|
ANEKA PESTA ANAK
Salah
satu yang perlu dilakukan dalam persiapan pesta ialah memilih
jenis pesta. Tapi jenis pestanya harus disesuaikan dengan usia
dan keinginan anak, lo.
Umumnya,
anak usia 3-5 tahun sudah bisa diajak untuk memilih jenis pesta
yang ia inginkan. Pesta yang disukai biasanya bertema tokoh kartun.
Maklumlah, di usia 3-5 tahun anak sedang dalam masa berfantasi.
"Tapi
kalau anak tak tahu apa yang akan dipilih, tak ada salahnya bila
orang tua yang memilihkan," kata Dewi Hughes, SPd. dari
Hughes Party House. Namun sebelumnya orang tua harus lebih dulu
mengobrol dengan anak. Tanyakan padanya, apakah ia bersedia atau
tidak dengan pilihan orang tua tersebut. "Jangan sampai nanti
si anak malah tak suka dengan pestanya. Misalnya, anak takut sama
badut, ya, jangan bikin pesta bertema badut."
Selain
itu, lanjut Hughes, usia anak juga harus diperhatikan, baik untuk
yang berulang tahun maupun tamu yang akan datang. Soalnya, permainan
untuk anak usia 1-2 tahun harus berbeda dengan anak usia 3-5 tahun.
"Untuk anak usia 1-2 tahun, permainannya harus melibatkan orang
tua," jelasnya.
USIA
1-2 TAHUN
Sebenarnya,
terang Hughes, pesta ulang tahun untuk anak usia 1-2 tahun belum
perlu sekali diselenggarakan per tema. "Di usia ini, anak,
kan belum bisa menikmati pesta. Mereka belum mengerti benar apa
itu pesta. Malah bisa jadi anak hanya bersembunyi di belakang rok
ibunya. Akhirnya, pesta yang diselenggarakan bukan untuk anak tapi
untuk para tamunya."
Selain
itu, anak usia 1-2 tahun masih sulit diharapkan untuk kooperatif
dalam permainan, sehingga acara bisa jadi tidak fun. Lain
halnya dengan anak usia 3-5 tahun, "mereka bisa diajak fun
dan menikmati pesta," ujar lulusan Jurusan Bahasa Inggris FKIP
Unika Atma Jaya, Jakarta ini.
Jadi,
pestanya cukup ritual saja dengan iringan doa. Tentu bisa dimasukkan
acara permainan karena tetap ada permainan yang bisa dilakukan untuk
kelompok usia ini, yakni disesuaikan dengan masa perkembangan anak.
Misalnya, lomba merangkak, lomba menangkap balon, lomba menyuapi
ibu, lomba mengorek agar-agar, "Anak diminta mengorek agar-agar
dengan sendok kecil dan di dalam agar-agar ada hadiahnya. Nah, siapa
yang cepat ketemu hadiahnya, dia yang dapat hadiah itu."
Bisa
juga dilakukan permainan tebak-tebakan sederhana lewat lagu. Misalnya,
"Coba tunjukkan mana hidungmu. Tahu, kan, hidung untuk apa,
untuk mencium," sementara si MC memegang perut atau kepala.
"Biasanya anak akan meniru si MC memegang perut dan kepala.
Tapi bagi anak yang mengerti, dia akan memegang hidung. Seru, kan?
Nah, yang betul menunjuk hidung dapat hadiah." Permainan lain
ialah lomba pasang kumis atau mata pada karton yang diberi gambar
wajah.
USIA
3-5 TAHUN
Ada
sejumlah tema yang bisa dipilih untuk pesta anak usia ini, yaitu:
*
Pesta Tokoh Kartun.
Yang
termasuk pesta tokoh kartun adalah segala jenis tokoh-tokoh dari
film kartun. Entah Mickey Mouse, Winnie The Pooh, Tom and Jerry,
dan lainnya.
Tentunya,
acara, dekorasi, maupun kostum harus sesuai dengan tema. Misalnya,
Winnie The Pooh. Dekorasi dibuat seperti rimba dan harus ada yang
berperan dan berkostum sebagai beruang, lalu kue tart-nya berbentuk
gambar binatang ini atau hanya kepalanya saja. Dalam kartu undangan
dan ucapan terima kasihnya juga harus ada gambar beruangnya atau
kartunya berbentuk binatang ini. Dengan demikian, temanya akan mengena
sekali dengan suasana pestanya.
