|
MENYIAPKAN ANAK KE
PESTA ULANG TAHUN
Anak
perlu diberi pemahaman mengenai pesta yang akan didatanginya.
Ia juga perlu dilibatkan dalam pemilihan kado dan busana yang
akan dikenakannya. Persiapan yang matang akan membuat anak nyaman
saat datang ke pesta.
Jika
anak berulang tahun, biasanya orang tua langsung sibuk menyiapkan
segala sesuatunya; dari makanan sampai acara pesta dan busana
ulang tahunnya. Tapi bila anak mendapat undangan pesta ulang tahun
dari temannya, paling-paling yang disiapkan cuma kado buat yang
berulang tahun dan busana yang akan dikenakan si kecil ke pesta.
Padahal,
anak juga perlu persiapan matang, lo, sebelum pergi ke pesta ulang
tahun agar ia merasa nyaman. Terlebih lagi jika si kecil usianya
di bawah 4 tahun karena ia belum mengerti konsep ulang tahun. Ia
juga belum paham apa artinya kado. Bisa-bisa di tempat pesta nanti
kadonya enggak diberikan kepada yang berulang tahun karena dipikirnya
kado itu miliknya. Bukankah di usia batita anak belum memahami konsep
berbagi?
BERI
PEMAHAMAN
Tentunya,
persiapan dimulai ketika kartu undangan diterima anak. "Orang
tua bisa mengkomunikasikan kepada anak mengenai kegiatan yang akan
dilakukannya di pesta tersebut," kata Dra. Farida Kurniawati.
Mungkin
akan relatif lebih mudah menjelaskannya bila anak memang sudah terbiasa
dengan acara-acara seperti itu. Tapi kalau belum atau malah baru
pertama kali mendengarnya, "orang tua harus memberikan pemahaman,"
tukas dosen Bagian Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi UI yang
akrab disapa Ida ini.
Namun
dalam memberikan pemahaman harus disesuaikan dengan siapa yang berulang
tahun. "Akan lebih mudah bila yang berulang tahun adalah teman
main sehari-hari, teman dekat anak, atau saudara sepupu yang biasa
ditemui anak dalam acara-acara keluarga. Tapi bila yang berulang
tahun adalah tetangga baru tentu akan banyak pengaruhnya bagi anak,"
tutur Ida.
Terlebih
lagi bila si kecil termasuk anak yang pasif atau pemalu, "ia
perlu lebih banyak diberi pemahaman atau pengertian agar ia tak
mudah merasa cemas," lanjut Ida. Soalnya, selain untuk menghadiri
acara ulang tahun itu sendiri, ia pun harus beradaptasi dengan orang
baru. Nah, anak yang pasif/pemalu biasanya tak mudah untuk beradaptasi
dengan lingkungan baru. Belum lagi tiba hari pesta, ia pasti sudah
akan bertanya, "Nanti di sana ketemu siapa, Ma?" Lain
halnya bila anak memiliki keterampilan sosial yang baik, mungkin
enggak masalah. Kemudian, saat anak akan menghadiri pesta, orang
tua harus mengkomunikasikannya lagi agar ia semakin siap mental.
MEMILIH
KADO
Persiapan
lainnya ialah memilih kado ulang tahun. Menurut Ida, anak sebaiknya
dilibatkan agar ia merasa acara tersebut jauh lebih bermakna karena
orang tua memberikan perhatian. Namun orang tua juga harus memperhitungkan
usia anak, apakah memang sudah bisa atau belum dilibatkan dalam
memilih kado.
"Anak
usia batita mungkin agak sulit diajak membeli kado sama-sama. Bukannya
memilih kado untuk temannya, jangan-jangan nanti ia malah asyik
memilih mainan atau barang yang ia inginkan," tutur Ida. Apalagi
anak usia batita egosentrisnya masih sangat kuat. Ia merasa barang
itu ibunya yang beli, kok, harus diberikan kepada anak lain. Dalam
hal ini, jalan keluar yang disarankan Ida ialah membelikan barang
yang sama untuk anak. "Jadi, jangan memaksa anak harus merelakan
kalau ia memang masih belum rela memberikan barang tersebut kepada
temannya."
Tapi
bila si kecil sudah berusia 4-5 tahun, "mungkin sudah bisa
diajak memilih kado," lanjut Ida. Begitu juga memilih kertas
kadonya yang bagus maupun kartu ucapannya. "Bila anak sudah
bisa menulis sendiri, tak ada salahnya orang tua mendiktekan dan
anak yang menulis sendiri ucapannya. Ini juga akan membuat anak
lebih bergairah menyiapkan keberangkatannya."
Sebaiknya,
tambah Ida, pada saat membeli kado orang tua memberikan pemahaman
kepada anak bahwa tak ada salahnya membuat orang lain bahagia dan
bersikap peduli pada orang lain. Misalnya, tanyakan pada anak apa
kira-kira warna kesukaan temannya untuk warna kertas kadonya. "Cara
ini bisa melatih anak untuk mau memperhatikan orang lain."
