Khasanah 053/1 : Jangan Sembarang Memestakan Ulang Tahun
Khasanah 053/2 : Pengalaman Para Selebritis
Khasanah 053/3 : Aneka Pesta Anak
Khasanah 053/4 : Merancang Pesta Agar Fun Dan Seru
Khasanah 053/5 : Menyiapkan Anak Ke Pesta Ulang Tahun
Khasanah 053/6 : Hadiah Buat Yang Berulang Tahun
Khasanah 053/7 : Party Time Studio, Di Balik Sukses Pesta Anak

 

MENYIAPKAN ANAK KE PESTA ULANG TAHUN

Anak perlu diberi pemahaman mengenai pesta yang akan didatanginya. Ia juga perlu dilibatkan dalam pemilihan kado dan busana yang akan dikenakannya. Persiapan yang matang akan membuat anak nyaman saat datang ke pesta.

Jika anak berulang tahun, biasanya orang tua langsung sibuk menyiapkan segala sesuatunya; dari makanan sampai acara pesta dan busana ulang tahunnya. Tapi bila anak mendapat undangan pesta ulang tahun dari temannya, paling-paling yang disiapkan cuma kado buat yang berulang tahun dan busana yang akan dikenakan si kecil ke pesta.

Padahal, anak juga perlu persiapan matang, lo, sebelum pergi ke pesta ulang tahun agar ia merasa nyaman. Terlebih lagi jika si kecil usianya di bawah 4 tahun karena ia belum mengerti konsep ulang tahun. Ia juga belum paham apa artinya kado. Bisa-bisa di tempat pesta nanti kadonya enggak diberikan kepada yang berulang tahun karena dipikirnya kado itu miliknya. Bukankah di usia batita anak belum memahami konsep berbagi?

BERI PEMAHAMAN

Tentunya, persiapan dimulai ketika kartu undangan diterima anak. "Orang tua bisa mengkomunikasikan kepada anak mengenai kegiatan yang akan dilakukannya di pesta tersebut," kata Dra. Farida Kurniawati.

Mungkin akan relatif lebih mudah menjelaskannya bila anak memang sudah terbiasa dengan acara-acara seperti itu. Tapi kalau belum atau malah baru pertama kali mendengarnya, "orang tua harus memberikan pemahaman," tukas dosen Bagian Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi UI yang akrab disapa Ida ini.

Namun dalam memberikan pemahaman harus disesuaikan dengan siapa yang berulang tahun. "Akan lebih mudah bila yang berulang tahun adalah teman main sehari-hari, teman dekat anak, atau saudara sepupu yang biasa ditemui anak dalam acara-acara keluarga. Tapi bila yang berulang tahun adalah tetangga baru tentu akan banyak pengaruhnya bagi anak," tutur Ida.

Terlebih lagi bila si kecil termasuk anak yang pasif atau pemalu, "ia perlu lebih banyak diberi pemahaman atau pengertian agar ia tak mudah merasa cemas," lanjut Ida. Soalnya, selain untuk menghadiri acara ulang tahun itu sendiri, ia pun harus beradaptasi dengan orang baru. Nah, anak yang pasif/pemalu biasanya tak mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Belum lagi tiba hari pesta, ia pasti sudah akan bertanya, "Nanti di sana ketemu siapa, Ma?" Lain halnya bila anak memiliki keterampilan sosial yang baik, mungkin enggak masalah. Kemudian, saat anak akan menghadiri pesta, orang tua harus mengkomunikasikannya lagi agar ia semakin siap mental.

MEMILIH KADO

Persiapan lainnya ialah memilih kado ulang tahun. Menurut Ida, anak sebaiknya dilibatkan agar ia merasa acara tersebut jauh lebih bermakna karena orang tua memberikan perhatian. Namun orang tua juga harus memperhitungkan usia anak, apakah memang sudah bisa atau belum dilibatkan dalam memilih kado.