Tak
cuma itu, kemasan permainan pun harus berkaitan dengan tema. Misalnya,
si beruang lapar dan kebingungan mencari jar (madu). "Nah,
siapa yang mau menolong mencari madu buat si beruang?" Biasanya
anak-anak pun akan berlarian mencari madu. Siapa yang paling banyak
mendapat madu akan mendapatkan hadiah.
*
Pesta Cerita Anak.
Yang
masuk dalam kategori pesta ini ialah pesta yang mengambil tema berasal
dari cerita anak. Misalnya, Si Kancil, Cinderella, Aladin, pesta
bajak laut, pesta indian, dan sebagainya.
Susunan
acaranya biasanya akan lebih mudah karena ada ceritanya sehingga
kita tinggal menjiplaknya saja. Misalnya, pesta Cinderella. Ceritanya,
kan, sudah jelas; ada pangeran, ada pesta dansa, dan ada mencari
sepatu. Untuk tema pesta bajak laut bisa dibuat permainan mencari
harta karun. Anak-anak pasti akan senang.
Bila
memilih pesta indian, tuan rumah bisa menggambari wajah setiap tamu
yang datang dengan sedikit coretan, entah coretan biru, kuning,
atau merah. Anak-anak juga akan senang, lo, kendati wajahnya dicorat-coret.
Apalagi kalau tuan rumah juga sudah menyediakan hiasan rambut berbulu
khas indian. Wah, tambah seru, deh.
*
Pesta Kostum.
Dalam
pesta ini setiap yang hadir bisa memakai berbagai kostum. Entah
kostum indian, kostum bajak laut, kostum binatang, superman, spider
man, dan sebagainya. Acaranya juga jauh lebih mudah. Mintalah anak
untuk fashion show, satu per satu maju memperagakan bajunya
dengan berperan seperti kostum yang dikenakannya. Bila mengenakan
baju bajak laut, misalnya, ia harus berlagak jadi bajak laut. Anak
juga diminta untuk sedikit bercerita tentang apa itu bajak laut.
*
Pesta Kreasi Sendiri.
Yang
termasuk kategori ini, misalnya, pesta kolam renang, pesta summer
camp, pesta badut, zoo party, dan sebagainya. Untuk pesta summer
camp, buatlah tenda-tenda dan atribut camping. Lokasinya bisa
di halaman belakang rumah. Di dalam rumah pun bisa asal di-setting
dengan banyak tumbuhan sehingga berkesan seperti hutan betulan.
Tentu permainannya harus disesuaikan seperti saat berkemah dengan
pembagian regu-regu, misalnya.
Kelebihan
dari pesta kreasi sendiri adalah bisa disesuaikan dengan situasi
dan fasilitas yang ada di rumah. Misalnya, ada kolam renang. Nah,
mengapa tak dimanfaatkan jadi beach party atau pesta putri
duyung. Tapi jangan lupa, lo, tuliskan di kartu undangannya agar
membawa baju renang dan baju ganti.
TANPA
TEMA
Tentunya,
pesta yang bertema akan membutuhkan dana cukup banyak. "Nah,
bila dananya terbatas, kita bisa membuat pesta tanpa tema. Toh,
bisa tetap meriah asal tahu caranya. Tinggal pilih, mau 'heboh'
di suasana atau di acaranya. Bila acaranya tak banyak, maka suasananya
yang harus dibuat meriah," tutur Hughes.
Misalnya,
pesta taman, dengan round table berukuran kecil dalam jumlah banyak
untuk tempat duduk para tamu. Di atas meja taruhlah aneka permen
dan makanan kecil kesukaan anak-anak. Dekorasi dirancang dengan
aneka balon dan hiasan yang semarak. Jangan lupa musiknya untuk
menampilkan suasana pesta. Selanjutnya, anak dibiarkan main sendiri.
Tapi tentunya bukan sekadar asal main sendiri. Jadi, tuan rumah
harus mengeluarkan berbagai mainan yang dimilikinya. Apakah itu
mobil-mobilan, kereta-keretaan, perosotan, ayunan, tangga-tanggaan,
kolam renang buatan, dan sebagainya.
"Meskipun
main sendiri dengan mainan-mainan tersebut, tapi juga sudah membuat
anak senang dan gembira, lo," ujar Hughes. Tapi jangan lupa,
pilihlah mainan yang aman untuk anak. Antara lain, tidak tajam,
tak bersiku, warnanya tak beracun, dan ukurannya jangan terlalu
kecil karena takut tertelan.
