|
|
|
SAKING SENANGNYA, ANAK-ANAK TAK BISA TIDUR
Andri
Sentanu, Ibu dari Andrashmara (5) dan Andhari (3)
"Merayakan
ulang tahun anak sudah jadi tradisi di keluarga kami. Dulu orang
tua saya juga begitu. Ulang tahun, kan, bisa dijadikan sarana untuk
menanamkan tentang kebahagiaan hidup yang bisa diperoleh dari hal-hal
sederhana.
Memang,
dalam kehidupan sehari-hari saya sudah menanamkan rasa bersyukur.
Mereka bisa bangun tidur, sarapan pagi, sekolah, bermain, sampai
kemudian tidur lagi. Itu merupakan karunia Tuhan. Tapi yang namanya
ulang tahun, kan, tetap istimewa. Apalagi buat anak-anak saya karena
pada saat itu mereka boleh minta sesuatu yang sangat diinginkan.
Soalnya, saya tak selalu mengabulkan setiap keinginan mereka pada
hari-hari biasa, terutama bila anak meminta mainan yang harganya
mahal, misalnya. Jadi, mereka belajar untuk tetap bersyukur dengan
apa yang sudah mereka punyai.
Tentunya
tak mudah untuk memberikan pengertian kepada mereka. Namanya juga
masih balita. Tapi selalu saya katakan, "Ibu belum mampu beli,
nanti kalau kamu ulang tahun baru Ibu berikan." Lama-lama mereka
akhirnya mengerti dan karena itulah mereka senang dengan hari istimewanya.
Dibuatkan pesta oleh orang tua sudah merupakan suatu kebahagiaan,
lo. Malah kadang anak saya suka bilang, "Kok, Ibu beri aku
hadiah lagi? Kan, aku sudah diulangtahunin."
Lewat
pesta ulang tahun, saya juga bisa mengajari anak-anak untuk menghargai
orang lain. Misalnya, selalu mengucapkan terima kasih kepada setiap
yang datang. Saya katakan, mungkin saja para tamu sudah mengorbankan
hari liburnya, waktu tidurnya atau acara kesukaannya. Apalagi jika
mereka pun memberikan kado, berarti sudah mengorbankan sebagian
uang untuk kebahagiaan mereka. Dengan begitu, saya berharap anak-anak
bisa menghargai pemberian orang lain, minimal menjaga baik-baik
barang yang telah diberikan kepadanya. Saat membuka kado-kado pun,
saya minta anak-anak untuk menyimpan kartu-kartu ucapan yang diberikan.
Kalau
buat anak-anak saya, sih, acara ulang tahun selalu ditunggu. Malah
kadang mereka sampai tak bisa tidur beberapa hari sebelumnya. Mungkin
saking senang. Yang membuat saya terharu justru sesudah pesta berakhir,
anak-anak selalu bilang, "Terima kasih, ya, Ma-Pa, saya sudah
dipestain."
Untuk
menyiapkan pesta, saya perlu waktu sekitar 2 sampai 6 bulan karena
dananya, kan, enggak sedikit. Jadi, saya harus menyiapkannya sejak
jauh-jauh hari. Selain itu, saya, kan, juga perlu memikirkan goody
bag yang cocok dengan dana terbatas. Tak jarang saya survei
pasar dulu.
Persiapan
lainnya, ya, membuat daftar undangan. Biasanya undangan ditujukan
buat tetangga, teman dekat anak dan orang tua, kerabat; dari kakek-nenek,
om-tante sampai keponakan dan sepupu. Teman dekat orang tua juga
perlu diundang, lo, agar anak bisa saling mengenal atau bersosialisasi
dengan lingkungan orang tuanya.
Tentunya,
saya juga melibatkan anak-anak; dari memilih kostum, tempat, undangan,
sampai acara. Soal kostum, misalnya, saya tinggal mengarahkan. Kadang
saya enggak setuju dengan pilihan anak-anak, tapi karena ini pestanya
anak, jadi, ya, terserah.
Begitu
juga soal tempat. Anak-anak maunya pesta di rumah. Walaupun jadi
repot, ya, enggak apa-apa. Mungkin karena hari itu rumah dihias
sedemikian rupa, berbeda dari biasanya, sehingga mereka jadi lebih
senang pesta di rumah. Apalagi, mereka juga akan menjadi tuan rumah
di pestanya sendiri, tak seperti kalau pesta di luar semisal di
restoran dimana yang berulang tahun harus datang ke tempat tersebut.