"Anak usia batita mungkin agak sulit diajak membeli kado sama-sama. Bukannya memilih kado untuk temannya, jangan-jangan nanti ia malah asyik memilih mainan atau barang yang ia inginkan," tutur Ida. Apalagi anak usia batita egosentrisnya masih sangat kuat. Ia merasa barang itu ibunya yang beli, kok, harus diberikan kepada anak lain. Dalam hal ini, jalan keluar yang disarankan Ida ialah membelikan barang yang sama untuk anak. "Jadi, jangan memaksa anak harus merelakan kalau ia memang masih belum rela memberikan barang tersebut kepada temannya."

Tapi bila si kecil sudah berusia 4-5 tahun, "mungkin sudah bisa diajak memilih kado," lanjut Ida. Begitu juga memilih kertas kadonya yang bagus maupun kartu ucapannya. "Bila anak sudah bisa menulis sendiri, tak ada salahnya orang tua mendiktekan dan anak yang menulis sendiri ucapannya. Ini juga akan membuat anak lebih bergairah menyiapkan keberangkatannya."

Sebaiknya, tambah Ida, pada saat membeli kado orang tua memberikan pemahaman kepada anak bahwa tak ada salahnya membuat orang lain bahagia dan bersikap peduli pada orang lain. Misalnya, tanyakan pada anak apa kira-kira warna kesukaan temannya untuk warna kertas kadonya. "Cara ini bisa melatih anak untuk mau memperhatikan orang lain."

PILIH BAJU SENDIRI

Sebaiknya anak juga dilibatkan dalam memilih baju yang akan dikenakannya ke pesta. "Ini akan membuat anak lebih bergairah datang ke pesta," jelas Ida. Kalau tidak, anak mungkin akan merasa, "Kok, aku pakai baju ini, sih." Anak jadi kurang percaya diri. Padahal rasa percaya diri sangat penting untuk membantunya agar bisa beradaptasi.

Namun sebelumnya orang tua perlu tahu lebih dulu seperti apa pesta yang akan didatangi anak dan di mana tempatnya. "Biasanya dari undangan bisa diketahui akan seperti apa ulang tahunnya. Orang tua juga bisa mencari informasi, kira-kira yang diundang banyak atau sedikit, atau cuma sekedar tetangga. Kemudian jenis pestanya apakah dengan tema tertentu. Nah, dari situ orang tua bisa menyiapkan baju apa yang sebaiknya dikenakan anak."

Tentunya, orang tua juga harus menanamkan pengertian pada anak bahwa ia akan pergi ke tempat di mana berlangsung suatu acara istimewa untuk seseorang. "Tekankan bahwa kita diundang sebagai tamu yang harus menempatkan diri kita agar tuan rumah merasa kedatangan kita sebagai seseorang yang memang menghormati undangannya. Jadi, sebaiknya berpakaian tak harus mewah tapi pilihlah pakaian yang terbaik dan rapi. Biar bagaimanapun, yang lebih diharapkan tuan rumah adalah kehadiran kita, bukan asesoris yang kita pakai."

Memang, aku Ida, tak jarang anak ngotot memakai baju yang dipilihnya meski sebetulnya enggak tepat, entah karena terlalu mewah atau tak layak dipakai ke pesta. Nah, menghadapi anak yang demikian bisa disiasati dengan meminta tolong temannya untuk mampir ke rumah, misalnya. Katakan pada anak, "Tuh, pakaian temanmu seperti ini, kan." "Biasanya, kan, anak cenderung ingin sama sehingga akhirnya ia mau juga untuk mengganti pakaian."

Tapi bila anak tetap tak mau dan berkeras pada pendiriannya, apa boleh buat, "kita memang tak bisa memaksakannya kalau ia sulit diubah pemikirannya sekalipun sudah diberi pengertian," kata Ida. Jadi, biarkan saja anak memakai baju yang ia pilih. "Toh, bila itu merupakan suatu kekeliruan, ia nanti bisa belajar dari kekeliruannya tersebut untuk pematangannya."

