|
PERAWATAN TUBUH USAI MELAHIRKAN
Penting,
lo, agar kondisi ibu segera pulih sekaligus meminimalkan terjadinya
efeksi.
Banyak
orang beranggapan, bila seorang ibu sudah melahirkan anaknya dengan
selamat, berarti selesai sudah semua urusan. Padahal, masih ada
hal penting yang harus diperhatikan, yaitu perawatan nifas. Meski
bentuk perawatan itu sendiri, terang dr. Hj. Hasnah Siregar,
Sp.OG, dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, lagi-lagi terpulang
pada proses persalinan yang dilaluinya. Dalam arti, apakah normal/spontan,
menggunakan alat bantu semisal forcep atau vakum, maupun bedah sesar.
Nah, berikut ini sejumlah perawatan yang penting diketahui.
DUA
JAM PERTAMA
Dua
jam pertama pada persalinan normal, dokter akan memantau kesadaran,
tekanan darah dan pernapasan si ibu. Terlebih untuk mengetahui adakah
perdarahan per vaginam atau tidak. Jika semuanya dalam keadaan baik
dan tak terjadi perdarahan, si ibu akan dikirim ke ruang perawatan.
Sedangkan bila terjadi perdarahan akan segera ditangani. Dalam arti,
dicari apa penyebab terjadi perdarahan tersebut. Bila karena rahimnya
tak mau berkontraksi, maka akan diberi obat-obatan yang bisa menguatkan
kontraksi. Bila karena sisa plasenta tertinggal di rahim, tentu
akan dilakukan pembersihan lewat kuretase.
Sementara
pada persalinan dengan tindakan ataupun sesar, pantauannya dilakukan
lebih intensif dan saksama. Salah satunya, menilai apakah yang bersangkutan
bisa segera buang angin atau tidak. Sebab meski terlihat sepele,
kentut mengindikasikan apakah organ-organ tubuh bagian dalam masih
berada di bawah pengaruh obat bius atau tidak. Kalau sudah kentut,
berarti kerja usus secara medis sudah kembali normal dan gerakan
peristaltik usus sudah bagus. Normalnya, sih, bilang dr. Chairulsjah
Sjahruddin, Sp.OG, MARS, dengan bius lokal tak ada masalah.
Sedangkan dengan bius total bisa terjadi kelumpuhan usus. Kalau
sudah begitu, tentu saja akan fatal akibatnya karena berarti semua
organ tubuh yang terkait berada di bawah pengaruh obat bius.
Selain
itu, lanjut Hasnah, dokter pun akan menilai "kualitas"
jahitan maupun kondisi robekan itu sendiri. Karena pada persalinan
yang menggunakan alat/tindakan, semisal dengan vakum atau forcep,
biasanya robekannya luas, dalam dan tak beraturan. Dengan begitu
harus lebih cermat saat menjahitnya kembali. Sebab bila kurang cermat,
semisal salah konstruksi, bisa mengakibatkan perdarahan. Selain
mesti dicermati juga apakah ada perobekan rektum atau tidak. Karena
bila rektum robek, ibu diharuskan berpantang makan makanan berserat
selama kira-kira seminggu. Selain harus mengkonsumsi makanan lembek
dan dibantu obat pencahar agar BAB-nya tak keras yang hanya akan
memperparah keadaan.
KEBERSIHAN
VAGINA
Meski
bekas jahitan episiotomi masih terasa sakit, menjaga kebersihan
vagina harus jadi perhatian utama. Saran Hasnah, gunakan sabun lembut
yang natrium hidroksidanya tak tajam. Bila dirasa belum bersih benar,
basuh dengan cairan antiseptik khusus untuk vagina. "Jika cuma
disiram sambil lalu, lemak-lemak yang menempel di dinding vagina
akan bertumpuk dan kian lengket. Lama-kelamaan tumpukan lemak tadi
akan mengundang infeksi yang bisa berakibat pada lepasnya kembali
jahitan."
Jika
telanjur infeksi dan terjadi pembengkakan, mau tak mau jalan lahir
harus dikompres dengan rivanol agar jaringannya tetap segar. Tentu
saja butuh pemeriksaan dokter selain pemberian obat-obatan antibiotika
untuk mengatasi infeksi itu sendiri.
