Khasanah 053/1 : Jangan Sembarang Memestakan Ulang Tahun
Khasanah 053/2 : Pengalaman Para Selebritis
Khasanah 053/3 : Aneka Pesta Anak
Khasanah 053/4 : Merancang Pesta Agar Fun Dan Seru
Khasanah 053/5 : Menyiapkan Anak Ke Pesta Ulang Tahun
Khasanah 053/6 : Hadiah Buat Yang Berulang Tahun
Khasanah 053/7 : Party Time Studio, Di Balik Sukses Pesta Anak


SAKING SENANGNYA, ANAK-ANAK TAK BISA TIDUR

Andri Sentanu, Ibu dari Andrashmara (5) dan Andhari (3)

"Merayakan ulang tahun anak sudah jadi tradisi di keluarga kami. Dulu orang tua saya juga begitu. Ulang tahun, kan, bisa dijadikan sarana untuk menanamkan tentang kebahagiaan hidup yang bisa diperoleh dari hal-hal sederhana.

Memang, dalam kehidupan sehari-hari saya sudah menanamkan rasa bersyukur. Mereka bisa bangun tidur, sarapan pagi, sekolah, bermain, sampai kemudian tidur lagi. Itu merupakan karunia Tuhan. Tapi yang namanya ulang tahun, kan, tetap istimewa. Apalagi buat anak-anak saya karena pada saat itu mereka boleh minta sesuatu yang sangat diinginkan. Soalnya, saya tak selalu mengabulkan setiap keinginan mereka pada hari-hari biasa, terutama bila anak meminta mainan yang harganya mahal, misalnya. Jadi, mereka belajar untuk tetap bersyukur dengan apa yang sudah mereka punyai.

Tentunya tak mudah untuk memberikan pengertian kepada mereka. Namanya juga masih balita. Tapi selalu saya katakan, "Ibu belum mampu beli, nanti kalau kamu ulang tahun baru Ibu berikan." Lama-lama mereka akhirnya mengerti dan karena itulah mereka senang dengan hari istimewanya. Dibuatkan pesta oleh orang tua sudah merupakan suatu kebahagiaan, lo. Malah kadang anak saya suka bilang, "Kok, Ibu beri aku hadiah lagi? Kan, aku sudah diulangtahunin."

Lewat pesta ulang tahun, saya juga bisa mengajari anak-anak untuk menghargai orang lain. Misalnya, selalu mengucapkan terima kasih kepada setiap yang datang. Saya katakan, mungkin saja para tamu sudah mengorbankan hari liburnya, waktu tidurnya atau acara kesukaannya. Apalagi jika mereka pun memberikan kado, berarti sudah mengorbankan sebagian uang untuk kebahagiaan mereka. Dengan begitu, saya berharap anak-anak bisa menghargai pemberian orang lain, minimal menjaga baik-baik barang yang telah diberikan kepadanya. Saat membuka kado-kado pun, saya minta anak-anak untuk menyimpan kartu-kartu ucapan yang diberikan.

Kalau buat anak-anak saya, sih, acara ulang tahun selalu ditunggu. Malah kadang mereka sampai tak bisa tidur beberapa hari sebelumnya. Mungkin saking senang. Yang membuat saya terharu justru sesudah pesta berakhir, anak-anak selalu bilang, "Terima kasih, ya, Ma-Pa, saya sudah dipestain."

Untuk menyiapkan pesta, saya perlu waktu sekitar 2 sampai 6 bulan karena dananya, kan, enggak sedikit. Jadi, saya harus menyiapkannya sejak jauh-jauh hari. Selain itu, saya, kan, juga perlu memikirkan goody bag yang cocok dengan dana terbatas. Tak jarang saya survei pasar dulu.

Persiapan lainnya, ya, membuat daftar undangan. Biasanya undangan ditujukan buat tetangga, teman dekat anak dan orang tua, kerabat; dari kakek-nenek, om-tante sampai keponakan dan sepupu. Teman dekat orang tua juga perlu diundang, lo, agar anak bisa saling mengenal atau bersosialisasi dengan lingkungan orang tuanya.

Tentunya, saya juga melibatkan anak-anak; dari memilih kostum, tempat, undangan, sampai acara. Soal kostum, misalnya, saya tinggal mengarahkan. Kadang saya enggak setuju dengan pilihan anak-anak, tapi karena ini pestanya anak, jadi, ya, terserah.