PILIH
BAJU SENDIRI
Sebaiknya
anak juga dilibatkan dalam memilih baju yang akan dikenakannya ke
pesta. "Ini akan membuat anak lebih bergairah datang ke pesta,"
jelas Ida. Kalau tidak, anak mungkin akan merasa, "Kok, aku
pakai baju ini, sih." Anak jadi kurang percaya diri. Padahal
rasa percaya diri sangat penting untuk membantunya agar bisa beradaptasi.
Namun
sebelumnya orang tua perlu tahu lebih dulu seperti apa pesta yang
akan didatangi anak dan di mana tempatnya. "Biasanya dari undangan
bisa diketahui akan seperti apa ulang tahunnya. Orang tua juga bisa
mencari informasi, kira-kira yang diundang banyak atau sedikit,
atau cuma sekedar tetangga. Kemudian jenis pestanya apakah dengan
tema tertentu. Nah, dari situ orang tua bisa menyiapkan baju apa
yang sebaiknya dikenakan anak."
Tentunya,
orang tua juga harus menanamkan pengertian pada anak bahwa ia akan
pergi ke tempat di mana berlangsung suatu acara istimewa untuk seseorang.
"Tekankan bahwa kita diundang sebagai tamu yang harus menempatkan
diri kita agar tuan rumah merasa kedatangan kita sebagai seseorang
yang memang menghormati undangannya. Jadi, sebaiknya berpakaian
tak harus mewah tapi pilihlah pakaian yang terbaik dan rapi. Biar
bagaimanapun, yang lebih diharapkan tuan rumah adalah kehadiran
kita, bukan asesoris yang kita pakai."
Memang,
aku Ida, tak jarang anak ngotot memakai baju yang dipilihnya
meski sebetulnya enggak tepat, entah karena terlalu mewah atau tak
layak dipakai ke pesta. Nah, menghadapi anak yang demikian bisa
disiasati dengan meminta tolong temannya untuk mampir ke rumah,
misalnya. Katakan pada anak, "Tuh, pakaian temanmu seperti
ini, kan." "Biasanya, kan, anak cenderung ingin sama sehingga
akhirnya ia mau juga untuk mengganti pakaian."
Tapi
bila anak tetap tak mau dan berkeras pada pendiriannya, apa boleh
buat, "kita memang tak bisa memaksakannya kalau ia sulit diubah
pemikirannya sekalipun sudah diberi pengertian," kata Ida.
Jadi, biarkan saja anak memakai baju yang ia pilih. "Toh, bila
itu merupakan suatu kekeliruan, ia nanti bisa belajar dari kekeliruannya
tersebut untuk pematangannya."
Hal
lain yang perlu diperhatikan orang tua ialah jam pesta ulang tahun.
"Kadang jamnya berlangsung saat jam tidur siang atau jam makan
anak," ujar Ida. Bila demikian, sebaiknya anak tidur dulu sebelum
pergi agar tak rewel saat di pesta. Atau, tak ada salahnya anak
makan dulu agar tak kelaparan di pesta. "Tapi jangan bawa bekal
sendiri, lo, karena akan menyinggung pihak yang mengundang."
DAMPINGI
ANAK
Nah,
si kecil kini sudah siap berangkat ke pesta ulang tahun temannya.
Saran Ida, orang tua sebaiknya mengantarkan agar bisa mendampingi
anak saat di pesta. Pasalnya, seringkali dalam pesta ulang tahun
dilakukan berbagai permainan yang membuat anak begitu bersemangat.
Nah, dalam kondisi seperti itu, anak-anak biasanya suka lepas kontrol.
"Meskipun
pada akhirnya akan kembali ke tuan rumah, namun tak ada salahnya
orang tua ikut mengawasi apakah di tempat pesta ada benda-benda
yang bisa membahayakan anak," kata Ida. Misalnya, benda-benda
seperti sisi-sisi meja, kabel stop kontak yang berceceran, pisau
pemotong kue yang diletakkan sembarangan, atau mungkin ceceran pecahan
balon yang bisa "dimakan" anak usia batita. Jadi, tandasnya,
tetap perlu ada kontrol dari orang tua.
Lagi
pula, lanjut Ida, anak usia balita masih belum bisa dilepas sendiri
sekalipun ia sudah berusia 4-5 tahun. Soalnya, di usia tersebut
anak sudah lebih berkembang motoriknya. "Biasanya ia akan berlari-larian,tak
bisa duduk manis atau mengobrol terus. Tentunya ini akan mengganggu."
Sementara
anak usia batita sedang dalam tahap perkembangan kognitif. "Ia
belajar melalui sensorik motornya atau panca inderanya. Anak usia
ini akan mudah sekali menyentuh seperti memegang-megang asesoris
pesta atau kue pesta." Selain itu, emosinya juga sedang berkembang.