PESTA
DI PANTI ASUHAN
Selain
pesta tema dan tanpa tema, kita juga bisa menyelenggarakan pesta
di panti asuhan. "Tapi sebelumnya kita harus melakukan survei
pada panti asuhan yang akan dijadikan tempat pesta, apakah panti
itu untuk anak-anak normal atau disable," kata Hughes.
Tak
jadi soal mau pilih panti asuhan yang mana. Hanya yang perlu diperhatikan,
untuk anak-anak disable, bisa saja yang satu senang dengan
suara ingar-bingar pesta sementara anak lain tak suka mendengar
suara berisik. Jadi, sesuaikan jenis acaranya.
Sebaiknya,
anak-anak yang demikian diberi hadiah dan acara pemberian hadiahnya
harus individual. Misalnya, pada anak buta, terangkan dulu apa hadiahnya
karena ia, kan, tak bisa melihat, "Ini namanya boneka Panda,
warnanya hitam dan putih. Binatang ini berasal dari daratan Cina.
Coba, deh, rasakan halusnya bulu Panda." Dengan demikian, si
anak jadi punya gambaran mainan yang diterimanya. Bisa juga dengan
cara menanyai mereka lebih dulu, ingin mainan apa sebelum dibelikan
mainan tersebut.
Disarankan
untuk tak memberikan hadiah berupa makanan karena umumnya yang mereka
butuhkan adalah mainan. Kalaupun ingin memberi makanan, sebaiknya
kepada anak-anak di perkampungan orang tak mampu.
Sementara
untuk pesta yang berupa entertaiment sebaiknya dilakukan di panti
anak-anak normal karena mereka umumnya butuh hiburan. "Jenis
pestanya bisa beraneka macam. Pesta kostum pun bisa saja; tinggal
kita sediakan atau sewakan kostumnya, lantas sehari sebelumnya kita
dekor atau set ruangannya."
Kita
juga bisa bikin zoo party, yaitu berkunjung ke kebun binatang.
Bukankah anak-anak biasanya senang melihat-lihat binatang? Usai
melihat-lihat binatang, istirahat di bawah pohon sambil bernyanyi
dan acara permainan seperti tebak-tebakan binatang, lomba lari siapa
cepat sampai di kandang macan, mendongeng tentang asal muasal binatang,
dan sebagainya. Namun tentunya permainan tersebut harus disesuaikan
dengan usia anak.
Selain
berkunjung ke kebun binatang, kita juga bisa mengajak mereka ke
museum sebagai alternatif. "Jadi, meski pesta di panti namun
tak melulu harus di dalam ruangan," tukas Hughes. Nah,
Bu-Pak, tinggal pilih mau bikin pesta apa. Tentu atas persetujuan
si kecil, lo.
Indah Mulatsih.Foto : Iman Dharma(nakita)
|
|
Susunan Acara
Biasanya
pesta anak berlangsung sekitar 2 jam. Nah, waktu yang 2
jam itu dibagi dalam 4 session. Setengah jam pertama untuk
icebreaking (perkenalan), setengah jam kemudian permainan
massal, lalu setengah jam lagi cooling down (acara
potong kue dan makan), dan setengah jam berikutnya permainan
individu yang bisa dijadikan sebagai penutup.
Acara
icebreaking, menurut Hughes, sangat perlu
karena umumnya anak masih malu-malu dan bahkan ada yang
belum kenal sama sekali. Jadi, untuk langsung bermain bersama
biasanya agak susah. Apalagi kalau anak-anak itu berasal
dari kelas ekonomi yang berlainan seperti pesta ulang tahun
yang diselenggarakan dengan anak-anak panti asuhan. "Jika
anak dari ekonomi mampu ini di rumahnya tak pernah diajarkan
untuk close dengan anak-anak biasa, awalnya pasti
akan susah sekali bergaul. Nah, MC atau si penyelenggara
harus pintar menggabungkan mereka agar bisa melakukan permainan
bersama-sama."
Salah
satu acara icebreaking yang bisa dilakukan ialah permainan
menyebutkan nama dalam bahasa Inggris. Tuan rumah (yang
berulang tahun) dan para tamunya diminta membentuk lingkaran,
lalu tuan rumah diberikan sebuah bola dan diminta menyebutkan
namanya dalam bahasa Inggris, misalnya, "My name is
Tono." Setelah itu, minta ia melemparkan bola yang
dipegangnya kepada anak lain di seberangnya, misalnya Nani,
sambil mengatakan, "Tono to Nani."