Begitu juga soal tempat. Anak-anak maunya pesta di rumah. Walaupun jadi repot, ya, enggak apa-apa. Mungkin karena hari itu rumah dihias sedemikian rupa, berbeda dari biasanya, sehingga mereka jadi lebih senang pesta di rumah. Apalagi, mereka juga akan menjadi tuan rumah di pestanya sendiri, tak seperti kalau pesta di luar semisal di restoran dimana yang berulang tahun harus datang ke tempat tersebut. Belum lagi waktunya yang terbatas. Iya, kan!"

Dedeh Kurniasih.Foto:Dok.Pribadi


MENGUNDANG ANAK-ANAK PANTI ASUHAN

Itang Yunasz, ayah dari Mohammad Daffa (1,4 tahun)

Tak ada perayaan besar-besaran saat si kecil Mohammad Daffa berulang tahun yang pertama, 20 Desember 1999. Itang hanya mengundang keluarga dekat dan anak-anak dari panti asuhan. Acara berlangsung dengan doa sebagai rasa syukur dan makan bersama. "Kebetulan tanggal lahir saya dan kakeknya Daffa juga sama-sama bulan Desember. Jadi, sekalian."

Soal biaya, menurut Itang, yang terbesar cuma buat memberi anak-anak yatim tadi. Makanannya "disumbang" keluarga besar, "ada yang dari kakak saya, ibu mertua, ibu saya. Jadi, kita nggak menyiapkan yang macam-macam."

Itang memang berusaha menanamkan sedikit keprihatinan kepada Daffa. "Mungkin ia belum tahu, tapi semoga ia sudah bisa merasakan. Kelak, jika ia sudah besar, ia bisa lihat fotonya saat berulang tahun bersama anak-anak yatim."

Ulang tahun anak, bagi Itang, selain berkah karena usia bertambah, juga sebagai sarana mendidik anak. "Saat ulang tahun merupakan kesempatan menanamkan nilai-nilai pada anak. Ia harus mengucapkan syukur karena kehidupan ini semuanya datang dari Yang Di Atas."

Daffa sendiri, menurut Itang, sangat menikmati ulang tahun pertamanya. Dengan kostum sarung, baju koko, dan kopiah, ia "berlarian" ke sana-ke mari, tertawa-tawa. "Kebetulan, pas ulang tahun itu ia bisa jalan sendiri tanpa tertatih-tatih."

Itang mengaku selalu berpikir jauh ke depan. "Saya berusaha selalu menyiapkan segalanya supaya menjadi yang terbaik, termasuk dalam mendidik anak," akunya. Pengalaman hidup juga membuat Itang bisa memilah-milah, mana yang terbaik dan tidak. "Niat saya memang ingin menciptakan keluarga sakinah."

Tapi tentu tak cuma saat ulang tahun Itang mengajari jagoan kecilnya. Dalam kehidupan sehari-hari pun ia berusaha untuk memberi yang terbaik bagi anaknya. Misalnya, saat ia mengajak Daffa jalan-jalan dan melihat orang yang tak bisa jalan, "Saya jelaskan, 'Tuh, orang pincang saja bisa hidup dan masih mau kerja keras. Nah, kamu yang sehat harusnya bisa lebih.' Mungkin ia belum tahu, tapi saya tetap saja ngoceh."

Itang mengaku tak terpikir untuk sekali waktu kelak mengadakan pesta ulang tahun besar-besaran bagi si kecil. "Saya pikir lebih baik biaya pesta digunakan untuk biaya pendidikannya kelak. Misalnya, menyiapkan asuransi. Lagipula, toh, kalau kita datang ke ulang tahun, pulang-pulang cuma bilang, 'Eh, makanannya enak, ya, tamu-tamunya seru, ya.' Usai itu, akan hilang. Ya, kan?"

Hasto Prianggoro.Foto:Rohedi/nakita



PESTANYA DOBEL


Jeremy Thomas, ayah dari Matthew (3) dan Valerie (1)

"Saya memestakan ulang tahun lebih untuk melihat perkembangan mereka, oh, anakku sudah berumur satu tahun sekarang. Selain itu juga untuk lucu-lucuan. Waktu ulang tahun Matthew, misalnya. Dia, kan jadi ketemu teman-temannya. Kalau anak-anak sudah ketemu kelihatan menyenangkan, lo. Sekalian mereka belajar bersosialisasi.

