Khasanah 053/1 : Jangan Sembarang Memestakan Ulang Tahun
Khasanah 053/2 : Pengalaman Para Selebritis
Khasanah 053/3 : Aneka Pesta Anak
Khasanah 053/4 : Merancang Pesta Agar Fun Dan Seru
Khasanah 053/5 : Menyiapkan Anak Ke Pesta Ulang Tahun
Khasanah 053/6 : Hadiah Buat Yang Berulang Tahun
Khasanah 053/7 : Party Time Studio, Di Balik Sukses Pesta Anak

 

JANGAN SEMBARANGAN MEMESTAKAN ULANG TAHUN ANAK

Bisa-bisa si kecil bukannya senang tapi malah tersiksa atau malah bersikap aji mumpung. Orang tua perlu memahami karakter dan keiinginan anak.

Bila kita amati, orang tua cenderung ingin selalu merayakan ulang tahun anaknya. Entah secara sederhana maupun besar-besaran sampai bikin pesta di hotel berbintang. Maklumlah, ulang tahun adalah hari istimewa. Apalagi, si anak sendiri pun menyukai pesta ulang tahun karena pada hari itu ia menjadi pusat perhatian, sang primadona. Belum lagi ada banyak kue dan kado serta teman-teman.


Namun yang harus disadari, seperti dikatakan Lidia L. Hidajat, MPH, anak usia balita belum mengerti/memahami makna ulang tahun. Apalagi bila usianya baru 1 tahun, "jangankan untuk mengerti makna ulang tahun, menikmati pesta saja ia belum bisa, kok," ujarnya. Malah, si anak lebih banyak terlelap di peraduannya sementara yang pesta adalah orang tuanya.

Tentu sah-sah saja bila orang tua ingin merayakan ulang tahun pertama sang buah hati karena biasanya pesta pertama merupakan wujud rasa bersyukurnya orang tua. "Bukankah waktu melahirkannya susah? Jadi, sebagai ucapan syukur karena anaknya telah lahir dengan selamat dan bisa melewati setahun pertama itu dengan selamat pula," tutur dosen pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta ini.

LEBIH BERMAKNA DI USIA 3-5 TAHUN

Sampai usia 3 tahun, menurut Lidia, anak hanya mengerti bahwa dirinya menjadi pusat perhatian, banyak makanan, boleh makan kue dan es krim sepuasnya, banyak orang yang datang. "Tapi ulang tahun itu apa, ia belum tahu."

Barulah di usia 4-5 tahun, anak mulai bisa memahami kalau ia lahir tanggal sekian. Selain itu, di atas usia 3 tahun ia sudah bisa berteman sehingga bisa merasakan, "Oh, ini hari istimewa karena teman-teman dan saudaraku datang." Ia pun sudah tahu teman-teman dan saudaranya datang karena ada pesta. Jadi, ia sudah mengerti konotasi pesta itu sendiri.

Selain itu, pada anak ada yang disebut episodik memori, yaitu suatu ingatan yang berkesan buat dia. Biasanya mulai terjadi sekitar usia 3 tahunan. Itulah mengapa, kata Lidia, akan lebih bermakna bila pesta ulang tahun terjadi di usia 3-5 tahun daripada di usia 1-2 tahun. "Bagi anak, pesta ulang tahunnya tak sekadar ulang tahun, tapi ada perhatian yang besar padanya. Saat itu ayah-ibunya jadi sibuk, juga kerabat lainnya. Jadi, ada dukungan emosional buat dia."

Namun demikian, makna yang sesungguhnya dari ulang tahun belumlah begitu ia pahami; bahwa Tuhan telah memberinya usia setahun lagi dan untuk itu ia harus mengucap syukur atau terima kasih. "Ulang tahun memang bisa jadi suatu momen yang bagus untuk menambahkan kesadaran pada anak bahwa kamu tiap pagi bisa bangun pagi, bisa ketemu ayah-ibu lagi, bisa melihat matahari lagi sampai ada periode waktu yang namanya satu tahun."

