|
CARA TEPAT MENYUSUI
Agar
hasilnya maksimal, jangan sepelekan teknik menyusui yang benar
Tanpa
kesediaan belajar, jangan harap ibu bisa menyusui bayinya dengan
benar. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan selama menyusui seperti
dipaparkan dr. M. Iqbal, Sp.OG, ketua Tim Gerakan Sayang
Ibu dari RS Persahabatan, Jakarta Timur.
*
Saat menyusui, perhatikan benar tekniknya. Ambil posisi menyusui
yang nyaman dan serelaks mungkin agar tak melelahkan. Caranya, duduklah
tegak dengan punggung tersangga baik. Dekap bayi di pangkuan dengan
posisi kepala bayi di antara lengan dan pinggang ibu. Perhatikan
posisi dagu bayi yang mesti menyentuh payudara ibu. Ini akan memudahkan
bayi memasukkan seluruh areola ke dalam mulutnya. Jangan pernah
membiarkan anak hanya mengisap bagian puting saja karena hanya akan
menimbulkan rasa sakit bahkan lecet. Melainkan susui sedemikian
rupa hingga seluruh areola mammae masuk ke dalam mulut bayi.
Dengan posisi ini bayi pun memperoleh keuntungan bagi refleks isapnya
yang kian terlatih.
*
Posisikan tubuh bayi di bawah payudara. Dengan kata lain dada bayi
menjadi alas payudara. Pastikan dada bayi bersentuhan dengan payudara.
Begitu juga dagunya harus menyentuh payudara agar wajahnya menghadap
wajah ibu.
*
Tekan dengan lembut bibir bawah dan dagu bayi menggunakan payudara
dan areola. Tunggulah respon bayi, yakni kala ia membuka mulutnya
dan meletakkan lidahnya sedemikian rupa di bawah areola.
*
Rapatkan tubuh kita dengan si kecil, dengan sedikit menekan punggungnya.
Akan tetapi jangan pernah menekan bagian kepalanya, lo. Lihatlah,
kini bibir bawahnya menekuk sedemikian rupa, melahap 3-4 cm bagian
payudara sesudah puting. Lalu rangkaian gerakan otot yang bergulung
ke belakang akan memeras ASI masuk ke dalam kerongkongan bayi. Dengan
kata lain, saluran-saluran susu akan terpompa oleh gerakan menjepit
antara bibir atas dan bawah bayi. Sementara ujung puting harus mencapai
langit-langit mulut agar otot-otot rongga mulut bisa melakukan gerakan
memompa.
*
Jika posisi bayi terlalu di bawah alias dirasa kurang pas, ganjal
tubuh bayi dengan bantal. Bukan malah sebaliknya, ibu yang harus
membungkuk-bungkukkan tubuhnya sedemikian rupa agar payudaranya
mencapai mulut bayi. Cara ini hanya akan menimbulkan keletihan dan
ketegangan otot.
*
Jemari tangan ibu jangan dalam posisi "menggunting" karena
hanya akan mengunci gudang maupun saluran susu dalam payudara, hingga
ASI malah tak keluar. Yang benar, ibu jari di atas dan keempat jari
di bawah puting guna menopang payudara.
*
Idealnya, susui masing-masing payudara selama 10-15 menit bergantian.
Begitu seterusnya karena kalau dipaksakan di satu sisi saja, pasti
payudara yang satu lebih sering kosong yang hanya membuat bayi jengkel
dan akhirnya malah malas menyusu.
*
Bayi pun umumnya enggan menyusu bila ASI-nya terlalu deras karena
hanya membuatnya gelagapan. Mengatasinya, susui bayi sesering mungkin.
Bisa juga dengan memompanya sebagian setiap kali hendak menyusui.
Hingga saat menyusu tak lagi terlalu penuh yang menyebabkan ASI
memancar terlalu deras.
*
Selagi menyusui dengan payudara sebelah kiri, payudara kanan dibiarkan
bebas. Menutupinya dengan bra ketat hanya akan mematikan feedback
yang seharusnya diteruskan ke otak untuk memproduksi hormon ASI.
Dengan membendung, otak akan mendapat kiriman sinyal negatif, hingga
hormon pembuat susu tak lagi diproduksi.
*
Susui bayi kapan pun ia membutuhkannya. Toh, memberikan ASI sebanyak
mungkin sama sekali tak merugikan, malah menguntungkan karena bisa
memacu produksi ASI. Apalagi keindahan payudara sama sekali tak
terganggu hanya dengan aktivitas menyusui. Asalkan tetap dijaga
dengan penggunaan bra yang bisa menyangga sepenuhnya, selain gerakan
senam yang bisa mengencangkan otot-otot dada.
*
Teknik melepaskan puting usai menyusui pun perlu mendapat perhatian.
Menariknya begitu saja selagi masih tertancap di mulut bayi hanya
akan membuat puting lecet. Sebaiknya lepaskan puting dengan memasukkan
jari kelingking ke mulut bayi melalui sudut mulut atau menekan dagu
bayi ke bawah.
Th.Puspayanti. Foto : Iman Dharma(nakita)
|