PENGERUTAN
RAHIM
Dengan
kontraksi yang baik, rahim bisa diharapkan kembali mengkerut ke
ukuran normal tanpa bantuan obat-obatan. Karena kontraksi pada dasarnya
tak hanya dibutuhkan untuk mengeluarkan janin saat persalinan. Tapi
juga mengembalikan rahim ke bentuk dan ukuran semula, baik pada
persalinan normal maupun persalinan dengan tindakan, seperti vakum,
forcep ataupun sesar.
Secara
otomatis rahim akan berkontraksi dengan sendirinya. Hingga bila
kontraksi tak cukup kuat atau malah tak terjadi sama sekali, patut
dicurigai ada sesuatu yang tak beres. Apakah karena Hb yang tak
baik atau ada sesuatu yang tertinggal di rahim, semisal sisa plasenta.
Jika Hb yang tak baik, semisal di bawah 9, tak ada cara lain selain
tranfusi darah. Sedangkan sisa plasenta mesti dibersihkan lewat
tindakan kuretase.
Tak
kalah penting, kontraksi ini ikut membantu mengkerutkan kembali
saluran kemih yang mengendur akibat membesarnya rahim selama kehamilan.
Hanya saja saluran tersebut maupun otot-ototnya tak akan langsung
mengkerut secara otomatis. Melainkan harus dibantu pengencangannya
kembali lewat senam khusus. Sementara jika dibiarkan kendur jelas
akan sangat mengganggu. Salah satunya keluhan beser.
HARUS
BANYAK MINUM
Chairulsjah
bilang, jangan anggap sepele pula pertanyaan sederhana yang kerap
diajukan pada pasien postpartum. Semisal, "Ibu sudah bisa buang
air kecil?" Soalnya, bisa BAK dan minimal 1 kali BAB dalam
8 jam setelah persalinan bisa dijadikan patokan untuk menilai kondisi
si ibu secara umum.
Jika
tak bisa BAB bahkan BAK, berarti proses involusi atau pengecilan
rahim pun akan terhambat. Bukan tak mungkin pula terjadi perlengketan
antar organ bagian dalam, mengingat kandung kemih dan usus atau
rektum letaknya berdekatan dengan rahim. Gangguan di salah satu
organ tersebut tentu berdampak pula pada organ lainnya. Dengan kata
lain bila masih ada kotoran yang terkumpul di rektum, proses mengecilnya
rahim pun jadi terhambat.
Nah,
agar bisa cepat BAK sekaligus mengganti cairan tubuh yang banyak
terbuang saat bersalin, usai melahirkan ibu-ibu disarankan banyak
minum, minimal 2-3 liter per hari. Buat ibu yang melahirkan normal,
soal minum pertama kali jelas tak ada masalah. Artinya, ia boleh
minum sebanyak yang ia mau jika haus.
Sementara
pada ibu-ibu yang melahirkan sesar atau vakum, ada persyaratan khusus
yang mengikuti persyaratan operasi pada umumnya, yakni hanya diperbolehkan
minum sesedikit mungkin, semisal cukup dengan membasahi kapas. Itu
pun kalau yang bersangkutan sudah bisa kentut. Soalnya, akibat pengaruh
obat bius, usus dalam keadaan "diam". Hingga kalau diisi
cairan dalam jumlah besar secara mendadak, perut akan kembung yang
bisa berlanjut jadi masalah. Misal, perut jadi membesar lantas jaringan
di bekas jahitan ikut meregang yang akan menghambat penyembuhan
luka. Bila dalam 6-8 jam pertama belum juga bisa BAK ataupun keluarnya
hanya sedikit-sedikit patut dicurigai ada infeksi saluran kemih,
misal.
MOBILISASI
SECEPAT MUNGKIN
Kendati
merasa letih tegas chairulsyah, ibu tak boleh bersikap malas-malasan
dengan hanya berbaring sepanjang waktu. Semata-mata supaya sirkulasi
darahnya menjadi baik. Ini dimaksudkan agar ibu terhindar dari pembengkakan
selain mencegah trombosis, yakni penyumbatan pembuluh darah.
Pada
persalinan normal, 8 jam sesudahnya, ibu diharapkan sudah mobilisasi.
Minimal sudah turun dari tempat tidur, belajar duduk dan berjalan
sendiri. Tak perlu khawatir jahitan akan lepas hanya gara-gara bergerak.
