"MAMA JANGAN MENANGIS! HIDUP ITU MESTI SENANG"

Estiwi Nurhayati (29) memiliki dua anak dengan kebutuhan khusus. Mereka adalah Rico Abu Alfiano (8) yang didiagnosa mengalami kelemahan otot kaki dan Sultan Abu Alfiano (3,5) yang dinyatakan hiperaktif. Walau sempat terpuruk menangisi keadaan kedua anaknya, Esti mampu bangkit menjadi ibu yang tegar berkat optimisme yang ditunjukkan si sulung.

Dedeh Kurniasih. Foto: Ferdi/nakita

 

LEMAS DI USIA 8 BULAN

Saat hamil 2 bulan saya sempat terkena cacar air. Namun menurut dokter, kandunganku dapat dilanjutkan walau harus sambil mengonsumsi obat. Sampai akhirnya Rico lahir sehat dan normal dengan berat 2,75 kg dan panjang 49 cm. Ia kususui hingga usianya satu tahun lebih.

Hanya saja, di usia 8 bulan, Rico tampak lemas. Saat belajar berdiri, badannya selalu gemetaran seperti orang ketakutan. Tak tahu apa penyebabnya. Memang di usia itu dia pernah terjatuh dari tempat tidur. Tapi setelah dipijat, dia tampak biasa lagi. Kalau diperhatikan, kedua tangannya juga agak aneh; selalu dalam keadaan menggenggam. Ia baru mau membukanya jika diminta. Saya tidak tahu, itu karena sakit atau kebiasaan. Untuk perkembangan lain, termasuk perkembangan bahasa, Rico tidak mengalami masalah. Di usia 9 bulan, anakku sudah mulai bisa bicara.

 

OTOT KAKI LEMAH

Kondisi Rico tentu membuatku khawatir. Anehnya, setiap kali dokternya bilang, Rico baik-baik saja. Memang pernah ada diagnosa sakit jantung, tapi pemeriksaan lebih lanjut menyatakan negatif. Rico juga sempat diminta menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang. Saya pernah dengar pemeriksaan itu bisa membuat anak lumpuh, jadi saya tidak lakukan. Namun dari pemeriksaan lain, semuanya menyatakan kondisi Rico baik termasuk status gizinya.

Dokter spesialis saraf dan spesialis tulangnya juga menyatakan Rico normal; tak ada masalah dengan tulangnya dan tidak ada indikasi polio. Barulah kemudian diketahui otot kakinya lemah. Untuk menguatkannya, ia diberi vitamin perangsang otot yang harus dikonsumsi hingga sekarang. Hasil scanning otak juga menunjukkan pusat motoriknya mengecil. Tak banyak yang bisa diperbuat untuk itu selain dengan selalu mengonsumsi suplemen otak.

Sejak usia 2 tahun, Rico menjalani terapi motorik. Ketika harus berlatih di atas bola besar, badannya gemetaran dan mengeluarkan keringat dingin, mukanya merah dan ia terus berteriak-teriak. Selama 3 bulan terapi dia bertingkah seperti itu.

Akhirnya karena tidak ada perubahan, di bulan kelima terapi, dokter menyarankan untuk berhenti saja. Saya malah diminta membawa Rico ke psikiater untuk mengonsultasikan soal ketakutan yang dialaminya. Menurut psikiater, Rico memang termasuk anak yang penakut. Untuk itu saya harus selalu membesarkan hatinya dan memberi semangat. Ia pun menyarankan agar kaki Rico diurut tiap hari.

Saya juga mencoba memberikan pengobatan alternatif bagi Rico seperti ramuan dan tusuk jarum. Namun, tetap saja Rico tak mengalami kemajuan dan semua diagnosa ahli yang saya datangi tidak ada yang memuaskan hati.

 

SEMPAT KESAL

Rico lama-lama frustrasi. Setiap belajar rambatan pasti dia marah-marah dan menangis. Ketika ditanya kenapa, dia langsung memukul-mukul kakinya dengan raut wajah kesal. Tapi saya selalu menyemangatinya agar dia mau mencoba dan mencoba lagi. Di usia 3 tahun saat bicaranya mulai lancar dia sering bertanya. "Kenapa sih kakiku kok lemas?" Ia pun sering mengeluh kalau harus berdiri kelamaan karena rasanya sakit.

Di usia 4 tahun, keluhannya lebih sering terdengar. "Kenapa saya enggak bisa jalan. Teman-teman yang lain bisa?" Saya hanya bisa katakan bahwa kakinya lemas jadi harus rajin minum vitamin dan belajar rambatan supaya kakinya tidak kaku. Saking kesalnya, ia malah pernah bilang agar kakinya dibuntungi saja atau dijadikan sop. Saya sedih sekali mendengarnya.

Semakin usianya bertambah, tubuh Rico pun makin gemuk sehingga sulit bagi kami untuk menggendongnya. Untuk itu, kami belikan dia kursi roda. Sewaktu melihat kursi itu pertama kali, dia menjerit-jerit ketakutan dan tak mau menggunakannya.