Hal lain yang perlu diperhatikan orang tua ialah jam pesta ulang tahun. "Kadang jamnya berlangsung saat jam tidur siang atau jam makan anak," ujar Ida. Bila demikian, sebaiknya anak tidur dulu sebelum pergi agar tak rewel saat di pesta. Atau, tak ada salahnya anak makan dulu agar tak kelaparan di pesta. "Tapi jangan bawa bekal sendiri, lo, karena akan menyinggung pihak yang mengundang."

DAMPINGI ANAK

Nah, si kecil kini sudah siap berangkat ke pesta ulang tahun temannya. Saran Ida, orang tua sebaiknya mengantarkan agar bisa mendampingi anak saat di pesta. Pasalnya, seringkali dalam pesta ulang tahun dilakukan berbagai permainan yang membuat anak begitu bersemangat. Nah, dalam kondisi seperti itu, anak-anak biasanya suka lepas kontrol.

"Meskipun pada akhirnya akan kembali ke tuan rumah, namun tak ada salahnya orang tua ikut mengawasi apakah di tempat pesta ada benda-benda yang bisa membahayakan anak," kata Ida. Misalnya, benda-benda seperti sisi-sisi meja, kabel stop kontak yang berceceran, pisau pemotong kue yang diletakkan sembarangan, atau mungkin ceceran pecahan balon yang bisa "dimakan" anak usia batita. Jadi, tandasnya, tetap perlu ada kontrol dari orang tua.

Lagi pula, lanjut Ida, anak usia balita masih belum bisa dilepas sendiri sekalipun ia sudah berusia 4-5 tahun. Soalnya, di usia tersebut anak sudah lebih berkembang motoriknya. "Biasanya ia akan berlari-larian,tak bisa duduk manis atau mengobrol terus. Tentunya ini akan mengganggu."

Sementara anak usia batita sedang dalam tahap perkembangan kognitif. "Ia belajar melalui sensorik motornya atau panca inderanya. Anak usia ini akan mudah sekali menyentuh seperti memegang-megang asesoris pesta atau kue pesta." Selain itu, emosinya juga sedang berkembang. Misalnya, dibagi kue enggak mau cuma satu. "Nah, orang tua harus berusaha menjaga jangan sampai anak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya dan orang lain."

Yang harus diingat, pesan Ida, jangan menegur anak di depan teman-temannya bila ia melakukan suatu perbuatan atau menunjukkan perilaku yang kurang bisa diterima saat pesta karena akan membuat anak malu dan merasa kecewa. "Tentu pada saat itu ia perlu ditegur, namun tegurannya hanya sebatas tepukan halus di tangannya sambil perhatiannya dialihkan, misalnya."

Setelah pulang, barulah orang tua menjabarkan, "Ade, gimana pestanya? Menyenangkan nggak? Ade tadi ngapain aja di pesta? Tadi, ketika Ade lari-larian di dalam ruangan, bagus enggak? Berbahaya atau tidak?" Dari situ anak akan mau lebih terbuka untuk mengomentari pestanya dan perbuatannya saat pesta.

JANGAN PAKSA ANAK

Tak jarang terjadi, orang tua justru lebih "heboh" daripada anaknya saat di pesta. Misalnya, anak didorong-dorong supaya mau menyanyi sementara si anak tak begitu tertarik. Menurut Ida, boleh-boleh saja orang tua bersikap demikian. Apalagi jika anaknya pasif atau pendiam. Asalkan, jangan sampai anak merasa dipaksa.

"Anak yang pasif atau pendiam maupun pemalu butuh waktu sebentar untuk membaca situasi meskipun yang berulang tahun adalah teman bermainnya sehari-hari," terang Ida. Tapi, tamu-tamu yang hadir di pesta itu, kan, belum tentu semuanya dikenal oleh anak. Selain itu, banyaknya hiasan juga bisa membuat anak jadi bingung. "Kadang malah ada anak yang menangis karena panik melihat situasi hingar-bingar."