Tentunya, di luar hari ulang tahun pun seyogyanya orang tua tetap mengajari anak untuk selalu mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas kehidupan yang telah diberikan kepadanya. Misalnya, dalam doa setiap pagi sesudah bangun tidur.

SESUAI KARAKTER ANAK

Yang perlu disadari, lanjut Lidia, ungkapan terima kasih di hari ulang tahun tak harus melulu diwujudkan dalam bentuk pesta. Bisa juga dengan memberi sesuatu kepada anak-anak di panti asuhan, misalnya. "Pokoknya, yang memberi makna bahwa hari itu adalah hari istimewa, lain dari biasanya sehingga hari ulang tahun menjadi spesial buat anak."

Jikapun orang tua ingin membuat pesta, saran Lidia, sesuaikanlah dengan karakter anak. Misalnya, pada anak yang pendiam atau tak suka keramaian, "bisa jadi pesta malah merupakan siksaan baginya. Padahal, maksud semula orang tua memestakan ulang tahun anak adalah untuk menyenangkannya." Jadi, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang malah membuat anak tersiksa. Lain halnya jika si anak memang memiliki kebutuhan sosialisasi yang tinggi, tentu akan gembira sekali dipestakan.

Pesta juga menjadi tak bermakna apabila anak sudah terbiasa. Pada anak-anak dari kalangan ekonomi atas, misalnya, tentu mereka sudah sering diajak ayah-ibunya menginap di hotel berbintang, makan di restoran mewah, menghadiri pesta di hotel atau restoran ternama. "Nah, kalau ia sudah terbiasa dengan hal-hal yang demikian, tentunya tak ada lagi yang spesial buatnya. Paling ia hanya berpikiran, 'Oh, kali ini giliran saya,'."

Memang, aku Lidia, bukan tak mungkin anak-anak yang sudah terbiasa dengan kehidupan seperti itu juga memiliki keinginan ulang tahunnya dipestakan besar-besaran. "Asalkan si anak memang menginginkan, ya, enggak apa-apa. Malah ia akan senang karena keinginannya dipestakan dipenuhi dan itu akan bermakna buat dia."

Itulah mengapa, saran Lidia, selain disesuaikan dengan karakter anak, orang tua juga perlu menyesuaikan dengan keinginan anak. Entah itu dipestakan, berkuda di puncak, memiliki sesuatu benda yang sudah lama diidam-idamkan, dan sebagainya. "Atau, kalau kita tahu ia senang menyanyi, misalnya, dan selama ini ia tak punya kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya, nah, mengapa pada hari ulang tahunnya kita tak bikin ia untuk menunjukkan kebolehannya menyanyi di hadapan banyak orang semisal keluarga besar. Walaupun mungkin suaranya tak terlalu bagus, tapi eksistensinya terwujud. Ia akan ingat terus bahwa ia bisa bernyanyi pada ulang tahunnya yang kesekian," tutur Lidia.

Jadi, tuturnya lebih lanjut, akan berbeda maknanya jika pada hari ulang tahunnya orang tua bisa memenuhi satu keinginannya. Terlebih lagi jika keinginan tersebut sangat didambakan selama ini oleh anak. "Ulang tahunnya itu akan kena di hatinya dan akan ia ingat seumur hidupnya. Juga, akan menumbuhkan kesadaran pada anak bahwa orang tuanya sayang kepadanya."

JANGAN SAMPAI AJI MUMPUNG

Yang harus diperhatikan orang tua, sambung Lidia, jangan sampai ulang tahun akhirnya dijadikan aji mumpung oleh anak. Misalnya, anak setiap tahun dipestakan ulang tahun sehingga lantas mengharapkan dan sekaligus memastikan, "Nanti Ade ulang tahun pesta lagi, ya." Atau, anak memanfaatkan kesempatan ulang tahunnya untuk meminta ini-itu karena ia tahu pada hari itu ia menjadi raja dan ia boleh minta apa saja yang diinginkannya.