Biasanya saya dan Ina (sang istri, Red.) butuh waktu sebulan untuk menyiapkannya; dari tempat sampai undangan. Tapi untuk ulang tahun Valerie nanti serba mendadak, nih. Bahkan, tempat pun belum ditentukan. Yang penting, kata Ina, tempat tersebut layak untuk anak-anak. Misalnya, tak terlalu gelap atau terlalu banyak asap rokok. Tapi karena sekarang saya lagi sibuk-sibuknya, jadi saya percayakan sepenuhnya urusan pesta kepada Ina. Saya kebagian mengeluarkan dananya saja, deh.

Tamu-tamu yang diundang biasanya cuma teman-teman anak dan teman-teman saya serta Ina yang punya anak seusia anak kami. Jadi, di pestanya anak saya sekaligus bisa menambah teman.

Kecuali pesta, saya juga selalu merayakan secara khusus ulang tahun anak di tempat-tempat seperti panti asuhan. Biasanya sehari sebelum ulang tahun, kami sekeluarga mengunjungi dan membuat acara di panti asuhan yang sudah dipilih sebelumnya. Toh, saya sudah menyiapkan dana tertentu yang memang akan dikeluarkan. Jadi, kenapa tak dinikmati oleh golongan lain juga. Yang ulang tahun juga senang, kok. Saya bisa merasakan kebahagiaan Matthew ketika ia bermain dan makan bersama anak-anak di sebuah panti asuhan waktu ulang tahun pertamanya. Lalu di ulang tahunnya yang kedua dan bertepatan dengan bulan puasa, kami mengajak Mathhew buka bersama di Calincing bersama anak-anak kurang mampu.

Kami memang sengaja merayakannya demikian agar Matthew bisa mengetahui manusia itu berasal dari berbagai golongan namun saya tak ingin anak saya membeda-bedakannya. Memang dia belum mengerti betul sekarang. Mudah-mudahan itu bisa tertanam terus sampai dia besar."

Faras Handayani.Foto:Rohedi/nakita


 

REZEKI ORANG TUA, REZEKI ANAK

Astri Ivo, Ibu dari Kevin Arighi (6), Adrio Faressi (3), Ridho Devara (17 bulan)

.

Hampir tiap tahun, Astri selalu merayakan ulang tahun anak-anaknya. Alasannya, merayakan ultah anak merupakan salah satu wujud kasih sayang orang tua terhadap anak. Perayaannya bisa di panti asuhan, di restoran, atau di kelas. "Kami pernah merayakan ulang tahun ketiga Kevin di hotel. Ya, karena saat itu kami punya rezeki lebih. Rezeki orang tua kan, rezeki anak juga."

Memang, aku Astri, anak usia setahun belum mengerti makna ultah itu sendiri, "tapi saya ingin anak-anak saya punya pengalaman dan kenangan saat besar nanti." Astri berkaca dari pengalaman pribadinya. "Setiap kali melihat foto-foto ultah usia balita dulu, saya suka terharu. Ibu saya selalu memestakan ultah anak-anaknya. Biar single parent, ibu selalu memperhatikan anak-anaknya. Saya ingin anak saya pun punya kenangan yang sama di masa kecilnya."

Selain itu, ujar Astri, pada masa balita inilah anak masih "lucu" untuk dipestakan. "Kalau ia sudah agak besar, seperti Kevin sekarang, ia sudah tak mau lagi dipestakan. Malu, katanya. Ia malah minta cukup mentraktir teman-teman dekatnya saja dan jatah uang pesta ditabungnya."

Dalam menyiapkan pesta ultah anak-anaknya, Astri tak melulu harus memakai party organizer. "Acaranya saya sendiri yang merancang. Jadi, saya tinggal sewa badut, keyboard, atau operetnya saja." Memang, akunya, agak repot kalau model comot sana-comot sini seperti itu. "Pernah terjadi, saat tamu-tamu undangan sudah datang, eh, keyboard-nya terlambat datang. Padahal keyboard, kan, sangat vital peranannya. Pesta tanpa musik, mana seru, kan? Wah, sempat dag-dig-dug, lo." Walau begitu, Astri selalu fun di setiap acara ultah anak-anaknya. "Kita, kan, tujuannya untuk menyenangkan anak. Nah, kalau mereka bisa fun, kita pun ikut senang."

