Khasanah 158/ 1 : Perawatan Tubuh Usai Melahirkan
Khasanah 158/ 2 : Pantangan Buat Ibu 40 Hari Pasca Persalinan
Khasanah 158/ 3 : Sebelum 40 hari, Kuku Bayi Tidak Boleh Digunting
Khasanah 158/ 4 : Kisah Selebritis
Khasanah 158/ 5 : Cara Tepat Menyusui
Khasanah 158/ 6 : Belajar Memberikan Susu Dari Botol
Khasanah 158/ 7 : Menu Ibu Menyusui
Khasanah 158/ 8 : Perilaku Bayi Baru Lahir
Khasanah 158/ 9 : Hari-Hari Pertama Yang Melelahkan
Khasanah 158/10 : Si Kecil Tak Boleh Pulang Lantaran Kuning
Khasanah 158/11 : Si Prematur Masih Harus Dirawat
Khasanah 158/12 : Selapanan, Ungkapan Rasa Syukur Dan Mengajar Anak Berbagi


 


Begadang Tiap Malam Menggantikan Istri


Gilang Ramadhan (38), ayah Pruistin Aisha Haque (2 bln),suami Shahnaz Haque (30).

"Sangat luar biasa," ujarnya mengomentari proses kelahiran buah hatinya melalui operasi sesar, yang ia rekam gambarnya. Bahkan, tambahnya, "Saat saya melihat, seperti ada sesuatu yang sulit dalam proses operasi itu. Saya hanya berharap, mudah-mudahan dokter tidak menyuruh saya memilih, anak atau istri yang harus dipertahankan."

Peristiwa tersebut, diakui Gilang, membuat dirinya makin mengerti bahwa perjuangan istri saat hamil dan melahirkan, ternyata luar biasa. "Saya bersyukur telah diberi anak dan istri oleh-Nya." Itu sebab, ia merasa amanah tersebut harus dijaga dan dirawat sebaik-baiknya. Tak heran bila kemudian­sehari setelah sang buah hati lahir,ia langsung belajar memandikan dan menggantikan popok bayi kepada perawat di RS.

Bahkan, setelah anak dan istrinya pulang dari RS pun, Gilang tak segan membantu mengasuh dan merawat buah hati mereka tanpa babysitter. Ia rela begadang tiap malam untuk menggantikan posisi sang istri, dari mengganti popok hingga memberikan minum ASI. "Kebetulan Naz dikaruniai ASI berlimpah. Biasanya, saya yang paling sering mengingatkan Naz agar memompa ASI dan menyimpannya di frezer. Biar dia enggak perlu dibangunkan. Kasihan, kan, sudah seharian mengasuh dan menjaga Prue. Kalau saya, sih, sudah terbiasa begadang. Meskipun, begadang main musik dan begadang mengurus bayi itu berbeda dan ternyata lebih berat," tuturnya.

Terlebih, beberapa waktu lalu sang istri ada pekerjaan di Kalimantan. Maka, selama tiga hari itu, ia sendirian mengasuh Prue. Meski sudah punya ASI persediaan, tapi Gilang sempat gundah juga. Ternyata, modalnya, kata Gilang, harus santai. "Kalau malam memang agak ekstra. Capeknya, sih, enggak usah diomongin. Kalau dijalani, ya, senang aja, sih. Kebetulan, saya ini, kan, kerjanya main saja. Ada, sih, kantor di beberapa tempat. Tapi, kan, saya tidak harus terus berada di sana. Jadi, saya bisa mengatur pekerjaan sambil tetap bersama Prue. Sesekali, kalau dia tidur, saya mengisi waktu sambil bermain drum. Malam hari tidur bersama saya. Ternyata, selama ditinggal ibunya, dia malah enggak banyak menangis, lo."

Erni Koesworini. Foto:Rohedi/nakita



Amat Butuh Bantuan Babysitter


Reza Arthamevia (26), istri Adjie Massaid (34), ibu Sahwa Rezi Massaid (1;4) dan Aaliyah Massaid (3 minggu)

"Ternyata, masing-masing anak punya pembawaan sendiri-sendiri. Kalau Sahwa dulu saat bayi sangat tenang dan manis banget. Sementara Aaliyah, mudah menangis dan kalau menangis keras banget," urai Reza sambil menyusui.