Selanjutnya,
Nani diminta menangkap bola itu dan melemparkannya ke anak
lain lagi. "Dengan demikian anak jadi saling kenal.
Kosa katanya pun bertambah. Ia jadi tahu bahasa Inggrisnya
'nama saya' yaitu 'my name', misalnya. Jadi, ada
manfaat yang dibawa pulang sekembalinya ia dari menghadiri
ulang tahun itu," tutur Hughes. Namun begitu, boleh
saja, kok, bila permainan ini menggunakan bahasa Indonesia.
Tentu
masih banyak lagi permainan yang bisa dilakukan pada acara
icebreaking, tergantung kreativitas si penyelenggara. Begitu
pula dengan acara permainan massal. Antara lain, permainan
mencari madu untuk Winnie The Pooh, mencari harta
karun di persembunyian bajak laut, memecahkan balon berpasangan,
membuat burger dengan ayah-ibu, dan sebagainya.
"Memecahkan
balon berdua dengan temannya tentu akan mendidik anak membentuk
kerjasama yang baik," kata Hughes. Demikian juga membuat
burger mainan dengan ayah-ibu. "Kita akan tanya, kalau
bikin burger apa saja yang diisi? Lantas si anak akan jawab,
roti, daging, sayuran, dan ditutup lagi dengan roti. Nah,
rotinya di tangan si anak sementara sayuran dan dagingnya
ada di ayah dan ibunya yang berada di tempat berbeda dengan
jarak tertentu. Anak diminta lari ke ibunya untuk mengisi
daging, terus lari lagi ke ayahnya untuk mengisi sayuran,
dan kembali lagi ke tempatnya untuk mengambil roti tutupnya.
Kan, seru bagi anak, karena ia moving ke sana-kemari."
Bisa
juga dengan menyanyikan lagu, "Mari berjalan-jalan,
oi, oi, oi, buat lingkaran... dua!" Nah, pada saat
disebutkan angka 2, anak harus mencari partner masing-masing
dan membentuk lingkaran.Begitu seterusnya. "Dengan
permainan ini, selain fun, anak juga diajar berhitung,"
terang Hughes.
Sedangkan
permainan akhir yang berupa individual bisa dengan cara
tebak-tebakan, entah menebak lagu atau suara. Perdengarkan
beberapa suara seperti suara ambulans, tokek, deru mobil,
pesawat, dan sebagainya. Yang menebak dengan benar akan
diberi hadiah. Atau, dengan permainan topi yang diisi serpihan
kertas dan ada hadiahnya. Lantas anak-anak diajak bernyanyi.
Selama bernyanyi, topi tersebut berpindah dari satu kepala
ke kepala lain. Pas lagu berhenti/selesai, kita lihat topi
tersebut ada di kepala siapa. Nah, anak yang ketiban topi
harus memakai topi itu sehingga serpihan kertasnya berhamburan
di bajunya. Setelah itu kita suruh si anak untuk melihat,
ada hadiahnya tidak.
Lainnya
ialah permainan menyebutkan nama-nama buah. Misalnya, anak
diminta menyebutkan buah yang berwarna kuning. Jawabannya,
kan, bisa bermacam-macam seperti jeruk, nanas, mangga, atau
pepaya. Nah, anak yang bisa menyebutkan dengan benar akan
diberi hadiah.
Jadi,
tukas Hughes, acara pembagian hadiahnya dilakukan dengan
permainan. Mengenai jumlah hadiah yang diberikan, tergantung
keroyalan orang tua dari anak yang berulang tahun. "Kalau
mereka menyediakan banyak hadiah, maka pada setiap permainan
bisa diberikan hadiah. Bila tidak, minimal satu hadiah harus
ada agar seru." Bila hadiahnya banyak, maka pemberiannya
diatur sedemikian rupa sehingga merata diterima ke seluruh
anak. Yang sudah mendapat hadiah tak perlu mendapat hadiah
lagi.
Indah
|
|
Bila Anak Ogah Bergabung
Kadang,
ada anak yang belagu dan tak mau bergabung melakukan permainan
apapun karena merasa teman-temannya tak selevel. Saran Hughes,
cari tahu apa potensinya. "Jangan-jangan ia ingin menunjukkan
kelebihannya. Nah, berilah ia kesempatan untuk itu, memintanya
nyanyi, main piano, atau memimpin permainan." Dengan
demikian ia akan merasa dihargai eksistensinya dan biasanya
akan melumerkan keangkuhannya. Lama-lama ia pun akan mau
bergabung juga dengan anak lain.
Indah
|
|