|
PANTANGAN BUAT IBU
40 HARI PASCA PERSALINAN
Tak
sedikit yang sebatas mitos, meski ada pula yang bisa dibenarkan
secara medis.
Berikut
ini sejumlah pantangan yang kerap didengungkan kepada para ibu sehabis
melahirkan.
TAK
BOLEH "CAMPUR"
Yang
ini malah termasuk kategori larangan yang tak boleh dilanggar. Bahkan
daerah dada istri "terlangkahi" tangan suami saja juga
tak diperbolehkan. "Sebab dikhawatirkan pancaran ASI jadi mejan
karena bukan tak mungkin si ibu jadi terbangkitkan gairahnya,"
terang Ny. Koesmariyah H.R. Soedjak Ranoekoesoemo (76), dukun
manten yang kerap menangani tata rias maupun upacara tingkeban
para selebritis.
Dari
sisi medis, jelas dr. Chairulsjah Sjahruddin, SpOG, MARS,
sanggama memang dilarang selama 40 hari pertama usai melahirkan.
Alasannya, aktivitas yang satu ini akan menghambat proses penyembuh-
an jalan lahir maupun involusi rahim, yakni mengecilnya rahim kembali
ke bentuk dan ukuran semula. Selain karena fungsi hormonal tubuh
yang bersang- kutan belum kembali aktif bekerja.
Kalau
sanggama dipaksakan terjadi dalam tenggang waktu itu, tegas Chairulsjah,
kemungkinan yang terjadi bisa macam-macam. Di antaranya infeksi
atau malah perdarahan. Sebabnya, mukosa jalan lahir setelah persalinan
sangat peka akibat banyaknya vaskularisasi/aliran darah, hingga
terjadilah perlunakan mukosa jalan lahir. Dengan berjalannya waktu,
vaskularisasi ini kian berkurang dan baru akan normal kembali 3
bulan setelah bersalin. Belum lagi libido yang mungkin memang belum
muncul ataupun pengaruh psikologis, semisal kekhawatiran akan robeknya
jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagi.
KAKI
MESTI LURUS
Menurut
Koesmariyah, baik saat berjalan maupun berbaring, kaki harus lurus.
Dalam arti, kaki kanan dan kiri enggak boleh saling tumpang tindih
ataupun ditekuk. Selain agar jahitan akibat robekan di vagina tak
melebar ke mana-mana, juga dimaksudkan supaya aliran darah tetap
lancar alias tak terhambat. Secara medis, posisi kaki yang lurus
memang lebih menguntungkan karena membuat aliran darah jadi lancar.
Sedangkan
mobilisasi secara umum, jelas Chairulsjah, pada dasarnya boleh dan
malah harus dilakukan. Makin cepat dilakukan kian menguntungkan
pula. Dengan catatan, kondisi si ibu dalam keadaan baik, semisal
tak mengalami perdarahan atau kelainan apa pun saat melahirkan.
Selain patokan bahwa dalam 8 jam pertama setelah melahirkan ia sudah
bisa BAK dan BAB serta selera makannya bagus. Begitu juga tensi,
denyut nadi, dan suhu tubuhnya dalam batas normal. Soalnya, jika
tak bisa BAK dan BAB berarti ada sesuatu yang enggak beres yang
akan berpengaruh pada kontraksi dan proses involusi (pengecilan
kembali) rahim.
TAK
BOLEH TIDUR SIANG
Pantangan
yang satu ini kedengarannya keterlaluan. Bayangkan, meski ngantuk
setengah mati lantaran sering terbangun malam hari karena harus
menyusui dan menggantikan popok si kecil, si ibu tak boleh tidur
siang. Hingga kalaupun kantuknya tak tertahankan, saran Koesmariyah,
"Tidurlah dalam posisi duduk." Sebab, bila posisi tidur/berbaring
dikhawatirkan darah putih akan naik dan membuat si ibu harus memakai
kaca mata/terkena gangguan penglihatan saat usia masih relatif muda.