 

BELAJAR DI RUMAH

Tekad saya satu, kekurangan Rico tak boleh menghambatnya untuk belajar apa pun. Sejak kecil saya ajarkan ia membaca, menulis, bahasa Inggris, dan pengetahuan lainnya. Ketika usia 3,5 tahun dia sudah bisa membaca. Dia juga saya masukkan pengajian di dekat rumah agar tidak kaget dan bisa beradaptasi dengan teman-temannya. Kalau sudah waktunya mengaji, saya akan gendong dia ke tempat pengajian.

Dia sempat minta sekolah. Sayang, tidak ada sekolah yang mau menerima mengingat kekhususan yang dimilikinya. Guru juga menyangsikan apakah Rico- dengan kondisi yang mudah capek- kuat belajar dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang. Saya juga pernah menawarkan Rico untuk masuk sekolah luar biasa. Namun ia menolak dengan alasan takut karena teman-temannya menggunakan kursi roda atau tongkat.

Akhirnya ya sudah, dia tidak saya sekolahkan. Cuma, saya belikan dia buku-buku pelajaran yang sesuai dengan kurikulum sekolah, agar tak ketinggalan pelajaran. Tadinya dia diajar oleh seorang guru les tapi kemudian bosan dan ingin saya yang mengajarnya. Jadi setiap pagi, ia seperti "bersekolah" dengan belajar bersama saya. Malamnya ketika papanya pulang dia akan mengulang kembali pelajaran yang sudah saya ajarkan. Alhamdulillah Rico mau diajari dan bisa mengikuti semua dengan baik.

 

ANAK KEDUA HIPERAKTIF

Ketika Rico berusia 5 tahun, adiknya, Sultan Abu Alfiano lahir. Kehadiran adik membuat Rico berubah. Yang tadinya penakut jadi lebih berani. Yang tadinya selalu pesimis menjadi optimis.

Namun ternyata, anak keduaku juga bermasalah. Ini tampak saat ia berusia 1 tahun 6 bulan. Setiap kali diajak bicara, dia tak pernah mau melakukan kontak mata. Sultan pun tak bisa diam, panjat sana-panjat sini, lari sana-lari sini. Karena ulahnya itu, Sultan pernah hilang tiga kali. Untunglah ada yang mengenalinya dan membawanya kembali ke rumah.

Untuk mengantisipasi agar kejadian tersebut tak terulang, saya sering membawa Sultan berkeliling di sekitar perumahan. Ini dimaksudkan agar tetangga mengenali Sultan sebagai anak saya. Saya pun "menitipkan" Sultan pada mereka. Jadi bila suatu saat melihatnya di suatu tempat, mohon dibawa pulang ke rumah.

Ketika Sultan mulai bisa bicara, ia bicara dengan "bahasa planet". Diagnosa dokter, ia mengalami hiperaktivitas. Untuk itu, Sultan harus menjalani terapi wicara. Kemajuannya cukup banyak. Sultan yang terlambat bicara kini sudah mau diajak bicara meski belum lancar, juga sudah terjadi kontak mata. Kalau ia ingin sesuatu, sudah mau bilang. Bisa duduk diam dan mulai dapat berkonsentrasi.

 

HARUS SELALU SENANG

Terus terang memiliki 2 anak dengan kebutuhan khusus tidaklah mudah. Tapi saya bahagia walau sebelumnya sempat merasa sedih dan menangis harus menerima cobaan ini. Perkataan Rico yang waktu itu berusia 5 tahun membuat saya tersadar, "Mama tidak boleh menangis! Hidup itu mesti senang. Jangan dibawa nangis. Nanti kalau Mama menangis saya jadi ikut menangis."

Di situ saya sadar anak saya tak ingin melihat saya menangis. Akhirnya sampai sekarang saya tidak pernah menangisi keadaan anak-anakku. Saya harus kelihatan kuat di depan mereka. Sejak itu, kami jalani hari demi hari dengan senang hati.

Kini perkembangan Rico semakin membaik, ia sudah bisa jongkok dan duduk dengan baik. Untuk berdiri juga dia bisa walau dengan menggunakan lututnya. Selain itu, ia juga tampak lebih berani. Kemandiriannya juga sudah tampak. Kalau mau keluar rumah tidak lagi minta digendong tapi "pergi" sediri meski dengan mengesot.

Kalau saya tanya kapan Rico bisa jalan? Dia selalu menjawab dengan optimis, "Nanti. Mama tenang aja deh." Keoptimisan itu mungkin datang karena selama ini saya selalu membesarkan hatinya, suatu saat nanti dia bisa berjalan.

Harapan saya sebagai orang tua sebenarnya tidak muluk-muluk; hanya ingin kedua anak saya sehat. Saya selalu berdoa semoga Allah memberikan jalan untuk itu dan memberi kekuatan pada mereka.