Misalnya, dibagi kue enggak mau cuma satu. "Nah, orang tua
harus berusaha menjaga jangan sampai anak melakukan hal-hal yang
bisa membahayakan dirinya dan orang lain."
Yang
harus diingat, pesan Ida, jangan menegur anak di depan teman-temannya
bila ia melakukan suatu perbuatan atau menunjukkan perilaku yang
kurang bisa diterima saat pesta karena akan membuat anak malu dan
merasa kecewa. "Tentu pada saat itu ia perlu ditegur, namun
tegurannya hanya sebatas tepukan halus di tangannya sambil perhatiannya
dialihkan, misalnya."
Setelah
pulang, barulah orang tua menjabarkan, "Ade, gimana
pestanya? Menyenangkan nggak? Ade tadi ngapain aja
di pesta? Tadi, ketika Ade lari-larian di dalam ruangan, bagus enggak?
Berbahaya atau tidak?" Dari situ anak akan mau lebih terbuka
untuk mengomentari pestanya dan perbuatannya saat pesta.
JANGAN
PAKSA ANAK
Tak
jarang terjadi, orang tua justru lebih "heboh" daripada
anaknya saat di pesta. Misalnya, anak didorong-dorong supaya mau
menyanyi sementara si anak tak begitu tertarik. Menurut Ida, boleh-boleh
saja orang tua bersikap demikian. Apalagi jika anaknya pasif atau
pendiam. Asalkan, jangan sampai anak merasa dipaksa.
"Anak
yang pasif atau pendiam maupun pemalu butuh waktu sebentar untuk
membaca situasi meskipun yang berulang tahun adalah teman bermainnya
sehari-hari," terang Ida. Tapi, tamu-tamu yang hadir di pesta
itu, kan, belum tentu semuanya dikenal oleh anak. Selain itu, banyaknya
hiasan juga bisa membuat anak jadi bingung. "Kadang malah ada
anak yang menangis karena panik melihat situasi hingar-bingar."
Jadi,
tandas Ida, orang tua harus mau bersabar menunggu anak membaca situasi
sampai akhirnya ia mau menunjukkan keinginan untuk ikutan bernyanyi,
misalnya. "Yang lebih mengenal anak adalah orang tuanya sendiri.
Bila orang tua melihat anaknya adalah anak yang gampang panik atau
pemalu, tak ada salahnya anak diajak keluar sebentar dari ruangan
pesta, ngintip-ngintip dulu." Atau, saat berangkat ke
pesta bersama-sama dengan temannya. "Ini akan banyak membantu
anak untuk lebih percaya diri datang ke pesta. Baru setelah anak
tampak mengenal situasi, ia diajak masuk."
Selain
itu, lanjut Ida, anak juga perlu diberi pengetahuan. Misalnya, anak
takut melihat badut yang dipanggil di acara pesta. "Mungkin
kalau lihat di TV, anak senang. Tapi kalau melihat langsung, kadang
mereka malah ketakutan. Nah, orang tua bisa memberi pemahaman, 'Itu,
kan, badut yang sering Ade lihat di TV.'"
Ida
tak setuju bila anak panik atau takut maupun menolak terlibat di
acara pesta lalu orang tua langsung membawanya pulang. "Itu
cuma sekadar reaksi spontan. Nanti kalau sudah tune in anak
juga akan lega." Sebab, ketika anak menunjukkan reaksi demikian,
sebetulnya ia merasa cemas. "Ia merasa tak nyaman, enggak PD
(percaya diri, Red.)."
Itulah
mengapa, Ida juga tak setuju memaksa anak ketika sedang berada dalam
kondisi demikian. Apalagi, bisa saja si anak sebenarnya sudah merasa
aman, tapi karena tiba-tiba disuruh menyanyi atau melakukan aktivitas
lainnya dan kemudian orang tua pun memaksa, akhirnya bisa-bisa anak
malah jadi malas untuk datang ke acara-acara seperti itu lagi. "Ia
takut kalau datang ke acara tersebut akan disuruh menyanyi lagi."
Jikapun
anak mau disuruh menyanyi atau terlibat dalam aktivitas pesta, sebaiknya
orang tua jangan mendorongnya untuk terus menerus terlibat karena
bisa membuat tuan rumah merasa "tersingkirkan". Bukankah
seharusnya yang menjadi pusat perhatian adalah anak yang berulang
tahun? Lagi pula, orang tua dari yang berulang tahun maupun tamu
lain tentunya tak akan senang bila anak kita sampai memonopoli pesta.
Jadi,
Bu-Pak, jangan lupa siapkan si kecil sebelum menghadiri suatu pesta
ulang tahun.
Hasto Prianggoro.Foto:Iman Dharma/nakita
|