Bila anak sampai bersikap aji mumpung, maka tujuan orang tua untuk mengajarinya bersyukur jadi tak tercapai. "Ulang tahun akhirnya hanya sekadar ajang tukar kado, menjadi rutinitas biasa, bukan lagi sesuatu yang spesial," kata Lidia.

Untuk mengatasi hal ini, Lidia minta orang tua agar bersikap bijak dalam menentukan apakah ini memang momen yang tepat untuk memestakan anak atau tidak. "Orang tua harus mencari strategi bagaimana caranya agar ulang tahun anak tetap dirayakan namun tak menjadi reward negatif bagi anak." Misalnya, "Bila Kakak enggak pernah rebutan mainan lagi dengan adik, Kakak mau membantu Ibu menjaga Adik, maka di hari ulang tahun Kakak nanti akan Ibu pestakan."

Begitu pula bila anak bersikap aji mumpung di hari ulang tahunnya untuk meminta segala hal yang ia inginkan. Katakan saja, "Bila Ade selalu merapikan mainan setiap habis bermain, maka di hari ulang tahun nanti Ade boleh mengajukan satu permintaan kepada Papa dan Mama."

Dengan kata lain, orang tua bisa menjadikan ulang tahun anak sebagai salah satu bentuk reward atas harapan orang tua pada anak dalam kesehariannya. Manfaatnya jadi ganda, lo. Selain bisa mencegah timbulnya sikap aji mumpung pada anak, juga bisa mendorong anak mengubah perilakunya sesuai dengan yang diharapkan orang tua.

Jadi, Bu-Pak, nggak apa-apa, kok, si kecil dipestakan ulang tahunnya. Yang penting, jangan setiap tahun dan juga harus memperhatikan karakter serta keinginan anak. Niscaya, pesta tersebut akan terasa maknanya oleh anak. Tapi ingat, lo, jangan sampai si kecil bersikap aji mumpung.

Indah Mulatsih.Foto:Dok.Nakita

 

Manfaat Pesta Ulang Tahun


Banyak hal bisa diperoleh dari pesta ulang tahun. Bagi anak yang tak bisa bergaul, misalnya, pesta ulang tahun bisa dijadikan sarana untuk saling berkenalan. "Bukankah hari itu ia dituntut untuk jadi tuan rumah yang baik?" ujar Lidia Hidajat. Nah, pintar-pintarnya orang tua menciptakan permainan yang kira-kira bisa membuat anak saling saling berkenalan. Nanti sesudah ulang tahun kalau ketemu dengan anak-anak yang hadir di pesta ulang tahunnya, ingatkan anak kita, "Itu, lo, Mas, yang datang pada saat Mas ulang tahun, yang ngasih kado buku cerita."

Pesta ulang tahun juga bisa menjadi sarana pembentukan konsep diri dan identitas diri anak. "Anak akan merasa dirinya mempunyai arti karena ia berada di antara orang-orang terdekatnya." Apalagi, hari itu namanya seringkali disebut, baik di kartu undangan, saat tiup lilin, pemotongan kue atau tumpeng, hingga menyanyi yang pertama kali.

Bila si kecil juga dilibatkan dalam persiapan pesta ulang tahunnya, maka akan tumbuh rasa tanggung jawabnya bahwa tak hanya orang lain yang bekerja untuk dirinya sementara dia tinggal nyuruh-nyuruh. Itulah mengapa, Lidia sangat menganjurkan agar anak dilibatkan. Entah dalam memilih hadiah untuk teman-teman yang datang, memasukkan hadiah ke dalam kantong plastik, membuat kartu ucapan terima kasih dengan gambarnya sendiri, dan sebagainya.

Selain itu, "acara" persiapan pesta juga bisa dijadikan ajang untuk mendidik anak. Misalnya, dalam memilih teman yang akan diundang. "Bila ia tipe anak yang suka musuhan dengan anak lain, biasanya, kan, tak mau mengundang musuhnya. Nah, ini satu cara untuk mendamaikan sekaligus mendidiknya untuk belajar memaafkan orang lain," kata Lidia.

Indah