|
JANGAN SEMBARANGAN
MEMESTAKAN ULANG TAHUN ANAK
Bisa-bisa
si kecil bukannya senang tapi malah tersiksa atau malah bersikap
aji mumpung. Orang tua perlu memahami karakter dan keiinginan
anak.
Bila
kita amati, orang tua cenderung ingin selalu merayakan ulang tahun
anaknya. Entah secara sederhana maupun besar-besaran sampai bikin
pesta di hotel berbintang. Maklumlah, ulang tahun adalah hari istimewa.
Apalagi, si anak sendiri pun menyukai pesta ulang tahun karena pada
hari itu ia menjadi pusat perhatian, sang primadona. Belum lagi
ada banyak kue dan kado serta teman-teman.
Namun
yang harus disadari, seperti dikatakan Lidia L. Hidajat, MPH,
anak usia balita belum mengerti/memahami makna ulang tahun. Apalagi
bila usianya baru 1 tahun, "jangankan untuk mengerti makna
ulang tahun, menikmati pesta saja ia belum bisa, kok," ujarnya.
Malah, si anak lebih banyak terlelap di peraduannya sementara yang
pesta adalah orang tuanya.
Tentu
sah-sah saja bila orang tua ingin merayakan ulang tahun pertama
sang buah hati karena biasanya pesta pertama merupakan wujud rasa
bersyukurnya orang tua. "Bukankah waktu melahirkannya susah?
Jadi, sebagai ucapan syukur karena anaknya telah lahir dengan selamat
dan bisa melewati setahun pertama itu dengan selamat pula,"
tutur dosen pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta ini.
LEBIH
BERMAKNA DI USIA 3-5 TAHUN
Sampai
usia 3 tahun, menurut Lidia, anak hanya mengerti bahwa dirinya menjadi
pusat perhatian, banyak makanan, boleh makan kue dan es krim sepuasnya,
banyak orang yang datang. "Tapi ulang tahun itu apa, ia belum
tahu."
Barulah
di usia 4-5 tahun, anak mulai bisa memahami kalau ia lahir tanggal
sekian. Selain itu, di atas usia 3 tahun ia sudah bisa berteman
sehingga bisa merasakan, "Oh, ini hari istimewa karena teman-teman
dan saudaraku datang." Ia pun sudah tahu teman-teman dan saudaranya
datang karena ada pesta. Jadi, ia sudah mengerti konotasi pesta
itu sendiri.
Selain
itu, pada anak ada yang disebut episodik memori, yaitu suatu ingatan
yang berkesan buat dia. Biasanya mulai terjadi sekitar usia 3 tahunan.
Itulah mengapa, kata Lidia, akan lebih bermakna bila pesta ulang
tahun terjadi di usia 3-5 tahun daripada di usia 1-2 tahun. "Bagi
anak, pesta ulang tahunnya tak sekadar ulang tahun, tapi ada perhatian
yang besar padanya. Saat itu ayah-ibunya jadi sibuk, juga kerabat
lainnya. Jadi, ada dukungan emosional buat dia."
Namun
demikian, makna yang sesungguhnya dari ulang tahun belumlah begitu
ia pahami; bahwa Tuhan telah memberinya usia setahun lagi dan untuk
itu ia harus mengucap syukur atau terima kasih. "Ulang tahun
memang bisa jadi suatu momen yang bagus untuk menambahkan kesadaran
pada anak bahwa kamu tiap pagi bisa bangun pagi, bisa ketemu ayah-ibu
lagi, bisa melihat matahari lagi sampai ada periode waktu yang namanya
satu tahun."
Tentunya,
di luar hari ulang tahun pun seyogyanya orang tua tetap mengajari
anak untuk selalu mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas kehidupan
yang telah diberikan kepadanya. Misalnya, dalam doa setiap pagi
sesudah bangun tidur.
SESUAI
KARAKTER ANAK
Yang
perlu disadari, lanjut Lidia, ungkapan terima kasih di hari ulang
tahun tak harus melulu diwujudkan dalam bentuk pesta. Bisa juga
dengan memberi sesuatu kepada anak-anak di panti asuhan, misalnya.
"Pokoknya, yang memberi makna bahwa hari itu adalah hari istimewa,
lain dari biasanya sehingga hari ulang tahun menjadi spesial buat
anak."
Jikapun
orang tua ingin membuat pesta, saran Lidia, sesuaikanlah dengan
karakter anak. Misalnya, pada anak yang pendiam atau tak suka keramaian,
"bisa jadi pesta malah merupakan siksaan baginya. Padahal,
maksud semula orang tua memestakan ulang tahun anak adalah untuk
menyenangkannya." Jadi, jangan sampai kita melakukan sesuatu
yang malah membuat anak tersiksa. Lain halnya jika si anak memang
memiliki kebutuhan sosialisasi yang tinggi, tentu akan gembira sekali
dipestakan.