Belum lagi waktunya yang terbatas. Iya, kan!"
Dedeh
Kurniasih.Foto:Dok.Pribadi
|
|
MENGUNDANG ANAK-ANAK PANTI ASUHAN
Itang
Yunasz, ayah dari Mohammad Daffa (1,4 tahun)
Tak ada perayaan besar-besaran saat si kecil Mohammad Daffa
berulang tahun yang pertama, 20 Desember 1999. Itang hanya
mengundang keluarga dekat dan anak-anak dari panti asuhan.
Acara berlangsung dengan doa sebagai rasa syukur dan makan
bersama. "Kebetulan tanggal lahir saya dan kakeknya
Daffa juga sama-sama bulan Desember. Jadi, sekalian."
Soal
biaya, menurut Itang, yang terbesar cuma buat memberi anak-anak
yatim tadi. Makanannya "disumbang" keluarga besar,
"ada yang dari kakak saya, ibu mertua, ibu saya. Jadi,
kita nggak menyiapkan yang macam-macam."
Itang
memang berusaha menanamkan sedikit keprihatinan kepada Daffa.
"Mungkin ia belum tahu, tapi semoga ia sudah bisa merasakan.
Kelak, jika ia sudah besar, ia bisa lihat fotonya saat berulang
tahun bersama anak-anak yatim."
Ulang
tahun anak, bagi Itang, selain berkah karena usia bertambah,
juga sebagai sarana mendidik anak. "Saat ulang tahun
merupakan kesempatan menanamkan nilai-nilai pada anak. Ia
harus mengucapkan syukur karena kehidupan ini semuanya datang
dari Yang Di Atas."
Daffa
sendiri, menurut Itang, sangat menikmati ulang tahun pertamanya.
Dengan kostum sarung, baju koko, dan kopiah, ia "berlarian"
ke sana-ke mari, tertawa-tawa. "Kebetulan, pas ulang
tahun itu ia bisa jalan sendiri tanpa tertatih-tatih."
Itang
mengaku selalu berpikir jauh ke depan. "Saya berusaha
selalu menyiapkan segalanya supaya menjadi yang terbaik,
termasuk dalam mendidik anak," akunya. Pengalaman hidup
juga membuat Itang bisa memilah-milah, mana yang terbaik
dan tidak. "Niat saya memang ingin menciptakan keluarga
sakinah."
Tapi
tentu tak cuma saat ulang tahun Itang mengajari jagoan kecilnya.
Dalam kehidupan sehari-hari pun ia berusaha untuk memberi
yang terbaik bagi anaknya. Misalnya, saat ia mengajak Daffa
jalan-jalan dan melihat orang yang tak bisa jalan, "Saya
jelaskan, 'Tuh, orang pincang saja bisa hidup dan masih
mau kerja keras. Nah, kamu yang sehat harusnya bisa lebih.'
Mungkin ia belum tahu, tapi saya tetap saja ngoceh."
Itang
mengaku tak terpikir untuk sekali waktu kelak mengadakan
pesta ulang tahun besar-besaran bagi si kecil. "Saya
pikir lebih baik biaya pesta digunakan untuk biaya pendidikannya
kelak. Misalnya, menyiapkan asuransi. Lagipula, toh, kalau
kita datang ke ulang tahun, pulang-pulang cuma bilang, 'Eh,
makanannya enak, ya, tamu-tamunya seru, ya.' Usai itu, akan
hilang. Ya, kan?"
Hasto
Prianggoro.Foto:Rohedi/nakita
|
|
PESTANYA DOBEL
Jeremy
Thomas, ayah dari Matthew (3) dan Valerie (1)
"Saya memestakan ulang tahun lebih untuk melihat perkembangan
mereka, oh, anakku sudah berumur satu tahun sekarang. Selain
itu juga untuk lucu-lucuan. Waktu ulang tahun Matthew, misalnya.
Dia, kan jadi ketemu teman-temannya. Kalau anak-anak sudah
ketemu kelihatan menyenangkan, lo. Sekalian mereka belajar
bersosialisasi.