Setelah 24 jam, jahitan sebetulnya sudah akan bertaut, kok. Jadi,
selain untuk sirkulasi, mobilisasi juga baik buat jahitan. Jika
diperlukan akan dilakukan diatermi/pemanasan vagina agar sirkulasi
darah di sekitar vagina jadi baik.
Hanya
saja mesti dimaklumi ibu yang menjalani sesar pasti lebih lamban
mobilisasinya dibanding yang melahirkan spontan. Kendati begitu,
selepas 24 jam saat dampak obat bius menghilang, yang bersangkutan
mesti harus belajar menggerak- kan seluruh persendian tubuhnya secara
perlahan. Dengan mencoba duduk, makan sendiri, turun dari tempat
tidur dan berjalan di kamar pemulihan. Makin cepat dilatih untuk
digerakkan akan makin baik. Sebab bila hanya berdiam diri, kerja
pembuluh darah dan otot-otot tubuh, terutama di daerah kaki dan
panggul jadi terganggu. Bukan tak mungkin akan menimbulkan bekuan-bekuan
darah yang bisa membahayakan karena bisa menyumbat aliran darah
di jantung atau otak yang bisa berakhir pada serangan stroke.
KELUHAN
DI MATA
Kendati
jarang, usai melahirkan ada beberapa ibu yang mengeluhkan matanya.
Semisal mata merah atau pandangan jadi kabur. Boleh jadi lantaran
tegang, si ibu tak bisa tidur, hingga matanya terasa berat. Namun
penurunan Hb yang umumnya terjadi pada ibu hamil/bersalin, turut
mempengaruhi munculnya keluhan ini. Bila karena faktor Hb, gangguan
pandangan mata ini akan pulih kembali seiring membaiknya kondisi
Hb. Salah satu caranya dengan cukup mengkonsumsi makanan tinggi
kalori dan protein. Sementara jika Hb-nya rendah sekali, akan dibantu
dengan transfusi.
Akan
tetapi, jika gangguan mata terjadi karena salah mengejan semisal
mengejan terlalu kuat, terapi yang dilakukan lain lagi. Misal, kompres
dengan boorwater bila mata merah akibat ada pembuluh darah pecah.
Masalah mata menjadi serius, tegas Hasnah, jika diakibatkan tekanan
darah tinggi pada kehamilan atau eklampsia/preeklampsia. Gangguan
ini bisa permanen, tapi bisa juga temporer. Artinya, bisa sembuh
jika tensinya normal kembali.
Indah/Th.Puspayanti. Foto :Iman Dharma(nakita)
|
|
Senam Nifas
Umumnya,
wanita yang habis melahirkan kerap mengeluhkan bentuk tubuhnya
yang melar. Meski harusnya dimaklumi, akibat membesarnya
otot rahim karena pembesaran sel maupun pembesaran ukurannya
selama hamil. Selain otot perut pun jadi memanjang sesuai
pertumbuhan kehamilan. Setelah melahirkan, otot-otot tersebut
akan mengendur. Belum lagi kondisi tubuh yang kurang prima
lantaran letih dan tegang. Sementara peredaran darah dan
pernapasan belum kembali normal. Hingga untuk membantu mengembalikan
tubuh ke bentuk dan kondisi semula, tak bisa lain harus
dengan latihan senam nifas yang teratur.
Manfaat
lain senam nifas juga untuk mengencangkan otot perut, liang
sanggama, otot-otot sekitar vagina maupun otot-otot dasar
panggul, disamping melancarkan sirkulasi darah. Senam nifas
sebaiknya dilakukan dalam waktu 24 jam setelah melahirkan,
lalu secara teratur setiap hari. Sayangnya, para ibu kerap
merasa takut melakukan gerakan demi gerakan setelah persalinan.
Padahal 6 jam setelah persalinan normal atau 8 jam setelah
operasi sesar, ibu sudah boleh melakukan mobilisasi dini,
termasuk senam nifas. Dengan melakukan senam nifas segera
mungkin, hasil yang didapat pun diharapkan bisa optimal.
Tentunya lakukan secara bertahap.