Perbedaan antara Sahwa dan Aaliyah, terangnya, sudah dimulai sejak dirinya hamil. Jika pada saat hamil Sahwa, Reza tak pernah mengalami sesuatu yang berarti seperti tak ngidam yang aneh-aneh, bahkan juga bisa melahirkan secara normal. Sementara pada saat hamil Aaliyah, "Saya agak rewel dalam soal makan."

Belum lagi kala akan melahirkan, "Kalau Sahwa dulu, saya lancar-lancar saja. Tapi Aaliyah, saya sampai menunggu 5 hari untuk pembukaan. Padahal itu sudah diinduksi segala, tapi dia belum mau lahir. Sementara saya, kan, orangnya pengen melahirkan secara normal. Ya, sudah, saya coba untuk menunggu." Namun, karena dokter mengatakan bahwa kondisi bayi sudah tak memungkinkan lagi untuk menunggu, "Ya, saya menyerah, deh. Sesar juga akhirnya."

Selain itu, terang Reza, keputusan untuk sesar juga didasari pertimbangan plasenta yang sudah mulai turun dan terjadi pengapuran. Apalagi, pihak rumah sakit pun "mengancam", jika pasien berkeras ingin melahirkan secara normal, maka pihak rumah sakit tak mau menanggung risiko terhadap keadaan bayi. "Tapi kalau ingin si bayi dalam kondisi baik, dalam dua jam ke depan kondisinya masih bisa diselamatkan. Insya Allah, masih dalam kondisi bagus, katanya."

Maka, lahirlah Aaliyah pada 8 Maret 2002 lewat bedah sesar. Bagi Reza, pengalaman tersebut adalah hikmah dan pengetahuan yang mahal. "Kita sudah berusaha semampu kita untuk melahirkan secara normal, tapi mungkin Allah berkehendak lain. Hikmahnya, saya bisa merasakan melahirkan normal begini, sesar begitu. Jadi, saya bisa memberitahu orang, kalau melahirkan sesar itu begini. Yang pasti, kalau melalui operasi, kesabaran kita diuji karena kita akan merasa sakit."

Reza mengaku, dirinya adalah orang yang tahan sakit. Namun dalam menanggung risiko persalinan sesar, "Saya malah sampai menangis, lo." Itu sebab, ia langsung dibantu babysitter, dari memandikan hingga ganti popok kala si kecil BAK. Pasalnya, "Saya masih belum bisa bergerak cepat, sedangkan Aaliyah tipe bayi yang gampang menangis. Dia kalau menangis keras sekali, apalagi kalau kita terlambat menolongnya. Kalau malam juga sering bangun. Nah, saya, kan, enggak bisa bergerak cepat kalau sendirian. Jadi, supaya cepat menanganinya, saya pakai bantuan babysitter. Untungnya ASI saya banyak, jadi dia enggak sampai menangis karena kurang ASI."

Beda sekali dengan Sahwa kala baru dilahirkan, "Saya bisa merawatnya sendiri, karena Sahwa cenderung sangat lebih tenang dan jarang menangis. Sahwa juga sejak bayi bisa tidur bersama kita. Tapi kalau Aaliyah, semalamam saya benar-benar perlu bantuan babysitter."

Kendati mengalami proses melahirkan yang berbeda, tapi dalam soal perawatan dirinya, Reza tak membedakan. Malah, akunya, ia justru makin memperketat perawatan tubuhnya, sekalipun melahirkan secara sesar. "Saya tetap minum jamu, memakai gurita, pakai lulur jeruk nipis dan daun sirih, minyak kayu putih, untuk mengencangkan perut. Karena, katanya, sih, bisa membantu mempercepat penyembuhan luka-luka pada otot usai melahirkan. Kebetulan di lingkungan rumah saya ada peraji. Jadi, saya bisa setiap hari diurut dan dirawat secara tradisional." Menurut Reza yang rajin minum jamu godokan ini, perawatan setiap hari seperti pemijatan pada tubuh dan kaki akan memperlancar peredaran darah.

Kini, selain masih memberi ASI kepada Aaliyah, sesekali Reza juga memompa ASI-nya dan memasukkannya ke botol untuk Sahwa. Pasalnya, Reza tak ingin Sahwa merasa dijauhkan karena sudah ada adik. "Justru harus lebih banyak mendapat perhatian karena emosinya sudah mulai ada." Malah, tambahnya, "Jangan sampai ada the baby born, lalu kita 'melupakan' kakaknya."

Erni Koesworini. Foto:Rohedi/nakita