Jadi, tandas Ida, orang tua harus mau bersabar menunggu anak membaca situasi sampai akhirnya ia mau menunjukkan keinginan untuk ikutan bernyanyi, misalnya. "Yang lebih mengenal anak adalah orang tuanya sendiri. Bila orang tua melihat anaknya adalah anak yang gampang panik atau pemalu, tak ada salahnya anak diajak keluar sebentar dari ruangan pesta, ngintip-ngintip dulu." Atau, saat berangkat ke pesta bersama-sama dengan temannya. "Ini akan banyak membantu anak untuk lebih percaya diri datang ke pesta. Baru setelah anak tampak mengenal situasi, ia diajak masuk."

Selain itu, lanjut Ida, anak juga perlu diberi pengetahuan. Misalnya, anak takut melihat badut yang dipanggil di acara pesta. "Mungkin kalau lihat di TV, anak senang. Tapi kalau melihat langsung, kadang mereka malah ketakutan. Nah, orang tua bisa memberi pemahaman, 'Itu, kan, badut yang sering Ade lihat di TV.'"

Ida tak setuju bila anak panik atau takut maupun menolak terlibat di acara pesta lalu orang tua langsung membawanya pulang. "Itu cuma sekadar reaksi spontan. Nanti kalau sudah tune in anak juga akan lega." Sebab, ketika anak menunjukkan reaksi demikian, sebetulnya ia merasa cemas. "Ia merasa tak nyaman, enggak PD (percaya diri, Red.)."

Itulah mengapa, Ida juga tak setuju memaksa anak ketika sedang berada dalam kondisi demikian. Apalagi, bisa saja si anak sebenarnya sudah merasa aman, tapi karena tiba-tiba disuruh menyanyi atau melakukan aktivitas lainnya dan kemudian orang tua pun memaksa, akhirnya bisa-bisa anak malah jadi malas untuk datang ke acara-acara seperti itu lagi. "Ia takut kalau datang ke acara tersebut akan disuruh menyanyi lagi."

Jikapun anak mau disuruh menyanyi atau terlibat dalam aktivitas pesta, sebaiknya orang tua jangan mendorongnya untuk terus menerus terlibat karena bisa membuat tuan rumah merasa "tersingkirkan". Bukankah seharusnya yang menjadi pusat perhatian adalah anak yang berulang tahun? Lagi pula, orang tua dari yang berulang tahun maupun tamu lain tentunya tak akan senang bila anak kita sampai memonopoli pesta. Jadi, Bu-Pak, jangan lupa siapkan si kecil sebelum menghadiri suatu pesta ulang tahun.


Hasto Prianggoro.Foto:Iman Dharma/nakita

 

Belajar Membagi Kebahagiaan

Banyak hal yang akan dipelajari anak dengan datang ke pesta ulang tahun. Misalnya, nilai-nilai sosial. "Anak bisa melatih keterampilannya untuk menerima kehadiran orang lain. Ia bisa mengobservasi dari temannya yang berulang tahun bagaimana ia menerima tamu, menerima kado, atau bagaimana mengucapkan terimakasih, misalnya," tutur Dra. Farida Kurniawati.

Jika pesta tersebut juga mengundang anak-anak yang memang membutuhkan semisal anak-anak panti asuhan, maka anak akan belajar bahwa ulang tahun bukan hanya sekadar menerima kado, tapi juga bisa belajar berbagi atau memberi. "Dari situ anak juga bisa belajar bahwa kebahagiaan bisa diberikan kepada orang lain. Apalagi sering ada konotasi, kalau kita memberi seolah-olah kita merendahkan si penerima. Nah, tugas orang tualah untuk menerjemahkan arti pemberian kita kepada orang lain sebagai bentuk kasih sayang, bukan bentuk merendahkan orang lain," lanjut Ida.

Pesta ulang tahun yang bermacam-macam juga akan membuat anak belajar bahwa hidup ini penuh warna. "Ada yang pestanya mewah, ada yang biasa-biasa saja. Anak juga akan memahami bahwa sebetulnya wajar jika ulang tahun tak dipestakan," lanjut Ida.

Pendeknya, bila kita mencoba melibatkan anak sesuai dengan usianya, maka akan banyak yang dipelajari oleh anak. Malah pada anak yang lebih besar akan diperoleh pemahaman bahwa dalam suatu acara harus ada strategi atau perencanaan yang matang.

Hasto