Biasanya
saya dan Ina (sang istri, Red.) butuh waktu sebulan untuk
menyiapkannya; dari tempat sampai undangan. Tapi untuk ulang
tahun Valerie nanti serba mendadak, nih. Bahkan, tempat
pun belum ditentukan. Yang penting, kata Ina, tempat tersebut
layak untuk anak-anak. Misalnya, tak terlalu gelap atau
terlalu banyak asap rokok. Tapi karena sekarang saya lagi
sibuk-sibuknya, jadi saya percayakan sepenuhnya urusan pesta
kepada Ina. Saya kebagian mengeluarkan dananya saja, deh.
Tamu-tamu
yang diundang biasanya cuma teman-teman anak dan teman-teman
saya serta Ina yang punya anak seusia anak kami. Jadi, di
pestanya anak saya sekaligus bisa menambah teman.
Kecuali
pesta, saya juga selalu merayakan secara khusus ulang tahun
anak di tempat-tempat seperti panti asuhan. Biasanya sehari
sebelum ulang tahun, kami sekeluarga mengunjungi dan membuat
acara di panti asuhan yang sudah dipilih sebelumnya. Toh,
saya sudah menyiapkan dana tertentu yang memang akan dikeluarkan.
Jadi, kenapa tak dinikmati oleh golongan lain juga. Yang
ulang tahun juga senang, kok. Saya bisa merasakan kebahagiaan
Matthew ketika ia bermain dan makan bersama anak-anak di
sebuah panti asuhan waktu ulang tahun pertamanya. Lalu di
ulang tahunnya yang kedua dan bertepatan dengan bulan puasa,
kami mengajak Mathhew buka bersama di Calincing bersama
anak-anak kurang mampu.
Kami
memang sengaja merayakannya demikian agar Matthew bisa mengetahui
manusia itu berasal dari berbagai golongan namun saya tak
ingin anak saya membeda-bedakannya. Memang dia belum mengerti
betul sekarang. Mudah-mudahan itu bisa tertanam terus sampai
dia besar."
Faras
Handayani.Foto:Rohedi/nakita
|
|
REZEKI
ORANG TUA, REZEKI ANAK
Astri
Ivo, Ibu dari Kevin Arighi (6), Adrio Faressi (3), Ridho
Devara (17 bulan)
.
Hampir
tiap tahun, Astri selalu merayakan ulang tahun anak-anaknya.
Alasannya, merayakan ultah anak merupakan salah satu wujud
kasih sayang orang tua terhadap anak. Perayaannya bisa di
panti asuhan, di restoran, atau di kelas. "Kami pernah
merayakan ulang tahun ketiga Kevin di hotel. Ya, karena
saat itu kami punya rezeki lebih. Rezeki orang tua kan,
rezeki anak juga."
Memang,
aku Astri, anak usia setahun belum mengerti makna ultah
itu sendiri, "tapi saya ingin anak-anak saya punya
pengalaman dan kenangan saat besar nanti." Astri berkaca
dari pengalaman pribadinya. "Setiap kali melihat foto-foto
ultah usia balita dulu, saya suka terharu. Ibu saya selalu
memestakan ultah anak-anaknya. Biar single parent,
ibu selalu memperhatikan anak-anaknya. Saya ingin anak saya
pun punya kenangan yang sama di masa kecilnya."
Selain
itu, ujar Astri, pada masa balita inilah anak masih "lucu"
untuk dipestakan. "Kalau ia sudah agak besar, seperti
Kevin sekarang, ia sudah tak mau lagi dipestakan. Malu,
katanya. Ia malah minta cukup mentraktir teman-teman dekatnya
saja dan jatah uang pesta ditabungnya."
Dalam
menyiapkan pesta ultah anak-anaknya, Astri tak melulu harus
memakai party organizer. "Acaranya saya sendiri
yang merancang. Jadi, saya tinggal sewa badut, keyboard,
atau operetnya saja." Memang, akunya, agak repot kalau
model comot sana-comot sini seperti itu. "Pernah terjadi,
saat tamu-tamu undangan sudah datang, eh, keyboard-nya
terlambat datang. Padahal keyboard, kan, sangat vital
peranannya. Pesta tanpa musik, mana seru, kan? Wah, sempat
dag-dig-dug, lo." Walau begitu, Astri selalu fun di
setiap acara ultah anak-anaknya. "Kita, kan, tujuannya
untuk menyenangkan anak. Nah, kalau mereka bisa fun, kita
pun ikut senang."
Kerepotan
lain, terang Astri, biasanya terjadi sesudah acara usai
karena pasti ada saja ceceran yang menempel di kursi atau
di tempat lain. "Yang paling praktis memang menyelenggarakan
di restoran yang menyediakan sarana ulang tahun anak. Dari
dekorasi, MC sampai games, mereka yang mengurus. Orang tua
tinggal menyediakan bingkisan saja untuk para pemenang games."