Tak
kalah penting, tegas Hasnah, dengan melakukan senam
nifas, kondisi umum ibu jadi lebih baik. Rehabilitasi atau
pemulihan jadi bisa lebih cepat, contohnya. Kemungkinan
terkena infeksi pun kecil karena sirkulasi darahnya bagus.
Selain menumbuhkan/memperbaiki nafsu makan, hingga asupan
makannya bisa mencukupi kebutuhannya. Paling tidak, dengan
melakukan senam nifas, ibu tak terlihat lesu ataupun emosional.
Tentu
saja, jelas Dra. Ira Kusyairi Dipl. Pt., fisioterapis
dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, bentuk latihan senam antara
ibu yang habis melahirkan normal dengan yang sesar tidaklah
sama. Pada mereka yang sesar, beberapa jam setelah keluar
dari kamar operasi, pernapasanlah yang dilatih guna mempercepat
penyembuhan luka. Sementara latihan untuk mengencangkan
otot perut dan melancarkan sirkulasi darah di tungkai baru
dilakukan 2-3 hari setelah ibu dapat bangun dari tempat
tidur. Sedangkan pada persalinan normal, bila keadaan ibu
cukup baik, semua gerakan senam bisa dilakukan.
Namun
meski kegunaannya banyak, tak semua ibu usai melahirkan
dapat melakukan senam nifas. "Seperti halnya senam
hamil, senam ini pun harus dengan rekomendasi dokter,"
bilang Ira. Bahkan untuk ibu-ibu yang mengalami komplikasi
selama persalinan tentu tak dibolehkan melakukan senam nifas.
Demikian juga untuk kelainan-kelainan seperti jantung, ginjal
atau diabetes. Jangankan senam, mereka malah diharuskan
istirahat total sekitar 2 minggu. Ibu dengan kelainan jantung,
misal, bila disuruh banyak beraktivitas, tentu akan makin
capek yang membuat kerja jantungnya makin payah.
Dedeh
|
|
Pro-Kontra Penggunaan Bengkung/Gurita
Secara
tradisional, terang Ny. Koesmariyah H.R. Soedjak Ranoekoesoemo,
penggunaan bengkung dan gurita diyakini bisa melangsingkan
kembali perut yang melar. Bila dianggap merepotkan, penggunaan
step in yang praktis karena tinggal memasang kaitannya
bisa dijadikan alternatif. Sebaliknya, menurut Chairulsjah,
soal stagen sampai saat ini masih mengundang kontroversi.
Ada yang mengatakan akan lebih cepat pemulihannya. Namun
tak sedikit pula yang berprinsip boleh memakai tapi sekadarnya
saja atau malah tegas-tegas melarang.
Pertimbangannya,
penggunaan stagen yang diikat terlalu kuat hanya akan membuat
tekanan intraabdomen di dalam rongga perut terlalu tinggi.
Akibatnya, organ-organ yang berada di rongga perut tertekan
sedemikian rupa. Termasuk rahim yang lambat laun akan turun
hingga terjadilah prolapsus uteri. Belum lagi keluhan sesak
napas yang dirasa menyiksa. Begitu juga kulit perut yang
jadi lembab karena keringat yang tertahan "mengundang"
infeksi. Sayangnya, bilang Chairulsjah, penggunaan gurita
seolah sudah jadi keharusan. Hingga si ibu memang sulit
menolak bila anjuran datang dari segala penjuru.
Yanti
|
|
Penggunaan Tapel Dan Pilis
Menurut
Koesmariyah, tapel yang terbuat dari aneka rempah
jejamuan ini dimaksudkan untuk menghangatkan daerah sekitar
perut. Selain untuk membantu merontokkan lapisan kulit perut
yang berwarna kehitaman akibat pemelaran selama kehamilan.
Kendati mengundang rasa gatal dan keinginan untuk menggaruk,
sarannya, cobalah tahan untuk tak menggaruknya. Cukup dielus-elus
agar tak muncul garis/guratan yang bukan tak mungkin membuat
suami jadi tak berselera.
Sedangkan
penggunaan pilis dengan cara menempelkannya di kening dimaksudkan
untuk merelakskan mata karena sifatnya yang mendinginkan.
Selain untuk menurunkan darah putih dari daerah mata. Karena
bila tidak, mata cenderung cepat belekan/ngeres seolah ada
sesuatu yang mengganjal terus yang membuat si ibu cepat
lamur/rabun.
Yanti
|
|