|
Amat Butuh Bantuan Babysitter
Reza
Arthamevia (26), istri Adjie Massaid (34), ibu Sahwa Rezi
Massaid (1;4) dan Aaliyah Massaid (3 minggu)
"Ternyata,
masing-masing anak punya pembawaan sendiri-sendiri. Kalau
Sahwa dulu saat bayi sangat tenang dan manis banget. Sementara
Aaliyah, mudah menangis dan kalau menangis keras banget,"
urai Reza sambil menyusui.
Perbedaan
antara Sahwa dan Aaliyah, terangnya, sudah dimulai sejak
dirinya hamil. Jika pada saat hamil Sahwa, Reza tak pernah
mengalami sesuatu yang berarti seperti tak ngidam
yang aneh-aneh, bahkan juga bisa melahirkan secara normal.
Sementara pada saat hamil Aaliyah, "Saya agak rewel
dalam soal makan."
Belum
lagi kala akan melahirkan, "Kalau Sahwa dulu, saya
lancar-lancar saja. Tapi Aaliyah, saya sampai menunggu 5
hari untuk pembukaan. Padahal itu sudah diinduksi segala,
tapi dia belum mau lahir. Sementara saya, kan, orangnya
pengen melahirkan secara normal. Ya, sudah, saya coba untuk
menunggu." Namun, karena dokter mengatakan bahwa kondisi
bayi sudah tak memungkinkan lagi untuk menunggu, "Ya,
saya menyerah, deh. Sesar juga akhirnya."
Selain
itu, terang Reza, keputusan untuk sesar juga didasari pertimbangan
plasenta yang sudah mulai turun dan terjadi pengapuran.
Apalagi, pihak rumah sakit pun "mengancam", jika
pasien berkeras ingin melahirkan secara normal, maka pihak
rumah sakit tak mau menanggung risiko terhadap keadaan bayi.
"Tapi kalau ingin si bayi dalam kondisi baik, dalam
dua jam ke depan kondisinya masih bisa diselamatkan. Insya
Allah, masih dalam kondisi bagus, katanya."
Maka,
lahirlah Aaliyah pada 8 Maret 2002 lewat bedah sesar. Bagi
Reza, pengalaman tersebut adalah hikmah dan pengetahuan
yang mahal. "Kita sudah berusaha semampu kita untuk
melahirkan secara normal, tapi mungkin Allah berkehendak
lain. Hikmahnya, saya bisa merasakan melahirkan normal begini,
sesar begitu. Jadi, saya bisa memberitahu orang, kalau melahirkan
sesar itu begini. Yang pasti, kalau melalui operasi, kesabaran
kita diuji karena kita akan merasa sakit."
Reza
mengaku, dirinya adalah orang yang tahan sakit. Namun dalam
menanggung risiko persalinan sesar, "Saya malah sampai
menangis, lo." Itu sebab, ia langsung dibantu babysitter,
dari memandikan hingga ganti popok kala si kecil BAK. Pasalnya,
"Saya masih belum bisa bergerak cepat, sedangkan Aaliyah
tipe bayi yang gampang menangis. Dia kalau menangis keras
sekali, apalagi kalau kita terlambat menolongnya. Kalau
malam juga sering bangun. Nah, saya, kan, enggak bisa bergerak
cepat kalau sendirian. Jadi, supaya cepat menanganinya,
saya pakai bantuan babysitter. Untungnya ASI saya
banyak, jadi dia enggak sampai menangis karena kurang ASI."
Beda
sekali dengan Sahwa kala baru dilahirkan, "Saya bisa
merawatnya sendiri, karena Sahwa cenderung sangat lebih
tenang dan jarang menangis. Sahwa juga sejak bayi bisa tidur
bersama kita. Tapi kalau Aaliyah, semalamam saya benar-benar
perlu bantuan babysitter."
Kendati
mengalami proses melahirkan yang berbeda, tapi dalam soal
perawatan dirinya, Reza tak membedakan. Malah, akunya, ia
justru makin memperketat perawatan tubuhnya, sekalipun melahirkan
secara sesar. "Saya tetap minum jamu, memakai gurita,
pakai lulur jeruk nipis dan daun sirih, minyak kayu putih,
untuk mengencangkan perut. Karena, katanya, sih, bisa membantu
mempercepat penyembuhan luka-luka pada otot usai melahirkan.
Kebetulan di lingkungan rumah saya ada peraji. Jadi, saya
bisa setiap hari diurut
dan dirawat secara tradisional." Menurut Reza yang
rajin minum jamu godokan ini, perawatan setiap hari seperti
pemijatan pada tubuh dan kaki akan memperlancar peredaran
darah.
Kini,
selain masih memberi ASI kepada Aaliyah, sesekali Reza juga
memompa ASI-nya dan memasukkannya ke botol untuk Sahwa.
Pasalnya, Reza tak ingin Sahwa merasa dijauhkan karena sudah
ada adik. "Justru harus lebih banyak mendapat perhatian
karena emosinya sudah mulai ada." Malah, tambahnya,
"Jangan sampai ada the baby born, lalu kita 'melupakan'
kakaknya."
Erni
Koesworini. Foto:Rohedi/nakita
|