Pesta
juga menjadi tak bermakna apabila anak sudah terbiasa. Pada anak-anak
dari kalangan ekonomi atas, misalnya, tentu mereka sudah sering
diajak ayah-ibunya menginap di hotel berbintang, makan di restoran
mewah, menghadiri pesta di hotel atau restoran ternama. "Nah,
kalau ia sudah terbiasa dengan hal-hal yang demikian, tentunya tak
ada lagi yang spesial buatnya. Paling ia hanya berpikiran, 'Oh,
kali ini giliran saya,'."
Memang,
aku Lidia, bukan tak mungkin anak-anak yang sudah terbiasa dengan
kehidupan seperti itu juga memiliki keinginan ulang tahunnya dipestakan
besar-besaran. "Asalkan si anak memang menginginkan, ya, enggak
apa-apa. Malah ia akan senang karena keinginannya dipestakan dipenuhi
dan itu akan bermakna buat dia."
Itulah
mengapa, saran Lidia, selain disesuaikan dengan karakter anak, orang
tua juga perlu menyesuaikan dengan keinginan anak. Entah itu dipestakan,
berkuda di puncak, memiliki sesuatu benda yang sudah lama diidam-idamkan,
dan sebagainya. "Atau, kalau kita tahu ia senang menyanyi,
misalnya, dan selama ini ia tak punya kesempatan untuk menunjukkan
kebolehannya, nah, mengapa pada hari ulang tahunnya kita tak bikin
ia untuk menunjukkan kebolehannya menyanyi di hadapan banyak orang
semisal keluarga besar. Walaupun mungkin suaranya tak terlalu bagus,
tapi eksistensinya terwujud. Ia akan ingat terus bahwa ia bisa bernyanyi
pada ulang tahunnya yang kesekian," tutur Lidia.
Jadi,
tuturnya lebih lanjut, akan berbeda maknanya jika pada hari ulang
tahunnya orang tua bisa memenuhi satu keinginannya. Terlebih lagi
jika keinginan tersebut sangat didambakan selama ini oleh anak.
"Ulang tahunnya itu akan kena di hatinya dan akan ia ingat
seumur hidupnya. Juga, akan menumbuhkan kesadaran pada anak bahwa
orang tuanya sayang kepadanya."
JANGAN
SAMPAI AJI MUMPUNG
Yang
harus diperhatikan orang tua, sambung Lidia, jangan sampai ulang
tahun akhirnya dijadikan aji mumpung oleh anak. Misalnya,
anak setiap tahun dipestakan ulang tahun sehingga lantas mengharapkan
dan sekaligus memastikan, "Nanti Ade ulang tahun pesta lagi,
ya." Atau, anak memanfaatkan kesempatan ulang tahunnya untuk
meminta ini-itu karena ia tahu pada hari itu ia menjadi raja dan
ia boleh minta apa saja yang diinginkannya.
Bila
anak sampai bersikap aji mumpung, maka tujuan orang tua untuk
mengajarinya bersyukur jadi tak tercapai. "Ulang tahun akhirnya
hanya sekadar ajang tukar kado, menjadi rutinitas biasa, bukan lagi
sesuatu yang spesial," kata Lidia.
Untuk
mengatasi hal ini, Lidia minta orang tua agar bersikap bijak dalam
menentukan apakah ini memang momen yang tepat untuk memestakan anak
atau tidak. "Orang tua harus mencari strategi bagaimana caranya
agar ulang tahun anak tetap dirayakan namun tak menjadi reward
negatif bagi anak." Misalnya, "Bila Kakak enggak pernah
rebutan mainan lagi dengan adik, Kakak mau membantu Ibu menjaga
Adik, maka di hari ulang tahun Kakak nanti akan Ibu pestakan."
Begitu
pula bila anak bersikap aji mumpung di hari ulang tahunnya
untuk meminta segala hal yang ia inginkan. Katakan saja, "Bila
Ade selalu merapikan mainan setiap habis bermain, maka di hari ulang
tahun nanti Ade boleh mengajukan satu permintaan kepada Papa dan
Mama."
Dengan
kata lain, orang tua bisa menjadikan ulang tahun anak sebagai salah
satu bentuk reward atas harapan orang tua pada anak dalam
kesehariannya. Manfaatnya jadi ganda, lo. Selain bisa mencegah timbulnya
sikap aji mumpung pada anak, juga bisa mendorong anak mengubah
perilakunya sesuai dengan yang diharapkan orang tua.
Jadi,
Bu-Pak, nggak apa-apa, kok, si kecil dipestakan ulang tahunnya.
Yang penting, jangan setiap tahun dan juga harus memperhatikan karakter
serta keinginan anak. Niscaya, pesta tersebut akan terasa maknanya
oleh anak. Tapi ingat, lo, jangan sampai si kecil bersikap aji
mumpung.
Indah
Mulatsih.Foto:Dok.Nakita
|