|
BERAWAL
DARI SURAT-MENYURAT
Pasangan
Hanuardi Sukardi (39) dan Gita Wati Setianingrum (38) selalu
mendorong ketiga anaknya Ramya Hayasizestha Sukardi (8),
Raras Diwyajna Sukardi (7), dan Rafa Paramajna Sukardi (3)
untuk lebih cinta membaca ketimbang nonton
teve.
Gazali
Solahuddin.
Foto: Agus/nakita
|
Semenjak bisa menulis di usia 5 tahun,
Ramya yang waktu itu masih TK mulai keranjingan menuangkan isi hati
dan pengalamannya sehari-hari ke dalam diari. Kesukaannya ini makin
didukung dengan hobi menggambarnya. Semua karakter pada gambarannya
diberi nama lalu ia rangkai menjadi sebuah cerita. Semua ini murni
datang dari Ramya sendiri. Kami tidak pernah memaksanya untuk
menjadi penulis. Hanya memang, suasana di rumah mendukung untuk itu.
Ia selalu didorong untuk lebih mencintai buku ketimbang nonton teve.
Sejak bayi, Ramya selalu kami
bacakan cerita entah itu dari buku atau karangan kami sendiri. Agar
ia familiar dengan tulisan, hampir semua benda yang ada di rumah
kami tempeli kertas yang bertuliskan nama benda tersebut. Tapi kami
tidak pernah mewajibkannya untuk menghafal. Cuma setiap hari sekitar
2 menit, kami membuat kuis untuk Ramya. Ia diminta untuk membaca apa
yang tertulis di sebuah kertas. Biasanya sih tulisannya berkisar
nama keluarga atau benda-benda yang ada di rumah. Ternyata permainan
itu mampu memperkaya kosakatanya.
Kebiasaan itu juga membuat Ramya
begitu cinta buku. Meski ia belum bisa membaca, hampir setiap hari
ia membuka-buka halaman demi halaman buku seolah ia menikmatinya.
Ramya pun tak segan untuk menceritakan isi sebuah buku dengan
kata-kata yang dibuatnya sendiri. Kalau dia sedang bercerita, kami
tidak akan menggodanya. Kalau dia membacakan untuk kami, kami akan
menanggapinya dengan serius dan sesekali bertanya mengenai ceritanya
itu.
|
|
Setelah Ramya bisa menulis, kami
buat sebuah permainan surat-menyurat. Jadi setiap ada yang ingin
disampaikan kepada salah satu anggota keluarga, entah itu perasaan
sebal, marah, memuji, terima kasih, dan kritik bisa disampaikan
lewat surat yang ditujukan langsung kepada yang bersangkutan.
Contoh, saat saya ingin mengkritik
papanya, saya buat surat khusus buat papanya dengan pemaparan yang
panjang lebar. Begitu pun Ramya. Jika ia sebal pada saya, dia akan
curahkan isi hatinya lewat surat. Hingga sekarang kami selalu balas-balasan
surat. Asyiknya dalam permainan ini bagaimanapun perasaan kami;
entah sedang marah, sebal dan lainnya cukup tertuang di surat namun
di kehidupan nyata kami tetap "damai".
Mungkin ini juga yang membuat
kemampuan menulisnya semakin terlatih. Ia semakin banyak menuangkan
ide-idenya dalam cerita. Setiap selesai menulis, Ramya akan meminta
kami untuk membaca dan mendiskusikannya.
|
|
Buku karangan anak sulungku yang
berjudul Petualangan Ramya bisa dibilang bukan hasil
kesengajaan. Awalnya kami hanya ingin membuat sebuah hadiah spesial
bagi Ramya di ulang tahunnya yang kedelapan dengan membukukan semua
hasil karya Ramya. Mulai dari situlah, saya mengkopi semua tulisan
Ramya ke komputer tanpa mengubah susunan kalimat, alur cerita,
ataupun gaya bahasanya. Pokoknya yang saya koreksi itu hanya tanda
baca yang sering kali salah digunakan Ramya.
Setelah menemukan percetakan yang
cocok, kami menyerahkan softcopy tulisan-tulisan Ramya. Nah,
pemilik percetakan tersebut terkesan dengan karya-karya ini. Dia
memberikan saran agar karya Ramya ini diajukan ke penerbit Manca
Anak Indonesia, PT. Kami pun berpikir ah apa salahnya dicoba!
Alhamdulillah penerbit pun tertarik dengan karya Ramya. Setelah itu,
ayahnya punya ide untuk memajangnya di Toko Buku Gramedia.
Ternyata pihak TB Gramedia
menyambut baik dan akhirnya buku kumpulan cerpen Ramya bisa
terpampang di etalase semua toko buku terbesar di Indonesia.
Wah, Ramya senang sekali karena
bukunya bisa terpampang di toko buku dan bisa dibaca banyak orang.
Buktinya dia semakin giat menulis cerita. Katanya supaya bisa punya
buku lagi.
|
|
RAMYA SUKARDI:
CERITA SPESIAL UNTUK nakita
|
"Ceritaku itu bukan dari
pengalaman pribadi atau dari pengalaman orang lain. Semuanya murni
khayalanku alias bisa-bisanya aku mengarang saja. Tapi kalau ide
ceritanya sih ada juga dari pengalaman yang aku temui.
Karena sekarang aku sudah bisa
menulis dan punya buku, sekarang cita-citaku salah satunya adalah
menjadi penulis. Padahal dulu enggak kepikiran. Kenapa jadi penulis,
karena menulis itu enak bisa memberi tahu cerita yang kita punya
pada orang lain. Oh ya, Ramya buatkan cerita spesial untuk Om
nakita, cerita ini baru saja dibuat Ramya. Dibaca, lo..."
|
|