Menurut
Chairulsjah, tidur berkepanjangan memang mengundang proses recovery
yang lebih lambat. "Makin lama berbaring makin besar pula peluang
terjadi tromboemboli atau pengendapan elemen-elemen garam."
Lalu bila si ibu bangun/berdiri mendadak, endapan elemen tersebut
dikhawatirkan lepas dari perlekatannya di dinding pembuluh darah.
Padahal akibatnya bisa fatal, lo. Endapan-endapan tadi bisa masuk
ke dalam pembuluh darah lalu ikut aliran darah ke jantung, otak
dan organ-organ penting lain yang akan memunculkan stroke.
TAK
BOLEH KERAMAS
Pantangan
yang satu ini dicemaskan bisa membuat si ibu masuk angin. "Lo,
kalau si ibunya sakit, bayinya jadi enggak keurus. Akhirnya, semua
bakal repot, kan?" ujar Koesmariyah. Itu sebab, sebagai gantinya
rambut cukup diwuwung, yakni sekadar disiram dengan air dingin.
Lagi-lagi, penyiraman ini diyakini agar darah putih bisa turun dan
tak menempel di mata. Namun agar tak bau apek dan tetap harum disarankan
menggunakan ratus pewangi. Tentu saja pantangan semacam itu untuk
kondisi jaman sekarang dirasa memberatkan. Terlebih untuk ibu-ibu
yang harus sering beraktivitas di luar rumah.
Sedangkan
mandi boleh-boleh saja asal dilakukan jam 5 atau 6 untuk mandi pagi
dan sebelum magrib untuk mandi malam. Penggunaan air dingin, katanya,
justru lebih baik ketimbang air hangat karena bisa melancarkan produksi
ASI.
HINDARI
MAKANAN JEMEK
Golongan
makanan yang harus dijauhi adalah pepaya, durian, pisang, dan terung.
Karena konon ragam makanan tadi bisa dikhawatirkan bikin benyek
organ vital kaum Hawa. "Padahal perempuan, kan, dituntut kesat
supaya bisa 'mengikat' suaminya." Yang juga mesti dipantang
adalah makanan yang bersantan dan pedas karena pencernaannya bakal
terganggu yang bisa berpengaruh pada bayinya.
Begitu
juga ikan dan telur asin serta makanan lain yang berbau amis karena
dikhawatirkan bisa menyebabkan bau anyir pada ASI yang membuat bayi
muntah saat disusui. Selain juga, proses penyembuhan luka-luka di
jalan lahir akan lebih lambat.
Secara
medis, menurut Chairulsjah, tak benar anggapan untuk pantang pepaya
dan pisang yang justru amat dianjurkan karena tergolong sumber makanan
yang banyak mengandung serat untuk memudahkan BAB. Ikan dan telur
juga merupakan salah satu sumber protein hewani yang baik dan amat
dibutuhkan tubuh. Sedangkan durian memang tak dianjurkan karena
kandungan kolesterolnya tinggi, selain memicu pembentukan gas yang
bisa mengganggu pencernaan.
Sebaliknya,
kata Koesmariyah, amat disarankan untuk selalu minum kunyit dan
pucuk daun asam setiap pagi supaya ASI tak berbau amis. Selain tentu
saja menjaga kebersihan diri, terutama daerah payudara dan sekitarnya.
TAK
BOLEH BEPERGIAN
"Kalau
dipikir-pikir larangan ini, kan, bertujuan supaya si ibu tak terlalu
letih beraktivitas. Kalau capek bisa-bisa ASI-nya berkurang. Kasihan
si kecil, dong. Biasanya seumur ini si kecil, kan, sedang kuat-kuatnya
menyusu," papar Koesmariyah. Belum lagi kemungkinan si bayi
rewel ditinggal ibunya terlalu lama. Sementara kalau diajak pun
masih kelewat kecil. Malah takut ada apa-apa di jalan, terutama
kalau menggunakan angkutan umum. Bepergian pun membuat si ibu jadi
tak tahan menghadapi aneka godaan untuk menyantap segala jenis makanan
yang dipantang.
Th.
Puspayanti.Foto: Iman Dharma(nakita)
|