersebut sesendok demi sesendok saat sendokan sebelumnya sudah tertelan. Hanya saja tenggang waktu pemberiannya disarankan tak lebih dari 10-15 menit. Bila dalam waktu tersebut susu tak bisa dihabiskan sebaiknya jangan dipaksakan. Akan lebih baik bila 2 jam kemudian buatkan susu baru untuk diberikan pada si kecil.

Yanti



Frekuensi Pemberian Susu Botol

Menurut dr. Rini Sekartini, Sp.A, secara fisiologis lambung bayi akan kosong dan minta diisi kembali setelah 2-3 jam berselang. Inilah yang kemudian dijadikan patokan dalam menentukan jadwal penyusuan bayi, yakni setiap 3 jam sekali untuk bayi dengan berat badan normal dan 2 jam sekali untuk bayi dengan BB rendah (di bawah 2500 gram). Sebabnya, bayi-bayi dengan berat badan lahir rendah ini refleks mengisap dan menelannya lambat hingga cenderung malas menyusu. Maka untuk memenuhi kebutuhannya, ia harus diberi porsi lebih sedikit dengan frekuensi lebih sering.


Yanti