Toh,
soal pemilihan tempat, Astri menyerahkan sepenuhnya pada
yang akan berultah. Adrio,misalnya, pernah merayakan ultahnya
di "sekolah". "Memang maunya begitu. Mungkin
karena banyak teman-temannya yang merayakan di 'sekolah'."
Begitupun
tema pesta, Astri selalu membicarakan lebih dulu dengan
anak-anak. "Umumnya, sih, bertema tokoh kartun, tergantung
apa yang lagi trend
saat itu." Bahkan, dalam berbelanja kebutuhan pesta
pun, Astri selalu melibatkan mereka; dari memilih kartu
undangan sampai baju pesta. "Justru disitu fun-nya."Lantas,
siapa yang diundang? "Cukup keluarga dan teman-teman
anak saja."
Indah
Mulatsih.Foto:Rohedi/nakita
|
|
JOSHUA
SUHERMAN
Tahun lalu, ulang tahunmu meriah sekali, ya, Jo? Gimana
rasanya?
Senang, banyak yang datang. Kata Om Helmi (Helmi Yahya,
Red.) pestaku ini
pesta laut. Aku pakai baju nakhoda, ruangannya dikasih hiasan-hiasan
kayak di laut. Om Helmi yang ngatur pesta sama Papa-Mama.
Mama yang milihin baju yang aku pakai.
Siapa
saja teman yang diundang?
Teman-temanku di sekolah dan di kompleks. Waktu itu ada
juga anak-anak dari panti asuhan.
Kok,
dari panti asuhan?
Iya, Mama yang ngundang. Kata Mama, setiap ulang tahun,
harus ngundang mereka.
Ngapain
aja sih, Jo kalau lagi pesta ulang tahun?
Aku, ya, biasanya nyanyi, terus potong kue. Makan-makan
juga. Tapi yang kemarin, aku nggak makan. Aku asyik
main sama teman-teman sekolah. Sampai di rumah aku laper.
Ternyata aku belum makan. Terus aku dibeliin hamburger
sama Papa. Jadi, pas pesta masih kenyang.
Tapi,
tetap seneng, kan, dapat hadiah banyak. Siapa yang
ngasih hadiah paling gede?
Aku dapat tape yang buat musik, besar sekali. Mereknya apa
ya...? Aku dapat dari Oom..., waduh, aku juga lupa namanya.
Pokoknya, hadiahnya besar sekali. Kata Papa, buat dengerin
musik di kamar.
Kalau
dari Papa-Mama?
Nggak ngasih hadiah apa-apa. Eh, kasih ding,
mainan. Apa, ya, kayak robot-robotan gitu.
Kalau
ulang tahun, siapa yang pertama ngucapin selamat?
Ya, Papa-Mama. Tapi ulang tahun kemarin, yang ngucapin
Jose. Soalnya aku sama dia sekamar. Waktu aku bangun, terus
diucapin.
Jo,
setiap kamu ulang tahun selalu dirayakan, ya?
Aku suka minta, tapi pernah juga enggak dirayain.
Umur berapa, ya? Pa... Papa...! (Joshua memanggil ayahnya,
Jedi Suherman, yang berdiri tak jauh dari tempat kami wawancara.)
Aku, kan pernah, ya, ulang tahun enggak pesta? (Ayahnya
menggangguk, "Memang tak kami biasakan. Pernah juga
kami hanya makan-makan sekeluarga di rumah, ibunya yang
bikin tart. Ini saja, baru tiga tahun belakangan dibuat
pesta. Dua tahun lalu di Kelapa Gading Sport Club. Tahun
lalu di Hotel Mulia, agak lebih meriah karena Jo sekalian
meluncurkan buku ceritanya. Tahun ini rencananya tak ada
pesta. Biar anak-anak mengertilah, ulang tahun enggak selalu
pesta. Setiap pesta, kami selalu mengundang anak-anak dari
panti asuhan, biar mereka ikut berpesta.")
Apa
arti ulang tahun buat kamu, Jo?
Panjang umur, eh, tambah umur. Kalau ulang tahun, aku selalu
dibilangin Mama, enggak boleh tambah nakal.
Santi Hartono.Foto:Iman Dharma/nakita
|
|
|