Kerepotan lain, terang Astri, biasanya terjadi sesudah acara usai karena pasti ada saja ceceran yang menempel di kursi atau di tempat lain. "Yang paling praktis memang menyelenggarakan di restoran yang menyediakan sarana ulang tahun anak. Dari dekorasi, MC sampai games, mereka yang mengurus. Orang tua tinggal menyediakan bingkisan saja untuk para pemenang games."

Toh, soal pemilihan tempat, Astri menyerahkan sepenuhnya pada yang akan berultah. Adrio,misalnya, pernah merayakan ultahnya di "sekolah". "Memang maunya begitu. Mungkin karena banyak teman-temannya yang merayakan di 'sekolah'."

Begitupun tema pesta, Astri selalu membicarakan lebih dulu dengan anak-anak. "Umumnya, sih, bertema tokoh kartun, tergantung apa yang lagi trend
saat itu." Bahkan, dalam berbelanja kebutuhan pesta pun, Astri selalu melibatkan mereka; dari memilih kartu undangan sampai baju pesta. "Justru disitu fun-nya."Lantas
, siapa yang diundang? "Cukup keluarga dan teman-teman anak saja."

Indah Mulatsih.Foto:Rohedi/nakita


 

JOSHUA SUHERMAN


Tahun lalu, ulang tahunmu meriah sekali, ya, Jo? Gimana rasanya?
Senang, banyak yang datang. Kata Om Helmi (Helmi Yahya, Red.) pestaku ini
pesta laut. Aku pakai baju nakhoda, ruangannya dikasih hiasan-hiasan kayak di laut. Om Helmi yang ngatur pesta sama Papa-Mama. Mama yang milihin baju yang aku pakai.

Siapa saja teman yang diundang?
Teman-temanku di sekolah dan di kompleks. Waktu itu ada juga anak-anak dari panti asuhan.

Kok, dari panti asuhan?
Iya, Mama yang ngundang. Kata Mama, setiap ulang tahun, harus ngundang mereka.

Ngapain aja sih, Jo kalau lagi pesta ulang tahun?
Aku, ya, biasanya nyanyi, terus potong kue. Makan-makan juga. Tapi yang kemarin, aku nggak makan. Aku asyik main sama teman-teman sekolah. Sampai di rumah aku laper. Ternyata aku belum makan. Terus aku dibeliin hamburger sama Papa. Jadi, pas pesta masih kenyang.

Tapi, tetap seneng, kan, dapat hadiah banyak. Siapa yang ngasih hadiah paling gede?
Aku dapat tape yang buat musik, besar sekali. Mereknya apa ya...? Aku dapat dari Oom..., waduh, aku juga lupa namanya. Pokoknya, hadiahnya besar sekali. Kata Papa, buat dengerin musik di kamar.

Kalau dari Papa-Mama?
Nggak ngasih hadiah apa-apa. Eh, kasih ding, mainan. Apa, ya, kayak robot-robotan gitu.

Kalau ulang tahun, siapa yang pertama ngucapin selamat?
Ya, Papa-Mama. Tapi ulang tahun kemarin, yang ngucapin Jose. Soalnya aku sama dia sekamar. Waktu aku bangun, terus diucapin.

Jo, setiap kamu ulang tahun selalu dirayakan, ya?
Aku suka minta, tapi pernah juga enggak dirayain. Umur berapa, ya? Pa... Papa...! (Joshua memanggil ayahnya, Jedi Suherman, yang berdiri tak jauh dari tempat kami wawancara.) Aku, kan pernah, ya, ulang tahun enggak pesta? (Ayahnya menggangguk, "Memang tak kami biasakan. Pernah juga kami hanya makan-makan sekeluarga di rumah, ibunya yang bikin tart. Ini saja, baru tiga tahun belakangan dibuat pesta. Dua tahun lalu di Kelapa Gading Sport Club. Tahun lalu di Hotel Mulia, agak lebih meriah karena Jo sekalian meluncurkan buku ceritanya. Tahun ini rencananya tak ada pesta. Biar anak-anak mengertilah, ulang tahun enggak selalu pesta. Setiap pesta, kami selalu mengundang anak-anak dari panti asuhan, biar mereka ikut berpesta.")

Apa arti ulang tahun buat kamu, Jo?
Panjang umur, eh, tambah umur. Kalau ulang tahun, aku selalu dibilangin Mama, enggak boleh tambah nakal.


Santi Hartono.Foto:Iman Dharma/nakita